BAB 1: Keluarga Park yang Sempurna

12 0 0
                                        


Di sebuah perumahan elite dengan penjagaan ketat, berdiri sebuah rumah megah berarsitektur modern yang dikelilingi taman luas. Rumah itu adalah kediaman keluarga Park, salah satu keluarga kaya dan terpandang di negara itu. Dengan kerajaan bisnis yang mencakup sektor teknologi, properti, dan ritel, keluarga Park menjadi simbol kesuksesan yang dikenal hampir semua orang. Namun, di balik segala kemewahan itu, keluarga ini memiliki dinamika yang hangat dan penuh kasih sayang.

Pagi itu, seperti biasa, aroma roti panggang dan kopi memenuhi ruang makan yang luas. Di meja makan yang dihiasi dengan peralatan makan perak, duduklah tiga bersaudara: Renjun, Jeno, dan Jisung. Meski lahir dari keluarga terpandang, mereka tidak menunjukkan kesombongan atau sikap berlebihan. Kehidupan mereka sehari-hari penuh dengan kehangatan, canda, dan sedikit kekacauan khas saudara kandung.

Renjun, sebagai anak sulung, sudah terbiasa menjadi pusat perhatian di rumah. Dengan sikapnya yang dewasa, rendah hati, dan bertanggung jawab, dia sering dianggap sebagai "pemimpin kecil" oleh orang-orang di sekitarnya. Dia duduk dengan tenang, menikmati sarapan sambil sesekali memperhatikan kedua adiknya yang mulai berselisih. "Renjun Hyung, aku yang lebih tahu selera makanmu," ujar Jeno sambil mengambil botol susu dan menuangkan ke gelas Renjun dengan gerakan percaya diri. Senyum lebar tersungging di wajahnya, seperti ingin menunjukkan bahwa dia adalah adik yang paling perhatian.

Jisung, yang duduk di sebelahnya, langsung bereaksi. "Tidak! Aku yang harus menuangkannya! Renjun Hyung lebih suka kalau aku yang melakukannya, kan?" serunya sambil mencoba merebut botol susu dari tangan Jeno.

"Jisung, jangan mulai pagi-pagi begini," sahut Jeno dengan nada geli tetapi tetap memegang botol itu erat-erat. "Aku ini kembarannya Renjun Hyung, jadi aku yang lebih paham apa yang dia mau."

"Justru karena itu Renjun hyung pasti lebih sayang padaku. Aku kan lebih kecil dan lebih lucu!" balas Jisung sambil memasang ekspresi bangga.

Renjun hanya bisa menggeleng sambil menahan tawa. "Kalian ini kenapa sih? Aku bisa menuangkan susu sendiri, kok," katanya dengan suara lembut, mencoba menghentikan perseteruan kecil itu. Tetapi baik Jeno maupun Jisung tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah.

Ibu mereka, yang duduk di ujung meja, ikut tersenyum mendengar keributan tersebut. "Kalian bertiga memang selalu begini," ujarnya sambil menyuapkan potongan roti. "Renjun, jangan terlalu memanjakan mereka. Lihat saja, mereka jadi terlalu manja padamu."

Ayah mereka, yang biasanya serius saat berbicara tentang bisnis, juga ikut tersenyum kecil. "Mereka hanya menunjukkan bahwa mereka menyayangi hyungnya," ujarnya sambil menyesap kopi. "Dan Renjun memang pantas mendapatkan perhatian seperti itu dari adik-adiknya."

Renjun tertawa kecil, merasa tersipu oleh pujian ayahnya. "Ayah terlalu memuji. Mereka ini hanya suka membuat keributan, kok," balasnya dengan nada bercanda.

Namun, di dalam hati, Renjun merasa hangat. Meski sering harus menjadi "penengah" dalam konflik kecil seperti ini, dia menyayangi kedua adiknya dengan sepenuh hati. Baginya, Jeno dan Jisung adalah harta paling berharga dalam hidupnya, di samping keluarga dan orang tuanya.

