1

3.9K 93 3
                                        

"Ella! Liat, nih! Anaknya Bu Maryam udah nyebar undangan. Padahal umurnya masih 20 tahun, lho."

Ella yang sedang berkutat di dapur, memutar bola matanya dengan malas. Lama-kelamaan, ia jadi malas tinggal di komplek perumahan ini. Dalam sebulan, ada saja yang menikah. Bahkan bisa sampai empat atau lima undangan yang sampai di rumahnya. Intinya, komplek perumahan ini tidak pernah absen dengan yang namanya pesta pernikahan.

Padahal, anaknya Bu Maryam yang mamanya sebut tadi, dulunya adalah teman main petak umpet dengan Ella dan anak-anak komplek lain. Waktu terasa begitu cepat berlalu hingga kini tahu-tahu Ella sudah mendapat undangan pernikahan darinya.

"Ya biarin sih, Ma. Berarti udah dateng jodohnya."

Dan tentu saja, Mama kesal dengan jawaban Ella. Bukan jawaban seperti itu yang Mama harapkan. Sebagai seorang ibu-ibu sosialita yang kerap kali membandingkan kehidupannya dengan ibu-ibu lain, Erna adalah tipe orang tua yang sebal dan tak terima jika ada anaknya yang "terlambat" dalam hal apapun, termasuk perihal menikah. Menurut Erna, hidup adalah perlombaan.

"Kamu kapan, La? Umur kamu udah 26 tahun, udah ngelewatin masa ideal perempuan buat nikah."

Oh my God!

Biasanya, pertanyaan seperti itu terlontar dari orang yang tidak terlalu akrab dengan kita. Tapi sekarang, Ella mendapat pertanyaan itu dari ibunya sendiri yang notabenenya sudah "lengket" dengan dirinya sejak orok.

"Pacar aja nggak punya gimana mau nikah, Ma?"

"Ya cari, dong. Kamu gimana mau punya pacar keluar rumah aja nggak pernah. Abis kuliah nganggur. Kalo tau kamu jadinya nganggur gini mendingan kamu nggak usah kuliah."

Ella langsung beristighfar dalam hati. Omongan Erna memang suka nyelekit. Padahal yang membuat Ella terpaksa menganggur karena ingin menjadi anak berbakti, menjaganya di masa tua di saat kakak-kakaknya sudah menikah dan tinggal di rumah masing-masing.

Sebagai anak, Ella hanya bisa diam di saat-saat seperti ini karena mengungkapkan keperihan hati hanya akan dianggap sebagai anak durhaka.

"Ya Allah. Susah banget kayaknya satu hari aja, nggak denger omongan pedihnya Mama. Tapi kayaknya nggak bisa, ya? Ada aja yang salah di mata Mama."

Ingin menangis pun rasanya Ella sudah bosan. Lebih baik ia diam dan diam. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Membiarkan semuanya berlalu dengan sendirinya.

Erna setelahnya masuk ke kamar. Bantingan pintu semakin membuat hati Ella teriris. Andai Erna tahu niat tulusnya, memilih untuk menganggur untuk menjaga Erna.

Satu tahun lalu, Erna pernah jatuh di kamar mandi di saat Ella sedang kuliah. Untungnya hanya luka lecet di kaki, tak sampai cedera kepala. Itulah yang membuat Ella trauma dan tak ingin meninggalkan ibunya walau rasanya ingin sekali ia bekerja.

"Ella! Ella!"

Suara Daniar menggema di depan rumah. Teman masa kecilnya yang sebaya dengannya, yang juga belum menikah. Bedanya, Daniar anak yatim piatu yang bebas bekerja atau keluar rumah 24 jam tanpa ada yang harus dipikirkan keselamatannya di rumah.

"Pagi-pagi udah nyamperin rumah orang lo!"

Ella membukakan pintu pagar, membiarkan Daniar masuk lalu mereka duduk di teras. Rumah Daniar hanya berjarak lima rumah dari rumahnya Ella. Mereka akrab sejak kecil.

"Mau ngajak lo ke toko kue yang baru buka di depan sana. Kemarin kan baru grand opening, makanya sekarang lagi banyak promo."

Ella tahu toko kue itu. Kemarin setelah menemani Erna pulang dari rumah sakit, toko kue itu ramai dan meriah di acara pembukaan. Papan bunga dari tamu-tamu bahkan sampai hampir menutupi jalan masuk komplek.

Ella & ErikTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang