PROLOG

86 14 2
                                        

...o0o...

“Perbuatan baik memang menyenangkan, tetapi tak semua menganggap itu adalah perbuatan yang baik”
Terrible love

...o0o...

"Mine"gumam bayanaka menatap layar laptop yang di penuhi dengan foto paparazi dari gadis yang ia cintai err, lebih tepatnya obsesi

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Mine"gumam bayanaka menatap layar laptop yang di penuhi dengan foto paparazi dari gadis yang ia cintai err, lebih tepatnya obsesi.

Apakah cinta harus memaksa seperti ini? terlihat sangat mengerikan untuk siapapun yang mengalaminya, tetapi tak jarang pula dari mereka yang ingin mendapatkan seseorang yang obsesi dengannya. Bersyukurlah atau kau takkan pernah bebas dalam melakukan apapun hingga kapanpun.

Di sisi lain..

"Lo ngerasain ada yang beda sama hari ini nggak?"tanya monata menengok ke arah belakang memastikan dia tak diikuti oleh siapapun.

"Nggak ada, itu perasaan lo aja kali"ujar teman monata–Safinah putri azhari. Dia tak merasakan apa-apa karena hari ini terasa seperti biasanya, tak ada bedanya.

"Udah ya, gue duluan!"ucap safinah melihat rumahnya yang sudah dekat dengannya.

Monata berjalan sendirian melewati beberapa perumahan yang bernuansa modern. "Hari ini terasa lambat banget, perasaan tadi gue udah jalanya cepat deh"ujar monata memegang roknya yang tampak seperti basah.

"Kenapa harus disini sih?ini masih lama banget sampai nya!"geram monata melihat darah yang ada di roknya. Dia berusaha memberhentikan beberapa mobil yang lalu lalang saat dia sampai di jalanan besar.

Satu mobil berwarna hitam berhenti, keluarlah seorang pria dengan pakaian serba hitam. "Apa yang kau perlukan?"tanya pria yang jauh lebih tinggi dariku.

"Maaf, lancang. apakah boleh aku menumpang di mobilmu?aku tak bisa kembali ke rumah"ucap monata menutupi roknya dengan cardigan yang biasa ia bawa ke sekolah.

"Silahkan masuk"ujar pria tersebut dengan senyuman tak terlihat, wajahnya tertutup oleh masker dan topi yang berada di kepalanya. 

Mobil itu melaju membelah lautan kendaraan yang berlalu lalang melintasi jalanan ibu kota. Monata terus saja menarik roknya, dia merasa tak nyaman dengan apa yang menimpanya hari ini.

Tatapan aneh pria itu layangkan padanya, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mengapa pria yang membawa mobil bersikap demikian?

Dia merasa takut, tetapi rumahnya masih terlalu jauh. Dan, sudah tak ada kendaraan yang melintas kali ini. Nasib malang selalu menerpa gadis itu, entah apapun yang terjadi, selalu dia yang tertimpa masalah.

Pria itu memelankan laju mobilnya, dia menatap intens wajah pria itu dengan siap siaga, takut pria itu akan melakukan hal buruk kepadanya.

"Jangan berani macam-macam atau aku akan teriak sekeras mungkin dan menelpon pihak berwajib!"

Pria itu tertawa kecil. "Rumah mu di mana?"tanyanya.

Monata tersenyum kikuk, dia malu melihat tingkahnya sendiri. Gadis itu terlalu berpikiran buruk kepada orang lain, tapi enggak ada salahnya juga kan? Siapa yang nggak takut, hari sudah mau malam dan berhenti di dekat persawahan? Sungguh memalukan.

Pria itu menghantarkan Monata hingga sampai di rumah. Dia mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya pada pria itu, pria itu menatapnya kebingungan. "Saya bukan supir kamu! Simpan saja untuk jajan kamu di sekolah."

"Terima kasih." Monata memasuki rumahnya dengan jaket yang melingkar di pinggangnya.

Andaikan dia tahu, bahwa dia sedang masuk ke jebakan harimau. Setelah ini hanya tuhan yang dapat menentukan nasibnya karena telah memasuki dunia seorang yang takkan pernah melepaskannya sampai kapanpun.

...o0o...

"Jangan berdekatan dengan laki-laki manapun. Saya tak menyukainya, Monata!"ujar Naka menaikkan nada bicaranya. Manik mata yang semula biasa saja, kini mulai menajam merasa kesal dengan monata.

"Siapa kau melarangku?"bentak Monata. Ia tak suka di kekang oleh Pemuda itu.

"Lihat, apa yang akan ku lakukan kepadanya. Apakah kamu tak tega melihat pemuda itu sengsara?"ucap Naka mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan foto laki-laki sedang terikat di sebuah ruangan yang minim pencahayaan.

"Keterlaluan, lepaskan dia!"ujar monata mendorong tubuh itu, tetapi hasilnya nihil, pemuda itu tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.

"Kalau kau ingin dia baik-baik saja, lebih baik kau jauhi dia." Naka menarik dagu monata hingga mendongak menatap ke arahnya.

Monata menepis tangan pemuda itu  dengan kasar. Namun, tak membuahkan hasil, tangannya tak bergerak sedikitpun dan malah semakin kencang memegang dagu Monata.

"Aku akan menjauhinya, tetapi jangan sampai kau mencelakai dirinya!"ujar Monata memegang erat tangan kekar milik Naka.

"Bukanlah sebuah keharusan untukku menurutimu, tetapi jika kau tak menuruti perkataan ku, dia akan ku hantarkan ke alam baka,"ucap Naka meninggalkan gadisnya yang bedecak kesal lalu menjambak rambutnya sendiri untuk melampiaskan kekesalannya.

...o0o...

apakah kamu tertarik menyelami cerita ini bersamaku?

Jangan lupa vote, dan komen di bawah ini supaya aku tahu perasaan kalian setelah membaca beberapa part ini.

Terrible Love Where stories live. Discover now