Prolog

15 2 0
                                        

Beberapa minggu yang lalu, tahun ajaran baru dimulai. Penempatan kelas berganti sekaligus pengacakan siswa yang mungkin diharap bisa memperluas sosialisasi.

Tidak ayal banyak siswa yang memprotes tidak setuju. Dengan berbagai alasan dipadukan bujuk rayuan agar pihak sekolah mau mendengarkan.

Namun siswa bisa apa dengan sistem sekolah yang bahkan sudah ada sejak sekolah itu didirikan.

Kelas XI.B Tertulis dipapan kayu yang menjuntai diatas pintu masuk. Beberapa siswa sudah menempati tempat duduknya. Ada empat baris dengan lima meja di setiap barisnya.

Penglihatannya menangkap seseorang yang tengah duduk dibagian meja keempat dari meja pertama yang ada didepan. Tepatnya meja dibarisan kedua dari pintu masuk.

"Ada pr ngak sih Ses?" tanya seseorang sambil meletakan tas.

"Ngga ada Kay, santai aja" orang yang di panggil 'Ses' sibuk menyiapkan tissue dan air.

Nasesa Madira. Memiliki kepribadian yang apa adanya dan terkesan santai.

"Udah mau sebulan tapi belom nemu orang yang klop lagi selain lu" celetuk Sesa lagi dengan wajah lesuhnya.

"Ya gimana enggak? Setengah orangnya aja tau muka doang nama engga" jawabnya sambil membersihkan meja yang terlihat berdebu.

"Untung ada lu Kay. Gak apa-apa dah cuma satu dua. Yang penting gw gak sendiri-sendiri amat" Sesa menghela nafas lega.

Kayzea Nisaka Rafesya, gadis dengan tubuh yang sedikit semampai itu kini tengah fokus menghilangkan debu.

Bukan tanpa alasan ia memilih Nasesa sebagai partner duduk. Sesa sering menjadi teman mainnya dikelas sepuluh meski tidak begitu akrab.

Bahkan tidak jarang mereka duduk bareng dalam satu obrolan ketika jam kosong tiba.

Jam menunjukkan hampir pukul tujuh. Yang artinya kelas akan di mulai, suasana kelas yang tadinya sepi kian ricuh.

Tapi tidak lama, kericuhan itu senyap akibat seorang wanita paruh baya yang masuk dengan seragam coklat khas guru. Dewi, nama yang tertera di nametag beliau.

"Ya, pagi anak-anak" sapanya ramah. Dengan spidol yang sudah siap ditangannya.

"Pagiii!!" jawab anak kelas antusias.

"Ulangan kan ya? Saya kasih waktu buat belajar dulu" sambil membuka kertas-kertas miliknya di map.

Deg.

Bak mantra Ibu Malin Kundang, para murid kini mematung. Wajah mereka bahkan tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.

"Ah becanda. Serius amat. Jangan tegang-tegang gitu lah. Ayo mulai belajarnya" terdengar jelas helaan nafas lega dari para muridnya. Bu Dewi hanya terkekeh.

Dan pagi ini diawali dengan pelajaran Fisika.

.

.

.

.

.

Jam pertama dan kedua berakhir. Digantikan dengan istirahat pertama. Seperti biasa, Sesa dan Kayzea mengantri bakso Mang Ujang. Tapi entah kenapa, antrian kali ini jauh lebih padat.

Maka dari itu, Sesa memberi saran. Dimana dirinya akan beli minuman, dan Kayzea yang mengantri bakso.
Saran yang berkedok malas ngantri karena panjang.

Tidak ada angin, tidak ada hujan. Tiba-tiba ada seorang laki-laki memanggilnya.

"Woy lu si Kay Kay itu kan? Titip antrian boleh kagak? Boleh ya?" ucapnya sembarangan.

"Hah? Ngantri lah!" Kayzea sedikit sewot, alisnya bertaut begitu saja.

"Elah titip antrian bentar. Udah ya, gw mau ngantri cilok dulu. Makasih Kay" laki-laki itu berlari meninggalkan Kayzea dengan rentetan omelannya untuk pria itu.

"WOYY GAA!! DIH! Dikira ngantri gak capekk apa? Awas ae tuh bocah" omelnya.

3 menit kemudian, kini giliran dirinya.

"Nengnya udah kan?" Mang Ujang bingung pasalnya Kayzea masih belum hilang dari pandangannya padahal ia sudah mendapatkan pesanannya.

"Udah Mang. Tapi tunggu sebentar ya. Temen saya mau beli juga. Tapi ini gak nongol-nongol" sungguh emosi nya sudah di puncak.

Tapi tidak lama, orang yang di cari-cari pun datang.

Buru-buru, ia langsung menempati tempat Kayzea tadi. "Makasih Kay. Lu best banget emang"

"Ck udah gak usah banyak omong. Nih cepet, gw mau nyamperin Sesa!" Kayzea langsung memberikan antrian itu kepada orang dihadapannya

Buru-buru, Kayzea langsung menoleh ke antrian belakang karena merasa bersalah.

"Sorry banget ya, jangan salahin gw. Salahin aja nih orang" sambil membawa dua mangkok bakso, ia langsung menghampiri Nasesa.

Sedangkan si oknum yang disebut Kayzea, hanya memasang cengiran tidak bersalahnya sambil meminta maaf ke orang-orang dibelakang dirinya.

Hergaska Adidarma Sagara.
Laki-laki yang memiliki tubuh tinggi dengan sifat tengil nan random sebagai pelengkapnya.

Sering jadi sasaran omelan karena tidak jarang dirinya sering memancing emosi. Bahkan cara jalannya pun kena protes karena dianggap petantang-petenteng. Padahal menurutnya dia udah jalan ganteng.

Herga duduk di samping meja Kayzea bersama teman laki-lakinya. Maka tidak heran, mereka kenal meski sedikit lupa.

Prinsip Herga "Yang penting sekolah dan gak masuk bk + nilai bagus"

jangan lupa votment nya💗💗
stay tuned untuk next part>>

LengahStories to obsess over. Discover now