01 : Musim hujan akhir tahun

14 9 0
                                        

             Sore itu, hujan mengguyur seluruh wilayah Jakarta. Langit sudah menunjukkan gelapnya sejak jam 2 siang tadi, namun derasnya hujan baru datang saat jam menunjukkan pukul 5 sore. Jakarta terlihat begitu ramai, suara klakson menggema kesana kemari, yang pastinya dikarenakan hujan serta macetnya lalu lintas—karena jam pulang kerja.

Alih-alih menerobos hujan, gadis cantik itu memilih untuk berdiam diri dengan sesekali menghela napas lelah. Sungguh! Mengapa hujan datang sederas ini disaat dirinya sedang berada di wilayah kampus?

Hiraya Manawari, gadis cantik dengan postur tubuh kecil dibanding dengan teman-teman sebayanya. Meski memiliki paras cantik yang terkesan imut, iris mata berwarna coklat gelap dilengkapi dengan bulu mata yang lentik, Hiraya bukanlah gadis populer yang memiliki banyak penggemar di kampusnya, Hiraya juga bukan gadis yang mudah berbaur dan memiliki banyak teman—hanya beberapa. Kesehariannya hanyalah pergi ke kampus, melaksanakan kerja paruh waktu nya, kemudian pulang.

Di tengah ramai nya para mahasiswa mahasiswi yang sama sepertinya—menunggu hujan reda, Hiraya menelisik. Apakah setiap tahun hujan selalu turun di waktu yang sama? Lalu, apa alasan orang-orang menyukai segerombolan rintik hujan ini?

Karena menurutnya, hujan sedikit merepotkan. Oh, tidak, tentu sangat merepotkan. Seperti kali ini, dirinya tidak bisa langsung pergi ke tempat bekerja paruh waktu nya karena hujan yang tak kunjung reda. Lalu, jangan lupakan petir-petir besar yang saling menyambar kesana kemari, bukankah itu menyeramkan? Hujan juga meninggalkan jejak-jejak bau tanah, itu sedikit mengganggu. Katakan saja Hiraya cerewet, iya hanya dalam hati.

"Aelah, berhenti dulu kek. Gue mau kerja." Racaunya.

Ia memilih untuk menyandarkan diri di tembok bangunan kampusnya itu, sesekali mengetuk-ketuk ujung sepatunya pada lantai dingin kampus, sedikit basah terkena air hujan. Suasana pun sudah mulai sedikit sepi, tak sedikit anak yang memilih untuk menerobos hujan, pergi ke area parkir, sungguh mereka hanya ingin pulang. Sialnya, Hiraya harus kesana kemari menggunakan ojek online, yang pasti jika dirinya memesan sekarang, hanya penolakan yang ia dapat.

"Aya,"

Hiraya terlonjak. Terlalu lama melamun membuat dirinya tak sadar sudah ada pemuda yang berdiri di sampingnya sejak 5 menit yang lalu. Ia mengenalnya, perkenalkan Pramoedya Haru. Mahasiswa jurusan sastra inggris yang sudah sering ia temui di kampus, maupun dirumah karena mereka adalah tetangga sejak kecil. Beberapa teman yang Hiraya maksud, Pram berada di list unggul pertemanannya.

"Pram, kok belum balik?" Tanya Hiraya.

Pram mendengus kecil, "Ya karena gue habis ada kelas lah, bego!" Jawabnya bersungut-sungut.

Oh, katakan saja. Pramoedya Haru ini dikenal sebagai pemuda yang cukup famous. Ia dikenal dengan parasnya yang bahkan kata ganteng mah lewat euy! Tapi menurut Hiraya Pram tidak setampan itu, hanya saja memang Pram terlihat begitu menarik karena memiliki aura positif. Pram selalu ceria, Pram akan menyapa seluruh warga kampus tanpa lelah, menebarkan senyum manisnya tanpa henti yang Hiraya yakin, giginya pasti kering!

