Sorry for typo(s)
Hari yang cerah menjadi dambaan bagi setiap orang, semilir angin sejuk di pagi hari membuat mereka mendapatkan pasokan oksigen yang bersih. Aktivitas yang direncanakan tadi malam pun terlaksana dengan baik, seperti halnya seorang ibu rumah tangga memiliki dua anak yang begitu aktif.
Halaman samping rumah cukup luas, ada sebuah ayunan yang memang sengaja dipasang sebagai tempat bersantai. Namun, rumput yang basah serta selang yang meluncurkan air dari kran menjadi objek permainan dua bocah berusia enam tahun tersebut.
"Nanti kalau jam sudah menunjukkan pukul delapan, kalian harus pergi mandi. Dan jangan dekat-dekat dengan jemuran yang sudah Eomma rapikan di gantungan ini. Mengerti?"
"Iyaaaa!"
Seruan dari dua anak kecil itu membuat seorang wanita paruh baya tertawa. Langkahnya hati-hati menuju ke dalam rumah untuk memasak.
Kaki mungil tanpa pelindung itu berlarian menimbulkan percikan air dari rumput, salah satu anak mengelilingi saudaranya yang sedang tertawa sebab tubuhnya basah kuyup.
"Echan, gantian!"
Bocah yang memegang selang menganggukkan kepala. Jika saudaranya tadi berdiri sembari menari, ia memilih untuk duduk lalu menutup wajah. Pasalnya, sang adik suka sekali menyerang area wajah yang tentu airnya bisa tertelan dan membuatnya tersedak. Namun, beberapa detik anak yang bernama Haechan itu tidak mendapat sebuah serangan sehingga ia mengintip dari sela jari.
Kedua tangannya lepas dari wajah, manik anak itu mengerjap kebingungan. "Jaeminie, apa yang kau lakukan?"
Yang lebih muda menoleh, tangannya melambai heboh supaya dirinya mendekat.
"Rumah besar di sebelah ada orang!"
"Wah, benarkah?"
Batasan dari rumah mereka ke sebelah merupakan pagar kayu yang menjulang tinggi. Namun, berkat usilnya seorang Haechan, salah satu pagarnya berhasil lepas dari sebuah paku.
Di atas punggung sang kakak kembar, Jaemin berbaring sembari memegang pagar bergoyang sebagai tempat mengintip. Manik mereka membola serta mulut menganga karena ada dua mobil besar yang membawa barang-barang, beberapa orang keluar masuk dari rumah sembari membawanya.
"Ada piano, keren sekali!" seru Jaemin.
"Kalian kenapa di situ?"
Dua anak yang sedang berbaring di tanah sontak terkejut sampai berteriak membuat anak lain yang melontarkan pertanyaan juga terperanjat.
"Junkyu!"
Anak lainnya berlari menyusul kemudian menyembunyikan— mungkin saudara, di belakang tubuhnya seakan melindungi dari keanehan Haechan dan Jaemin.
Si kembar merubah posisinya memasuki area rumah tersebut sembari tersenyum lebar, merasa malu karena telah mengintip. Tangan Haechan lebih dulu melambai. "Rumah kami ada di sebelah, maaf ya."
"Aku minta maaf juga telah membuat kalian terkejut," ucap bocah yang bernama Junkyu.
Dilihat dari postur tubuh dan tinggi mereka, mungkin usia keempat anak itu sama, pikir Haechan.
"Namaku Lee Jaeminie!" seru sang adik sembari merangkul saudaranya. "Dan ini kakak kembarku namanya Lee Haechan. Salam kenal!"
Senyum anak yang bernama Junkyu mengembang, sedikit maju satu langkah di hadapan saudaranya. "Kita juga kembar!" balasnya riang, kemudian merangkul bahu sosok yang masih memasang wajah datar. "Aku Park Junkyu, dia Park Jihoon. Salam kenal juga!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Lagom✓
Fanfiction"Dosa paling besar itu, saat kau tidak mendapat maaf dari orang yang sudah meninggal. Tiket masuk surgamu langsung dicancel massal oleh para Malaikat."