Saat sarapan selesai, pelayan di keluarga itu mulai membersihkan meja. Sopir pribadi mereka, Mr. Kang, sudah menunggu di depan dengan mobil mewah untuk mengantar mereka ke sekolah. Jisung, seperti biasa, tidak bisa berhenti berbicara sepanjang perjalanan. Kali ini dia menceritakan mimpi anehnya semalam, yang melibatkan dirinya sebagai pahlawan super yang menyelamatkan dunia dengan bantuan roti panggang.

"Hyung, kamu tahu nggak?" kata Jisung dengan semangat. "Di mimpi itu, aku pakai jubah merah, dan roti panggangku bisa meledak untuk mengalahkan musuh!"

Jeno, yang duduk di sebelahnya, langsung menatap Jisung dengan ekspresi datar. "Itu mimpi paling tidak masuk akal yang pernah aku dengar," komentarnya dengan nada datar. "Kenapa bukan aku yang jadi pahlawan? Aku kan lebih keren."

Jisung menatap Jeno dengan serius. "Kamu? Jadi Pahlawan? Jangan mimpi ya, Renjun Hyung pasti lebih setuju jika aku yang jadi pahlawannya."

Renjun, yang duduk di depan bersama Mr. Kang, hanya bisa tertawa kecil. "Kalian ini kenapa sih? Mimpi kok diperdebatkan."

Percakapan itu terus berlangsung hingga mereka tiba di sekolah, sebuah SMA elite, Seonghwa High School, sekolah yang dilengkapi dengan fasilitas mewah seperti kolam renang, gym, dan bahkan studio seni. Jeno dan Jisung langsung berlari ke arah teman-teman mereka, sementara Renjun berjalan dengan tenang menuju kelasnya. Meskipun mereka sering berselisih, di sekolah, ketiga bersaudara ini dikenal sebagai trio yang tak terpisahkan.

Hari itu berjalan seperti biasa, tetapi Renjun tidak bisa berhenti memikirkan dinamika keluarganya. Meski status keluarganya sering membuat mereka diperhatikan, dia merasa bahwa hubungan mereka sebagai keluarga adalah hal yang paling penting. Bagi Renjun, tidak ada yang lebih berharga daripada melihat adik-adiknya tertawa, meskipun itu berarti dia harus sering mengorbankan waktu dan tenaga untuk mereka.

Malam harinya, di rumah, setelah makan malam yang hangat, Renjun duduk di kamarnya sambil menyusun rencana untuk tugas sekolahnya. Jeno tiba-tiba masuk tanpa mengetuk, seperti biasa. "Hyung, besok bantu kerjain tugas matematika, ya."

Jisung yang ternyata mendengar dari luar langsung menyahut, "Aku juga mau belajar sama Renjun Hyung! Hyung, aku nggak mau kalah dari Jeno!"

Renjun hanya bisa tertawa kecil. "Oke, oke. Kalian berdua belajar di sini besok. Tapi jangan bikin masalah, ya."

"Deal," sahut Jeno sambil menyeringai, diikuti Jisung yang langsung melompat ke kasur Renjun. "Aku akan berusaha," tambah Jisung dengan nada manis, meski semua tahu itu hanya janji sementara.

Malam itu ditutup dengan tawa dan obrolan ringan di kamar Renjun. Bagi keluarga Park, meski mereka dikelilingi kemewahan, tawa sederhana di antara anggota keluarga adalah hal yang paling berarti.



Mohon Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan.

Vous avez atteint le dernier des chapitres publiés.

⏰ Dernière mise à jour : Nov 30, 2024 ⏰

Ajoute l'histoire à ta Bibliothèque et tu seras prévenu des nouveaux chapitres !

Three Brothers and a Little ChaosDes histoires addictives. Découvrez maintenant