"Alena pilih ikut Ayah atau Bunda?"
Dirinya baru saja menginjakkan kaki di lantai rumah besar itu. Namun, dia sudah harus disuguhkan dengan pertanyaan yang tak ingin dia dengar dari mulut Bundanya.
Sedangkan Ayah hanya bisa diam sambil menatap dalam kearahnya. Pria itu tersenyum tipis dan mengangguk, seolah mengatakan bahwa Alena bebas memilih untuk ikut dengan siapa saja.
"Ale mau sama Ayah aja." Jawaban itu membuat Ayah terdiam.
Dia tidak menyangka jika Alena akan memilih untuk ikut dengannya. Yang dia tahu, Alena lebih dekat dengan istrinya daripada dirinya.
"Kenapa gak ikut Bunda saja, Sayang?" tanya Bunda.
"Ale gak mau ninggalin Ayah sendiri di sini." Hanya itu jawaban yang Alena keluarkan.
"Terus, Alena mau biarin Bunda sendiri?"
"Bunda gak sendiri. Ale tahu, kok, kalau Bunda mau menikah lagi kan? Jadi biarin Ale tinggal sama Ayah, Ale gak mau rusak kebahagiaan Bunda sama calon keluarga baru Bunda." Kedua pasangan paruh baya itu terdiam.
Bagaimana bisa Alena tahu tentang itu? Padahal mereka tak mengatakan apapun tentang ini.
"Ale tau?" tanya Bunda.
Alena mengangguk. "Ale tau, bahkan Ale pernah lihat Bunda di kafe sama calon keluarga Bunda," jawab Alena.
Memang Alena sempat mendengar perdebatan kedua orangtuanya. Dan dia juga pernah melihat Bundanya tengah makan di kafe dengan seorang pria yang mungkin seumuran dengan Bunda, dan seorang anak perempuan yang mungkin hampir seusia Alena.
Alena marah? Tentu saja, di saat dia ingin keluarganya kembali hangat dan utuh, dia malah melihat Bundanya bersama dengan orang lain. Bahkan mereka terlihat seperti keluarga bahagia.
"Ale gak papa kalau Bunda emang mau nikah dan tinggal sama keluarga baru Bunda. Ale di sini sama Ayah aja, Ale gak mau tinggalin Ayah sendiri." Alena berkata sambil menatap Ayah yang juga menatapnya teduh.
Ayah tidak bersalah, memang Ayah selalu sibuk kerja dan jarang ada waktu dengan keluarga. Namun, Ayah tak seperti Bunda, mencari kenyamanan dengan orang lain dan melupakan fakta bahwa dia sudah memiliki suami dan anak.
Alena juga tak menyangka, kalau Bunda berani sampai sejauh ini. Dia juga marah, dia tak ingin Bunda meninggalkan dirinya dan Ayah. Tapi, dia tak ingin egois, jika Bunda tidak Bahagia dengan mereka dan lebih bahagia dengan orang baru, maka Alena akan mengikhlaskannya.
"Kalau Ale mau, Ale bisa ikut sama Bunda. Di sana nanti kamu ada Bunda yang urus, kalau di sini Ayahmu sibuk kerja dan jarang di rumah." Bunda mencoba untuk membujuknya.
Namun, Alena lagi-lagi menggeleng. "Ayah kerja buat Ale. Ale gak papa kalau Ayah jarang di rumah, asal Ayah gak cari istri baru," kata Alena.
Perkataan itu menampar telak Bunda, dia tau yang Alena maksud adalah dirinya.
"Ya udah, kalau kamu gak mau ikut Bunda. Tapi kamu bisa kapan saja datang ke rumah Bunda, pintu rumah Bunda terbuka lebar untuk kamu." Alena hanya bergumam saja.
"Kalau gitu Bunda pamit dulu." Ah! Sepertinya Bunda memang sudah sangat ingin cepat-cepat keluar dari rumah ini.
Lihatlah! Bahkan dia sudah menyiapkan barang-barang yang akan dia bawa. Dua buah koper berukuran besar dia seret keluar dari rumah yang sudah tak hangat itu. Meninggalkan banyak kenangan, manis maupun pahit, dan meninggalkan orang yang pernah sangat Berarti di hidupnya.
Alena dan Ayah tak mengantarkan Bunda bahkan sampai di depan pintu. Keduanya masih diam di ruang keluarga dengan diselimuti keheningan.
"Ale gak papa tinggal sama Ayah?" tanya Ayah.
Ale menggeleng. "Enggak, Ayah. Ini udah jadi pilihan Ale, kalau Ale ikut Bunda, nanti yang temani ayah di sini siapa? Yang siapin sarapan buat Ayah siapa? Ale gak akan tinggalin Ayah, selama Ayah juga gak tinggalin Ale dan cari keluarga baru kaya Bunda." Ayah melihat tatapan memohon dari anaknya.
Ayah mendekat kearah Ale, memeluk tubuh putri satu-satunya itu dengan erat. Mengelus surai milik putrinya, dan sesekali meninggalkan kecupan hangat di kepala putrinya.
"Ayah gak akan tinggalkan Ale, kamu bisa pegang janji Ayah. Bagi Ayah kamu sudah cukup."
Alena bahagia, setidaknya dia masih memiliki Ayah yang tidak akan meninggalkannya seperti Bunda. Alena juga berharap Ayah tetap bersamanya dan menepati janjinya.
ESTÁS LEYENDO
Bait Bahagia Untuk Ayah
De TodoAyah, satu sosok yang Alena jadikan sebagai alasan dia tetap bertahan. Alena memang menginginkan keluarganya kembali utuh seperti dulu. Namun, dia tak akan egois jika Bunda lebih bahagia dengan keluarga barunya. Jika Ayah berjanji akan tetap bersama...
