prolog

6 1 0
                                        

Arthur duduk membungkuk di depan layar komputer, jari-jarinya tak henti-hentinya mengetik. Ruang kantor itu nyaris kosong, hanya dihuni oleh sisa-sisa kehadiran karyawan lain yang telah pulang lebih awal. Cahaya lampu neon putih di atas kepala membuat ruangan tampak steril, hampir tak bernyawa. Di sekelilingnya, tumpukan berkas-berkas, dokumen spreadsheet yang seperti tak pernah ada habisnya, dan deadline yang semakin mendekat, seolah menghisapnya ke dalam lingkaran tanpa ujung. Suara monoton mesin pendingin ruangan dan dengung listrik samar-samar melengkapi kesunyian itu, menyelimuti malam panjang yang tak berkesudahan.

Arthur menatap layar komputernya yang penuh dengan angka-angka dan tabel, tetapi pikirannya melayang. Sudah berapa lama ia terperangkap dalam rutinitas ini? Hari-harinya seolah kabur, terjalin dalam siklus yang sama: bangun, bekerja, pulang, tidur, dan mengulanginya lagi esok hari. Tak ada istirahat, tak ada kesenangan. Semua itu telah lama menghilang dari kehidupannya. Bahkan akhir pekan, yang dulunya terasa seperti penyelamat, kini hanya menjadi jeda singkat sebelum kembali tenggelam dalam kesibukan.

“Ini hidupku?” pikir Arthur, getir. Sebuah tawa kering nyaris lolos dari bibirnya. “Aku hidup untuk ini? Untuk tumpukan berkas yang tak pernah selesai?”

Pandangan Arthur melekat pada jam dinding di ruangan itu. Jarumnya bergerak perlahan, seakan mengejek betapa lambat waktu berlalu. Dia menghela napas panjang, merasakan beban berat di dadanya. Kepala dan pundaknya terasa kaku, seperti tubuhnya sudah tak mampu lagi menanggung tekanan yang tak henti-hentinya menghujam.

Ponselnya bergetar di meja, memunculkan notifikasi pesan. Namun, Arthur tak menghiraukannya. Rasanya sudah tak penting lagi. Semua orang hanya ingin sesuatu darinya—lebih banyak pekerjaan, lebih banyak tanggung jawab, tanpa sedikitpun pemahaman atau penghargaan. Dunia ini seperti mesin yang tak kenal henti, dan dia hanyalah roda kecil yang terus berputar tanpa makna.

Malam itu, tubuhnya mencapai batasnya. Jantungnya berdegup terlalu cepat, napasnya terasa sesak. Ia merasakan seolah dinding-dinding di sekitarnya mulai menyempit, menekan. Pandangannya mulai kabur, layar komputer di depannya seakan menjauh. Keyboard yang biasa terasa begitu familiar kini terasa dingin dan asing di bawah jarinya. Sebelum ia sempat menyadari apa yang terjadi, semuanya menghilang—ruangan kantor, suara mesin, bahkan rasa sakit. Semuanya menghilang menjadi kegelapan yang pekat.

_______________________________________

Hening. Tak ada suara apapun, seolah dunia telah lenyap bersama kesadarannya. Arthur terbangun, atau setidaknya itulah yang ia rasakan. Namun, yang menyambutnya bukanlah suara alarm pagi yang membangunkannya untuk bekerja seperti biasanya. Kali ini, hanya ada kesunyian. Kesunyian yang begitu mendalam hingga terasa asing. Seperti berada di dalam ruang yang tak terbatas.

Dia mencoba membuka mata, tetapi yang ia lihat hanyalah kegelapan. Dia menggerakkan tangan untuk meraba wajahnya—tapi yang dirasakannya bukanlah kulit, melainkan sesuatu yang keras dan kering. Dengan gemetar, Arthur memandangi tangannya, yang sekarang hanyalah tulang belulang.

Jantungnya, jika memang masih ada, melonjak. Dia meraba seluruh tubuhnya dengan panik, tetapi yang ditemukannya hanyalah rangka, kerangka yang terbungkus dalam udara dingin dan kosong.

"Apa ini...?" Suaranya serak, lebih lemah dari biasanya, namun tetap bisa keluar. Dia masih bisa berbicara? Jika dia mati, mengapa dia masih bisa berpikir, berbicara, bahkan merasakan? Kebingungan menyelimuti pikirannya, tetapi juga ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap. Kengerian.

Arthur mengingat kembali momen-momen terakhirnya di kantor. Apakah ini mimpi? Atau, mungkinkah dia benar-benar mati? Sebelum bisa menjawab pertanyaannya sendiri, sebuah suara elektronik memecah keheningan.

“Proses pembentukan individu berhasil dilakukan.”

Arthur tersentak kaget, berbalik mencari asal suara. Namun, yang dia lihat adalah sebuah layar bercahaya biru yang muncul di hadapannya, seperti hologram. Teks-teks yang terlihat seperti bagian dari permainan video mulai bermunculan.

“Proses pembentukan kesadaran dimulai. Pemilihan ability dan distribusi poin akan segera dilaksanakan.”

Arthur mengerjap, bingung. Teks itu terasa tak nyata, seolah dia terperangkap dalam permainan RPG yang aneh. Mimpi yang lebih nyata daripada kenyataan.

“Apakah ini semacam lelucon?” pikirnya. Namun, dia tidak bisa mengabaikan sensasi dingin yang menyusup melalui tulang belulangnya.

“Anda memiliki 50 poin untuk dialokasikan pada ability yang tersedia. Akankah Anda melanjutkan ke tahap berikutnya?”

Arthur terdiam. Segala logika dan rasionalitasnya terbalik. Tapi, di hadapannya, pilihan itu terpampang jelas. “Yes” dan “No” berkilau di layar. Rasa ingin tahunya perlahan mengalahkan rasa takut. Dengan ragu, dia menekan tombol "Yes" dengan jari tulangnya yang rapuh.

Layar itu kemudian berubah, membuka daftar kemampuan yang bisa dipilih: Strength, Agility, Intelligence, Defense… dan yang paling menarik perhatian Arthur, Luck. Di sebelah Luck, ada angka yang jauh lebih besar dari ability lainnya—100. Bahkan sebelum ia menyentuh apapun, stat ini sudah tinggi.

Arthur tertawa getir dalam hatinya. “Seumur hidupku, aku selalu sial. Tidak mungkin aku membiarkan kesempatan ini lewat begitu saja.”

Tanpa ragu, Arthur memutuskan untuk mengalokasikan semua poin yang dimilikinya ke Luck. Jika ada kesempatan untuk mengubah nasibnya, meski dalam dunia aneh ini, dia akan mengambilnya.

“Distribusi berhasil. Anda sekarang siap untuk memulai.”

Layar itu menghilang, digantikan oleh pemandangan yang lebih nyata. Arthur kini berdiri di sebuah ruangan gelap yang dikelilingi dinding-dinding batu kasar. Suara air menetes terdengar dari kejauhan, menambah kesan suram tempat itu. Bau lembab memenuhi udara, dan lantai di bawahnya terasa licin oleh lumut yang tebal.

my luck is limitlessWhere stories live. Discover now