01

343 37 0
                                        


Re menatap Willen yang tengah bersedih sejak beberapa hari yang lalu, jujur saja teman-temannya Willen di buat pusing akan kelakuan Willen yang aneh.

Willen terlihat seperti orang yang habis putus cinta, padahal Willen sendiri tidak pernah pacaran ataupun dekat dengan seseorang. Untuk itulah kenapa teman-temannya hanya bisa diam dan mengajaknya ke suatu tempat agar moodnya kembali, tapi itu semua tidak berhasil.

Willen kini pindah ke rumah Re yang tidak besar itu, ini adalah rumah peninggalan orang tuanya, di bawah rumah ini adalah toserba yang Re dan kakaknya kelola sendiri sejak kedua orang tuanya meninggal.

"Kasih tau gue, siapa yang lagi lo suka!"

"Gak tau, gue cuman tau mukanya doang."

"Gimana bisa lo suka sama orang yang lo gak tau namanya?!"

"Gue ketemu dia pas waktu gue bilang mau ke taman, gue berpikir kalau gue gak bakalan kayak gini, serius deh abis itu gue jadi kek aneh banget, gue kangen sama dia, dia selalu ada di otak gue, bahkan pas gue belajar aja kek jadi gak semangat soalnya gak ada dia."

"Natjis, bibit-bibit bulol."

"Re... Gue harus apa???"

"Gue mau ngasih saran juga gak bener nantinya, lagian belom tau siapa yang lo suka tuh bikin gue bingung."

"Huaaa mau dia Re!"

"Kalo lo tau orangnya, nanti gue cariin deh, kebetulan temen gue banyak."

"Hts?"

"Temen anjrit."

"Fwb?"

"Temen nyet!"

"Hts berarti."

"Anjing emang lo ya."

Re menatap Willen dengan pandangan penuh kebingungan dan sedikit frustrasi. Ia tak pernah melihat sahabatnya seperti ini—terjerat oleh perasaan pada seseorang yang bahkan namanya pun tak diketahui.

Re mencoba mengingat kembali obrolan mereka beberapa hari yang lalu, saat Willen pertama kali bercerita tentang pertemuannya dengan gadis di taman itu.

Entah mengapa, sejak itu, Willen berubah menjadi sosok yang lebih pendiam dan melankolis, sesuatu yang tidak biasa bagi sahabatnya yang biasanya penuh semangat dan tawa.

"Re, gue serius. Gue nggak bisa berhenti mikirin dia," keluh Willen, kali ini nadanya terdengar putus asa.

Re menarik napas panjang, mencoba mencerna situasi yang sedang dihadapi sahabatnya. "Ya udah, lo tenang dulu. Kita coba inget-inget lagi, waktu lo ketemu sama dia, ada tanda-tanda khusus nggak? Ciri-ciri fisik? Mungkin ada sesuatu yang bisa bikin kita nyari dia."

Willen berpikir sejenak, memutar kembali ingatannya tentang malam di taman itu. "Dia cantik, Hitam, panjang sebahu, dan lurus. Matanya indah banget dan ada senyum tipis di wajahnya meski lagi sedih. Tapi selain itu... Gue nggak inget banyak."

Re menepuk dahinya, merasa makin frustasi. "Serius lo cuma inget segitu doang? Ya ampun, ini kayak nyari jarum di tumpukan jerami! Lagian mendingan gue nyari jarum di tumpukan jerami dari pada nyari manusia, lo pikir yang bentuknya kayak gitu dia doang? Kagak bjir, ini mah gue ngebantuin elo sama aja ngebuat gue gila."

"Tapi... gue inget ada kalung yang dia pake," Willen menambahkan tiba-tiba, matanya berbinar seolah menemukan petunjuk penting. "Kalungnya bentuknya unik, kayak perhiasan lama gitu. Gue yakin itu bisa jadi petunjuk."

Re mengangguk perlahan, merasa sedikit lega. "Oke, itu udah mendingan. Kalungnya kayak gimana? Ada ciri khas apa?"

Willen menggambarkan kalung itu sebaik mungkin—sebuah liontin kecil berbentuk bulan sabit dengan ukiran halus di sepanjang tepinya.

Mendengar deskripsi itu, Re teringat akan salah satu toko perhiasan antik yang pernah ia lewati di kota. Mungkin saja gadis itu membeli kalungnya di sana, atau setidaknya, ada informasi yang bisa mereka dapatkan.

"Willen, lo beneran jatuh cinta ya?" Re bertanya dengan nada yang lebih serius.

Willen terdiam sejenak, kemudian mengangguk pelan. "Kayaknya iya, Re. Gue belum pernah ngerasa kayak gini sebelumnya. Dia... ada sesuatu yang bikin gue nggak bisa berhenti mikirin dia."

Re kali ini dapat menyimpulkan kalau sahabatnya ini sedang jatuh cinta kepada seseorang yang tidak sahabatnya kenal, memang aneh tapi kita sering begitu kan?

Re menepuk bahu Willen dengan penuh semangat. "Sulit sih nyari orang dengan apa yang lo deskripsikan itu, tapi ya gak ada yang mustahil juga, kita jalanin aja. Lagian kalau memang jodoh, pasti ketemu lagi. Kalau enggak, ya lo bisa move on dan cari yang lain."

Willen mengangguk pasrah, seharusnya ia menanyakan nama perempuan itu pada malam mereka berdua tidak sengaja bertemu di taman itu, kalau memang berjodoh pasti akan tetap bertemu.

Sebuah perkataan yang membuat Willen semangat.

























to be continue......

































Lagi mood nulis aja seh🗿

Btw, apa yang ada di dalam cerita ini 100000000000000% fiksi ya bestie, gak ada sangkut paut atau nyangkut menyangkut ke rl idol, ok?

Popcorn!Where stories live. Discover now