Pansa memacu langkahnya dengan cepat melewati pintu depan rumahnya. Kemejanya sudah basah oleh keringat, meski baru saja beberapa menit keluar dari mobilnya yang ber-AC. Wajahnya lelah, mata sembap tanda tak cukup tidur beberapa hari terakhir akibat lembur di kantor. Namun, tak ada waktu untuk beristirahat. Tuntutan seorang gadis remaja yang tengah menanti di ruang tamu membuatnya melupakan sejenak keinginannya untuk rebahan di sofa.
"Kak, lama banget, sih! Aku udah capek mondar-mandir nungguin!" Cindy, adik perempuannya yang berusia empat belas tahun, langsung menyambut Pansa dengan keluhan bernada tinggi. Seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya menunjukkan betapa seriusnya dia ingin segera berangkat, bahkan tanpa sempat berganti pakaian.
Pansa mengembuskan napas berat, melempar hand bag ke sofa sembari mengelus pelipisnya yang terasa berdenyut. "Cindy, kakak baru sampe rumah. Kasih waktu buat napas bentar, ya?" suaranya setengah memohon, berharap ada sedikit pengertian dari sang adik.
Namun Cindy dengan segala kegigihan remaja yang penuh semangat, menggeleng keras-keras. "Nggak ada waktu, kak! Kalau kita nggak berangkat sekarang, aku nggak akan keburu ketemu Mario." Ia menyebut nama idolanya dengan nada penuh harap dan rasa cinta menggebu.
Pansa memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya. "Ya Tuhan, Cindy," gumamnya, kemudian membuka mata dan menatap adiknya. "Kalau kakak bilang capek, kamu nggak bisa nunggu besok, ya? Kan masih bisa lihat dari tv atau hp aja dulu."
Mata Cindy langsung melebar. Dia melipat tangan di dada dengan kesal. "Kalau kakak nggak mau nganterin aku sekarang, aku bakal bilang ke mama kalau kakak kemarin beli kamera baru lagi."
Kali ini mata Pansa yang melebar. "Apaan sih dek, cepu banget kamu. Jangan lapor mama dong." Nada suaranya melemah, tau betul bahwa dia tak punya daya melawan senjata rahasia adiknya yang selalu mempan. Jika itu benar terjadi, tentu saja mamanya akan memarahinya habis-habisan.
"Ya udah, aku ganti baju dulu, tapi pinjem baju kamu ya. Lemari kakak kan udah kosong." Pansa akhirnya menyerah.
Pansa menyeret kakinya ke kamar, menatap cermin dengan wajah yang masih penuh rasa letih. Ia mengganti kemejanya dengan kaos oversize milik Cindy yang cukup di tubuhnya. Dalam hati, ia bertanya-tanya, kenapa ia selalu harus kalah dalam setiap perdebatan dengan Cindy. Adik kesayangannya itu selalu memiliki cara untuk mendebatnya.
Sepuluh menit kemudian, mereka sudah duduk di dalam mobil. Cindy dengan penuh semangat membicarakan Mario, memutar lagu-lagu sang idola di audio player mobil. Pansa hanya mengangguk-angguk, sesekali bergumam setuju meskipun pikirannya sudah setengah mati berharap perjalanannya tidak akan terlalu lama.
"Kak, kamu tuh harus lihat sendiri nanti! Mario itu gantengnya nggak masuk akal," ujar Cindy dengan mata berbinar, senyum lebar menghiasi wajahnya.
Pansa melirik ke samping, dan sedikit senyum terulas di bibirnya, meski lelah masih menguasai tubuhnya. "Ya, ya, kita lihat aja nanti."
Setelah beberapa menit yang terasa seperti perjalanan panjang, Pansa akhirnya memarkir mobilnya di area parkir gedung. Ketika keluar dari mobil, ia langsung disambut pemandangan yang membuat mulutnya ternganga. Belasan, bahkan mungkin puluhan remaja yang ia yakin kebanyakan seusia Cindy bergerombol di lobi gedung yang luas, membawa aneka hadiah dalam berbagai bentuk dan ukuran. Ada bunga-bunga segar dalam kotak bening, boneka beruang besar, hingga bingkisan kecil yang dibungkus kertas cerah berhiaskan pita.
Beberapa dari mereka mengenakan kaos bergambar wajah sang idola, sementara yang lain sibuk memegang handphone, siap merekam momen berharga jika sang idola benar-benar muncul. Suara bisik-bisik penuh semangat bercampur dengan tawa riuh mengisi udara, menciptakan atmosfer yang membuat kepala Pansa berputar.
YOU ARE READING
Accindentally in Love (MilkTu)
FanfictionWhen you unintentionally caught up in each other's life.
