We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Prolog

274 23 10
                                        

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh*
Selamat datang di cerita Diary of Zhafira. Semoga kalian suka dengan ceritanya.

***
*Happy Reading*

"Luka di mata saja belum sembuh, eh malah dapat luka baru."
~Zhafira Kiara~

Ya Allah, kenapa aku tidak seperti anak-anak lainnya? Bahagia mendapat kasih sayang dari orangtua yang adil.
Aku juga ingin bahagia seperti mereka. Dunia nggak adil, ya. Seorang anak di usia yang masih proses pertumbuhan remaja tapi sudah dihantam keras oleh banyaknya masalah keluarga... dan kenapa aku jadi korban bullying.

~Zhafira Kiara~

Hingga ketika keadaan sudah membaik, kini nenek dari 3 gadis tersebut datang dan mengacaukan segalanya.

"Kamu, kamu anak tidak tahu diuntung, sini kamu!" bentak Stella sambil menarik tangan Zhafira dengan keras.

"Aw, maaf Nek, maaf Zhafira tidak sengaja," lirih Zhafira sambil merintih kesakitan.

"Maaf? Nggak ada maaf buat anak nggak tahu diri kayak kamu!" teriak Stella sambil terus menarik tangan Zhafira ke arah gudang, tanpa mempedulikan rintihan Zhafira yang kesakitan.

Hingga kini Zhafira dan Stella sudah sampai di gudang. Segera Stella mendorong Zhafira masuk ke dalam.

"Nenek, Zhafira mohon, maafin Zhafira. Tolong jangan tinggalin Zhafira sendirian di sini, Zhafira takut, Nek."

Namun perkataan Zhafira nggak didengar sama sekali oleh Stella. Malah Stella kini mengambil cambuk dan bersiap mencambuk Zhafira.

Cetas!

"Ini buat kamu yang berani nyelakain cucu saya!"

Cetas!

"Ini buat kamu yang udah jadi beban di keluarga ini."

Cetas!

"Ini buat semua kesalahan kamu selama ini."

"Sakit, Nek," lirih Zhafira. Kini tubuhnya sudah bersimbah darah karena cambukan tersebut.

"Apa? Bilang sekali lagi?" sentak Stella.

"Sakit, Nek," ucap Zhafira lagi sambil memeluk kedua lututnya.

"Sakit ya?" ucap Stella sambil tersenyum miring.

Zhafira hanya bisa menganggukkan kepalanya lemah.

Sungguh, sekarang badannya sangat sakit.

"Luka di mata saja belum sembuh, eh malah dapat luka baru." batin Zhafira.

Sedangkan yang lain hanya bisa melihat prihatin ke arah Zhafira. Mau menolong pun nggak bisa karena takut kena marah Stella juga.

"Ibu udah ka-" ucapan Aksenio terhenti ketika Stella lebih dulu memotong ucapannya.

"APA? MAU NOLONG ANAK SIALAN INI, HAH?" bentak Stella sambil berkacak pinggang. Tidak lupa matanya melotot seakan-akan mau memakan Aksenio hidup-hidup.

"E-eh, nggak, Bu," ucap Aksenio gugup.

"Tolong," lirih Zhafira dengan berderai air mata. Zhafira menatap mereka dengan penuh harap, berharap ada yang menolongnya.

Namun harapan itu musnah ketika melihat orang-orang hanya berdiam diri menatapnya yang kini tengah dicambuk.

Sakit hatinya sangat sakit, melihat mereka hanya menonton saja tanpa berniat ada yang membantunya.

Cambukan itu terus dilayangkan ke punggung Zhafira. Orang-orang yang melihatnya pun bergidik ngeri. Kalau mereka yang mendapatkan cambukan itu pasti sudah pingsan.

"Stop, Nek. Udah, sakit," mohon Zhafira sambil memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit yang kini sedang menyerang tubuhnya.

Saat cambukan itu terus menerus kena punggung Zhafira, seseorang menghentikannya.

"STOP! ASTAGHFIRULLAH, kalian apaan? Dan apa yang Ibu lakukan? Dia juga cucu Ibu, Bu!" teriak seorang lelaki sambil menghalangi cambukan yang akan mengenai punggung Zhafira lagi.

"Dan apa yang kalian lakukan? Kalian cuma menonton aja? Dan lo, Aksenio, lo cuma diam aja di saat anak lo disiksa?" sentaknya marah.

"Azam, awas kamu menjauh, kalau nggak Ibu akan-" ucapan Stella terpotong karena Azam lebih dulu memotongnya.

"Akan apa? Akan apa, Bu? Jawab!" tegas Azam dengan penuh penekanan.

Stella yang mendapat perlakuan itu seketika nyalinya menciut.

"Tapi, Azam, gara-gara dia Aksenio dan Aruna berpisah," ucap Stella menyalahkan Zhafira sambil menunjuknya.

"APA? AZAM NGGAK SALAH DENGER, BU?" tanya Azam dengan sedikit meninggikan suaranya satu oktaf.

Sedangkan Stella kini hanya menunduk. Bukan merasa bersalah, melainkan dia takut akan kemarahan Azam.

Kini Azam beralih ke Aksenio. Dia memegang kerah baju Aksenio dan melayangkan beberapa pukulan.

BUGH!*

"Bangsat lo, Aksenio!" teriak Azam sambil terus melayangkan pukulannya.

"Lo apaan sih, Aksenio? Lo gila apa ngebiarin anak lo sendiri disiksa. Harusnya lo lindungi dia. Luka di matanya belum sembuh, lalu lo ngebiarin dia mendapatkan luka lagi," teriak Azam sembari menahan emosinya yang sudah berada di ubun-ubun.

"Bangsat lo, Aksenio."

Aksenio yang mendengar itu menunduk. Benar kata-kata yang dilontarkan adiknya. Dia tidak becus dan sangat pengecut, membiarkan anaknya disiksa di depan matanya.

"Zhafira, maafin Ayah. Ayah nggak bisa lindungi kamu. Ayah udah gagal, maafin Ayah, Zhafira."

Zhafira yang mendengar itu hanya diam. Dia masih trauma akan kejadian itu. Zhafira tidak akan pernah bisa melupakan itu karena itu adalah awal penderitaan bagi Zhafira. Aksenio terus memeluk putrinya itu dengan erat.

"Maafin Ayah ya, sayang. Ayah nggak bisa lindungi kamu."

"Ini Ayah ada uang 500.000. Kamu simpan ya, ini buat permintaan maaf Ayah."

Zhafira mengambil uang tersebut, tapi ia tidak akan bisa melupakan itu.

Apa luka di hatinya cuma bisa dibayar dengan uang 500.000? Enggak.
Kata maaf pun belum bisa menyembuhkan luka tersebut. Hanya waktu yang bisa menjawab.

Lagi dan lagi sakit hatinya kini dibayar dengan uang. Apa sakit hatinya tidak berarti?

Sekarang Zhafira memang berada di rumah ayahnya. Setelah pencambukan itu, Zhafira meminta dipulangkan ke rumah ibunya.

Jangan lupa vote, komen, dan share ya.
Satu vote kalian sangat berarti untukku 💛

Diary Of Zhafira || (Sudah Terbit)Stories to obsess over. Discover now