"Santai aja kali!" Ketus Hiraya yang hanya dibalas kekehan kecil oleh Pram. "Pulang, yuk. Sama gue, gue, anterin." Tawarnya.

Menggeleng kecil, seraya menepatkan posisi tas yang ia rangkul, Hiraya menjawab, "Nggak perlu, Pram. Gue mau kerja part time kok."

"Ya nggak pa-pa, lah. Gue anterin, habis hujan gini ojek online mah susah dapetnya. Gue juga mau nongkrong di kafe tempat kerja lo, sekalian ngerjain tugas kuliah." Jawabnya.

Tak lagi menunggu jawaban, Pram melesatkan diri mendahului Hiraya. Yang artinya Hiraya tidak bisa lagi menolak ajakan pemuda tinggi itu. Memang pemaksa! Tetapi dalam hati dirinya sedikit bersyukur, setidaknya uangnya tidak berkurang untuk ojek online kali ini. Terimakasih, Pram!

Udara Jakarta menjadi lebih dingin dari biasanya yang panasnya naudzubillah! Kayak neraka bocor. Tapi kali ini udara cukup dingin, Hiraya berkali-kali mengusap lengan kanan kirinya karena tulangnya terasa sedikit ngilu menerima udara dingin yang tak biasanya. Kebiasaan buruknya adalah jarang menggunakan jaket walau ia tahu Indonesia sedang musim hujan sekarang. Ceroboh.

Hal itu tak luput dari pandangan Pram dari spion motornya. Motor vario hitam kebanggaannya itu melesat sedikit pelan, agar Hiraya tak lebih kedinginan karena angin yang berhembus kencang jika dirinya mengebut. Sedikit berbahaya juga mengingat jalanan licin setelah hujan.

"Lo kebiasaan banget nggak pernah pakai jaket!" Suara Pram sedikit teriak, takut tidak terdengar oleh gadis dibelakangnya.

Mendengar itu Hiraya refleks mendekatkan diri, "Ya gue lupa kalau udah musim hujan gini. Siapa juga yang ngira bakal hujan sederas itu." Jawabnya bersungut-sungut.

Mendengar itu Pram hanya mendecih pelan. Walau Hiraya terkenal sebagai gadis pendiam dan sedikit judes—katanya, faktanya saat bersama orang terdekatnya Hiraya akan menjadi gadis cerewet dan tak mudah di nasehati. Pram agaknya sudah sering mengingatkan Hiraya untuk selalu membawa jaket mengingat hujan sudah sering turun sejak beberapa hari yang lalu.

Pram menghentikan motornya di tepi jalan, membuat Hiraya mengernyit. "Lo mau ngapain deh, berhenti dipinggir jalan kayak gini. Gue udah mau telat." Protesnya. Tuhkan, ngomel lagi.

Tanpa babibu, Pram melepas jaket hitam yang selalu ia gunakan dan menjadi ciri khasnya kalau kata orang-orang. Kalau kata Hiraya sih, jorok, karena ia yakin Pram hanya akan mencuci jaket itu selama sebulan sekali.

"Pakai aja ini, biar nggak dingin." Katanya. Hiraya sempat ingin menolak, hanya saja, "Lo kalau nolak gue turunin disini ya. Bandel bener jadi cewek, kalau lo masuk angin, gimana?" Faktanya Pram sebenarnya juga cerewet.

Mendengar itu Hiraya hanya mengiyakan saja. Mengingat dirinya akan telat masuk kerja membuat ia memilih untuk menyudahi pertengkaran yang tak akan sudah jika diteruskan. Salah satu hal yang Hiraya perhatikan, Pram dan dirinya sejak dulu tak akan berubah, tom and jerry bahasanya.








To be continued....

Tulisan ini ditulis pada tanggal 05 Desember 2024. Diperujung tahun, semoga tahun berikutnya akan terus berjalan ya.

HiraethWhere stories live. Discover now