Pada tahun 1999, di sebuah desa kecil di kabupaten Malang, terdengar desas-desus bahwa setiap keluarga yang memiliki lebih dari empat anak, maka akan membawa malapetaka besar bagi keluarganya.
Keluarga Pak Wijaya Adiguna menentang hal itu, ia tidak...
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
"Selamat ulang tahun, Biru." Seorang laki-laki dengan kaos polos hitamnya meniup lilin di atas meja belajar di kamarnya. Dalam ruangan sepi dan gelap itu ia kembali merayakan hari lahirnya yang kini sudah menginjak dua puluh lima tahun.
Biru merayakan sendiri di dalam kegelapan dan kesunyian tanpa benar-benar ada seseorang yang menemaninya. Kue brownies ukuran kecil yang dibelinya tadi siang di depan toko dekat persimpangan menuju kosannya kini perlahan ia potong dan memakannya sendiri.
Tiba-tiba air matanya menetes begitu saja kala hatinya merasa kosong dan hampa. Dalam keheningan malam di kamar kost yang ia tempati, Biru mulai menangis ketika mengingat keluarganya di rumah.
Biru merindukan mereka. Biru ingin merayakan ulang tahunnya bersama Bapak, Ibuk, Mas Hesa, Mas Samu, Mbak Tari, dan juga Rinjani.
Sudah hampir tujuh tahun Biru hidup merantau di kota orang. Tanpa siapa pun, saudara, teman, atau kerabat. Biru benar-benar orang asing yang menumpang hidup di lingkungan yang tak ada satu pun yang mengenalinya.
Tapi meski di rumah pun, mereka tak akan ingat ulang tahunnya. Mengingat bagaimana cerita Mas Samu yang bilang bahwa kelahiran Biru membawa petaka bagi keluarga. Bahwa kelahiran Biru tak diinginkan semua orang. Hatinya sakit, padahal saat itu Biru ingin sekali keluar dari rahim Ibu dan melihat bagaimana wajah bahagianya Ibu dan Bapak menyambutnya ke dunia. Tapi ternyata ia salah karena sudah terlalu berharap.
Hingga saat ini, Biru tak berani pulang ke rumah. Demi kebahagiaan mereka, Biru perlahan menghilang agar keberadaannya tak membawa kesengsaraan bagi keluarganya.
Biru menikmati kesendirian ini meskipun seringkali ia merasa rindu. Suasana dan kenangan dalam rumah itu kembali teringat dalam ingatannya.
Tiba-tiba Biru ingin makan masakan Ibu. Biru juga rindu mendengarkan nasihat Bapak. Biru rindu diperhatikan oleh Mas Hesa. Biru juga rindu berkelahi dengan Mas Samu. Biru rindu bercerita dengan Mbak Tari. Bahkan Biru juga rindu mendengarkan celotehan Jani yang bawel dan pemarah. Biru rindu semua hal tentang rumah.