Price of a hug

138 7 5
                                        

Cahaya lampu menyusup ke sela pandangan Hannah yang buram. Bibirnya terasa kering dan tenggorokannya seakan baru saja menelan segenggam pasir. Kini gadis kecil itu terbaring lemah di ranjang yang dingin dan keras. Ruangan ini terlihat tak asing, terasa lembab dan beraroma antiseptik. Ia berusaha bangkit, namun sabuk kulit telah membelenggu sekujur tubuh, dari kepala hingga kaki. Didera rasa panik, Hannah meronta hingga menimbulkan keributan.

"Sial! Schmidt, dia terbangun!" ujar seorang pria yang melirik dari balik pintu. Seketika, pria tersebut bergegas masuk bersama dua orang lainnya. Mereka bertiga mengenakan pakaian operasi, lengkap dengan sarung tangan dan masker.

"Kenapa kau tak memberinya anastesi, Theo?" tanya Schmidt gusar.

"Aku sudah memberinya dosis penuh!" balas Theo.

Kedua pria itu sibuk berdebat dari kejauhan, seolah menjaga jarak dari Hannah yang berusaha meloloskan diri. Hannah mencoba menjerit memanggil mamanya, namun bukan kalimat yang keluar hanya rintihan tak bermakna. Gadis kecil itu semakin panik ketika menyadari bahwa mulutnya dipaksa terbuka dengan empat pengait besi di tiap sudut. Menampilkan deretan giginya yang mengering, sehingga mustahil untuk ia bisa bicara.

"Hannah, Sayang. Tenanglah, it's okay," ucap salah seorang lagi di sisi kanan Hannah. Ia membelai lembut lengan kanan gadis kecil itu, berusaha menenangkan. Meskipun parasnya tertutup masker, namun Hannah mengenali pancaran mata sayu tersebut.

"H-Hawwhhaa." Hannah ingin memanggilnya "Mama", tapi dengan mulut yang tak mampu terkatup hanya itu yang bisa ia ucapkan. Kehadiran mamanya membuat Hannah kembali tenang.

"Karen, haruskah Hannah kubius lagi?" tanya Theo.

"Tidak. Kita tak punya banyak waktu," ucap Karen sembari menatap telapak tangan kanan putrinya.

"Karen, kau yakin?" tanya Schimdt dengan nada khawatir.

"Lakukan saja Schmidt. Biar aku yang bertanggung jawab," balas Karen datar.

"Ah sial, kita akan kena masalah. Truman takkan suka ini," keluh Theo.

"PERSETAN DENGAN TRUMAN! CEPAT LAKUKAN!" umpat Karen yang geram. Tangannya yang sebelumnya membelai kini menggenggam erat lengan Hannah.

Suasana sempat hening selama 3 detik. Theo dan Schmidt saling bertukar pandangan sejenak. Merasa tak ada pilihan lain, mereka segera menuju ke arah troli medis berisi berbagai perkakas.

"Sayang, apapun yang terjadi, ingatlah. Mama menyayangimu. Sungguh menyayangimu," tutur Karen dengan suara yang begitu lirih. Matanya tampak kuyu, seolah menahan tangis. Ia mengusap dahi Hannah perlahan, menyibak rambut ikalnya. Hannah bisa membayangkan segaris senyuman di balik masker itu.

"Theo, pegang kepalanya!" perintah Schmidt. Schmidt menatap Karen bimbang. Karen hanya merespon dengan mengangguk lemah dan menahan bahu Hannah di posisinya. Gadis cilik itu masih tak mengerti apa maksud mamanya.

Hanya dalam hitungan detik, semua pertanyaan Hannah terjawab. Schmidt menengadahkan kepala Hannah, mengeluarkan tang perak di genggamannya. Ia menjepit erat gigi Hannah dengan tang. Lalu, dalam satu tarikan napas ....

"AAAAHHHGGGKKK!!!"

Schmidt mencabutnya paksa.

Jeritan Hannah bergaung menggores nurani. Tubuhnya kejang tak mengantisipasi rasa sakit. Pedihnya sungguh tak terkira, seakan puluhan batang jarum sontak melesak masuk, menembus dari dagu hingga ubun-ubun.

Perih yang menerjang tiba-tiba menstimulasi otak bekerja cepat. Hannah kembali mengingat memori sebelum ia berada di situasi ini. Tepat sebelum Hannah hilang kesadaran, ia melihat Karen menghantam anak anjing tersebut dengan linggis. Berkali-kali. Mama membunuhnya dengan brutal.

CREEPYPASTAWhere stories live. Discover now