Lia mewarisi kekayaan dari orang tua angkatnya, tapi trauma masa lalu membuatnya terjebak dalam ketakutan dan menjauh dari kepercayaan. Sementara itu, Tarkken, yang kuat namun memiliki pandangan prejudis terhadap perempuan, menganggap hidup sebagai...
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
"Karena kau, anakku tidak mau mengikuti apa yang aku perintahkan. Aku menyekolahkannya di sini supaya menjadi PNS, tapi kau malah mengajarkan hal yang tidak-tidak. Kau mau merusak masa depannya, ha?" Wanita yang berteriak dan menganggap diriku merusak masa depan anaknya adalah salah satu wali murid dari siswi bernama Laras.
Amarahnya memuncak, dan aku bisa merasakan setiap kata yang dilontarkan menusuk telingaku, Aku menarik napas dalam-dalam dan menjawab, "Saya tidak berpikir seperti itu, Bu. Saya hanya bermaksud untuk mendukung minatnya dan mengasahnya."
Wanita tersebut menggenggam erat tangannya, rahangnya mengeras, dan ada kilatan tajam di matanya yang menunjukkan emosi yang nyaris tak terkendali. "Aku masih sabar sekarang. Sekali lagi kukatakan, jangan mempengaruhi anakku. Kau pikir dia akan menjadi apa kalau bernyanyi? Dia tidak akan menjadi apa-apa."
"Dia bisa jadi penyanyi dan mendapatkan uang, kok, Buk. Seperti artis-artis di luar sana," ucapku dengan napas yang berat, berusaha menahan gejolak amarah di dadaku karena dituduh yang tidak-tidak. Rasa frustrasi dalam diriku semakin meningkat, namun aku tetap berusaha menjaga nada suaraku agar tetap tenang, meskipun setiap kata terasa seperti beban yang harus kuangkat.
Dalam pikiranku, aku benar-benar tidak suka dengan orang-orang yang tidak tahu diuntung ini. Aku sudah membuat sekolah murah di tengah desa ini, bukannya bersyukur, malah marah-marah tidak jelas dan menuduh yang tidak-tidak. Tidak hanya itu, sekolah ini juga dipungli oleh preman-preman di sini-apa-apaan dengan desa ini.
Dengan melihat saja, Aku bisa tahu kalau Orang tua Laras ini sudah tidak kuat menahan emosinya. "Kau jangan sok tahu ya, aku lebih tahu masa depan Laras daripada kau. Dia tidak mungkin menjadi penyanyi, kau pikir berapa juta orang yang gagal menjadi penyanyi di luar sana, hah!? Jangan sok mengajarkan aku ya," wanita itu mengatakannya dengan jari telunjuk yang mendorong-dorong dadaku.
"Bukan maksud saya mengajari ibu......"kalimatku terhenti karena tamparan kesal dari Orang tua Laras.
Suara tamparan itu mengejutkan semua orang yang ada di kantor dan ruang rapat, termasuk Laras yang berdiri di samping ibunya. Rio dan Ariel bergegas menjauhkan orang tua tersebut dariku. Atmosfer di ruangan semakin tegang, dan semua mata tertuju pada insiden yang baru saja terjadi, menambah rasa tidak nyaman di antara kami.
Dengan tangannya yang berusaha menjauhkan diriku dari Orang tua Laras, Arie mengatakan, "Bu, tolong jangan ada kekerasan." Arie berusaha menenangkan situasi yang semakin tegang, sementara suasana di ruangan terasa semakin tegang.
"BERISIK KALIAN! WANITA INI PIKIR DIA BISA MENGAJARIKU?! Dengar baik-baik, bocah, aku sudah jauh lebih banyak merasakan asam garam kehidupan dibanding dirimu. Anakku ini bodoh dan tidak bisa jadi penyanyi, jadi jangan sok tahu!" teriaknya sambil menunjuk-nunjuk ke arahku dan hentakan kaki untuk membuatnya terlihat berkuasa, wajahnya memerah, sementara Ariel dengan susah payah menahannya untuk tidak mendekat kepadaku.