Prolog

52 1 0
                                        

Happy readingggggg!!!!

Gevania menatap sendu pria yang tengah tersenyum teduh pada seorang perempuan, sangat terlihat jelas sekali bahwa pria itu tengah bahagia sekarang.

Senyuman tipis sekaligus menyakitkan, sahabatnya ikut sedih ketika melihat Geva menyaksikan pria yang dia sukai sekaligus teman masa kecilnya tengah berpelukan seusai menembak seorang perempuan.

Senyuman kedua pasangan yang baru terjalin beberapa menit itu merekah sedari tadi, tanpa memikirkan perasaan Geva, sahabatnya.

Tania mengelus punggung sahabatnya dengan lembut, Geva tersadar. Gadis itu menatap sahabatnya yang menatapnya dengan sendu, Geva hanya menggeleng dan tersenyum tipis seolah-olah ia menjawab bahwa dirinya baik-baik saja.

Helaan nafas terdengar, perhatian Geva kembali mengarah pada pasangan itu yang tengah berada ditengah-tengah lapangan.

Dia terus menatap, dan tak sengaja Arsen menatap matanya dengan senyum tipis. Geva membalas senyuman tipis itu, dari pancaran mata sahabatnya. Arsen terlihat sangat bahagia, lagi dan lagi Geva menghela nafasnya dengan pelan.

Selama ini Arsen selalu bercerita kepadanya tentang gadis yang dia sukai. Geva yang menyimpan perasaan lebih dari seorang sahabat, tentu saja hatinya merasa sakit. Tapi apa boleh buat? Lain dimulut dan lain juga dihati.

Geva, gadis itu selalu mendukung apapun yang disukai oleh Arsen, sahabatnya. Tak pernah sekalipun Geva tak mendukung lelaki itu, kecuali jika itu mengarah pada hal yang tidak baik. Geva orang pertama yang pasti akan melarangnya!

Namun, jika itu tentang perasaan sahabatnya, dia bisa apa? Selain mendukung dan memberikan semangat pada Arsen yang mengejar-ngejar Zelia. Perempuan yang memiliki sifat lemah lembut, baik hati, ramah, dengan senyum manisnya. Itu kata orang, tapi menurutnya, gadis itu terlalu lemah jika bersanding dengan seorang Arsenio Gabriela yang mempunyai kehidupan yang cukup keras.

Memikirkan itu semua, Geva menunduk. Air mata gadis itu meleleh dengan sendirinya, perasaan yang selama ini ia tahan untuk Arsen.

Dia harus ikhlas, jika memang itu membuat Arsen bahagia, maka Geva juga akan ikut serta bahagia.

"Kita ke kelas aja ya Gev," Ujar Tania pelan, dia tadi sempat melihat air mata sahabatnya yang jatuh, dan itu membuat hatinya juga ikut merasakan sakit.

Geva menghapus pelan air matanya lalu menatap Tania, "Duluan aja Tan, gue mau sendiri dulu," Geva tersenyum tipis lalu meninggalkan Tania disana, sedangkan Tania terus menatap punggung sahabatnya dengan sendu.

"Gue harap, suatu saat nanti ada seseorang yang jauh sangat mencintai lo Gev," Lirih Tania lalu berlalu dari sana, sebelum pergi dia sempat melihat ketengah lapangan. Kedua sejoli itu masih berpelukan dengan mesra dan bahagia, Tania mengepalkan tangannya dengan mata yang menatap tajam mereka.

.
.
.
.
.

Geva telah memutuskan untuk pindah dari tanah kelahirannya yaitu Indonesia. Dia memutuskan untuk move on, dan melupakan hal-hal menyakitkan ditanah kelahirannya.

Dia juga akan memperbaiki hatinya yang hancur, ia akan memulai semuanya dari awal dan menata hatinya kembali seperti semula.

Sepulang sekolah tadi, Geva tak banyak bicara ditambah lagi sifat Geva memang lumayan dingin. Dia tak ikut makan malam dengan orang tuanya dengan alasan tak ingin diganggu untuk saat ini.

FIGURAN PEMILIK PERANHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora