Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.

Prolog

476 57 109
                                        

"Selamat ulang tahun, Biru

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.

"Selamat ulang tahun, Biru." Seorang laki-laki dengan kaos polos hitamnya meniup lilin di atas meja belajar di kamarnya. Dalam ruangan sepi dan gelap itu ia kembali merayakan hari lahirnya yang kini sudah menginjak dua puluh lima tahun.

Biru merayakan sendiri di dalam kegelapan dan kesunyian tanpa benar-benar ada seseorang yang menemaninya. Kue brownies ukuran kecil yang dibelinya tadi siang di depan toko dekat persimpangan menuju kosannya kini perlahan ia potong dan memakannya sendiri.

Tiba-tiba air matanya menetes begitu saja kala hatinya merasa kosong dan hampa. Dalam keheningan malam di kamar kost yang ia tempati, Biru mulai menangis ketika mengingat keluarganya di rumah.

Biru merindukan mereka. Biru ingin merayakan ulang tahunnya bersama Bapak, Ibuk, Mas Hesa, Mas Samu, Mbak Tari, dan juga Rinjani.

Sudah hampir tujuh tahun Biru hidup merantau di kota orang. Tanpa siapa pun, saudara, teman, atau kerabat. Biru benar-benar orang asing yang menumpang hidup di lingkungan yang tak ada satu pun yang mengenalinya.

Tapi meski di rumah pun, mereka tak akan ingat ulang tahunnya. Mengingat bagaimana cerita Mas Samu yang bilang bahwa kelahiran Biru membawa petaka bagi keluarga. Bahwa kelahiran Biru tak diinginkan semua orang. Hatinya sakit, padahal saat itu Biru ingin sekali keluar dari rahim Ibu dan melihat bagaimana wajah bahagianya Ibu dan Bapak menyambutnya ke dunia. Tapi ternyata ia salah karena sudah terlalu berharap.

Hingga saat ini, Biru tak berani pulang ke rumah. Demi kebahagiaan mereka, Biru perlahan menghilang agar keberadaannya tak membawa kesengsaraan bagi keluarganya.

Biru menikmati kesendirian ini meskipun seringkali ia merasa rindu. Suasana dan kenangan dalam rumah itu kembali teringat dalam ingatannya.

Tiba-tiba Biru ingin makan masakan Ibu. Biru juga rindu mendengarkan nasihat Bapak. Biru rindu diperhatikan oleh Mas Hesa. Biru juga rindu berkelahi dengan Mas Samu. Biru rindu bercerita dengan Mbak Tari. Bahkan Biru juga rindu mendengarkan celotehan Jani yang bawel dan pemarah. Biru rindu semua hal tentang rumah.

Pak, Buk. Biru, anak bungsu kalian ingin pulang.

GANG5AL : Kutukan Si BungsuHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora