We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Pertemuan tak terduga

4 1 0
                                        

Di era dinasti yang megah, di tengah istana yang dikelilingi dinding tinggi dan taman yang indah, terdapat seorang jenderal wanita bernama Xiyue. la dikenal karena keberaniannya dan keterampilannya dalam bertempur. Namun, di balik ketangguhannya, ada sisi lembut yang jarang diketahui orang.

Suatu hari, Putri Lan Mei merasa penasaran dengan sosok jenderal yang selalu terlihat tegas dan kuat. la memutuskan untuk mengintip Xiyue saat berlatih di halaman istana.

"Siapa yang bisa mengalahkan jenderal Xiyue?" bisik Lan Mei kepada pelayannya, Yun. "la begitu hebat!"

Yun tersenyum. "Putri, banyak yang mengatakan bahwa ia adalah jenderal terkuat di seluruh dinasti. Namun, saya rasa ada sisi lembut di balik semua itu."

Lan Mei mengangguk, matanya tak lepas dari Xiyue yang sedang melatih para prajurit. "Aku ingin melihatnya lebih dekat."

Setelah latihan selesai, Xiyue berjalan keluar istana menuju tepi danau. Lan Mei, yang bersembunyi di balik pepohonan, mengikuti dengan hati-hati.

"Berhati-hatilah, Putri. Jika seseorang melihatmu..." Yun memperingatkan.

"Tenang saja, Yun. Aku hanya ingin melihatnya," jawab Lan Mei penuh semangat.

Saat Xiyue berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan indah danau, Lan Mei memutuskan untuk membuat momen ini lebih menarik. Ia memberi isyarat kepada beberapa pelayannya untuk berpura-pura mengejarnya.

"Sekarang!" perintah Lan Mei, dan para pelayan mulai berlari ke arahnya.

Namun, saat putri berlari, kakinya tersandung dan ia hampir terjatuh ke dalam danau. Dalam sekejap, Xiyue berbalik dan dengan sigap menangkap Lan Mei sebelum ia jatuh.

"Siapa kau?" tanya Xiyue, suaranya tegas namun lembut.

Lan Mei terkejut, namun dengan cepat ia menenangkan diri. "Aku... aku hanya seorang pengembara."

Xiyue menatapnya tajam. "Pengembara? Kenapa kau ada di sini?"

"Karena aku ingin melihat keindahan danau ini," jawab Lan Mei, berusaha terdengar meyakinkan.

Namun, dalam kekacauan itu, Xiyue tidak mengenali putri karena Lan Mei mengenakan cadar yang menutupi wajahnya.

"Cadar itu tidak bisa menyembunyikan identitasmu selamanya," kata Xiyue, sedikit curiga.

Lan Mei dengan hati-hati membuka cadarnya, memperlihatkan wajahnya yang cantik dan penuh rasa ingin tahu. "Aku adalah Lan Mei," katanya dengan senyuman.

Xiyue terkejut, namun senyumnya merekah. "Putri Lan Mei, ternyata aku telah menyelamatkan seorang putri."

"Ya, dan aku sangat berterima kasih," jawab Lan Mei, merasakan jantungnya berdebar

Sebagai ungkapan terima kasih dan rasa kagum, Lan Mei menawarkan untuk menari bagi Xiyue. "Izinkan aku menari untukmu, sebagai ungkapan terima kasih."

Xiyue mengangguk, sedikit bingung namun terpesona. "Tentu, aku akan senang melihat tarianmu."

Dengan gerakan anggun, Lan Mei menari di tepi danau, seolah-olah menghidupkan keindahan alam di sekitarnya.

"Wow, kau sangat berbakat!" puji Xiyue, matanya tidak lepas dari gerakan Lan Mei yang memukau.

"Terima kasih, Jenderal Xiyue. Aku berharap dapat menunjukkan lebih banyak lagi," jawab Lan Mei, merasakan ketulusan dalam pujian itu.

Saat tarian berakhir, Lan Mei berdiri di depan Xiyue, napasnya terengah-engah. "Aku merasa sangat beruntung bisa bertemu denganmu."

Xiyue tersenyum. "Dan aku merasa terhormat bisa menyelamatkan putri. Semoga kita bisa bertemu lagi."

"Semoga," jawab Lan Mei, hatinya bergetar.

Dengan perasaan baru yang menggebu, mereka berdua meninggalkan tepi danau, masing-masing membawa harapan dan rasa ingin tahu yang mendalam tentang satu sama lain.

Hari-hari berlalu Lan Mei mengajak Xiyue untuk berjalan-jalan ke taman istana.
Mereka berdua duduk di bawah pohon plum yang sedang berbunga. Lan Mei merasakan kedekatan yang semakin kuat. "Xiyue, apakah kau pernah merasa terjebak dalam tanggung jawabmu?"

Xiyue menghela napas. "Sering kali. Namun, aku percaya bahwa setiap tindakan kita memiliki makna. Apa yang kau rasakan, Putri?"

Lan Mei menatap mata Xiyue. "Aku merasa terjebak dalam dunia yang tidak bisa aku pilih. Namun, saat bersamamu, aku merasa bebas."

Perbincangan mereka terhenti sejenak saat angin berhembus lembut. Xiyue menatap Lan Mei dengan intens. "Mungkin kita bisa saling membantu menemukan kebebasan itu. Kita bisa menjadi teman."

Lan Mei tersenyum lebar. "Teman? Aku ingin lebih dari itu, Xiyue. Aku ingin mengenalmu lebih dalam."

Malam itu, sebelum berpisah, mereka berdua berjanji untuk bertemu lagi. "Aku akan menunggumu besok," kata Lan Mei.

Xiyue mengangguk, merasakan harapan baru tumbuh di hatinya. "Sampai jumpa, Putri Lan Mei."

Janji sang jenderalStories to obsess over. Discover now