PERHATIAN!
- Ini hanya cerita fiksi belaka.
- Mungkin akan ada beberapa kata kasar, saya mohon untuk lebih bijak dalam membaca.
- Jangan ditiru adegan yang tidak baik.
• • ~ • •
Pagi yang indah bagiku, langit dihiasi dengan awan hitam yang menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Suasana yang sangat nyaman untuk melanjutkan tidurku, aku kembali menarik selimutku hingga menutupi kepala. Aku ingin izin sakit saja hari ini, malas pergi ke sekolah hanya untuk sekedar mendengar guru mengomel.
"Aku datang mimpi indah."
Tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar, seseorang membukanya dengan kasar hingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Aku mengernyitkan dahi, kesal dengan suara sialan itu. Terlihat seorang wanita berkacamata dengan rambut ikat kuda berdiri diambang pintu kamarku, ditangannya terdapat sebuah rotan panjang yang siap memukul siapa pun yang mengganggunya.
"Anak pemalas! Cepat pergi ke sekolah! Tidak ada alasan untuk tidak pergi ke sekolah!"
Dia menyibak kasar selimut yang menutupi tubuhku, dengan pasrah aku duduk, melempar tatapan tajam ke arahnya. Namun wanita itu tak mau kalah, dia balas melotot ke arahku. Aku memutar bola mata malas, lalu dengan pasrah bangkit dari kasur kesayanganku.
Langkahku pelan menuju kamar mandi, sesekali melirik ke arahnya. Dia bersedekap dada, rotan itu tak mau lepas dari genggamannya. Aku bergidik ngeri melihat penampakan wanita ini yang seperti nenek sihir bagiku.
"Apa lihat-lihat?! Cepat mandi sana!"
"Iya-iya, cerewet banget sih jadi cewek."
"Apa katamu?! Mau aku pukul ya?!"
Aku bergegas masuk ke kamar mandi, dia mengejarku namun sempat kuhalangi dengan pintu. Akhirnya dia menyerah dan pintu berhasil ditutup dengan rapat, aku mandi dengan damai di dalam sana.
Akhirnya aku selesai dengan acara mandiku, kedua tanganku sibuk mengeringkan rambut. Tatapanku kembali bertemu dengan wanita itu, dia sedari tadi masih berdiri di tempat yang sama sebelum aku masuk ke kamar mandi.
Raut wajahnya tetap seperti terakhir kali aku lihat, aku mengabaikannya. Aku sibuk dengan memakai seragam dan menyiapkan beberapa buku pelajaran, tanpa kusadari wanita itu telah menghilang dari kamarku.
Aku mengamati sekeliling, tak ada keberadaan kakakku di kamar. Aku mengenakan tasku dan berjalan keluar kamar, pandanganku masih mencari keberadaannya. Aku menuruni tangga, tetap mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Namun, aku tak menemukan wanita itu.
"Sudahlah! Mungkin dia sudah berangkat kerja."
Terdengar suara hujan dari luar rumah, aku melirik ke arah jendela ruang tamu, hujannya cukup deras. Aku ingin kembali saja ke kamar dan tidur, tapi aku tak ingin kakakku memarahiku lagi. Dengan pasrah, aku melangkah keluar rumah, tak lupa aku mengenakan jas hujan agar seragamku tak basah.
Aku mengunci semua bagian pintu, lalu memasukkan kuncinya ke dalam tas. Aku kembali mengecek isi tas, barang kali ada yang tertinggal. Tapi, semua sudah aman, tak ada yang tertinggal.
Aku berjalan sendirian di bawah guyuran hujan, hingga langkahku tiba di gerbang sekolah. Beberapa siswa lainnya memakai mobil, namun ada juga yang memakai payung untuk menutupi dirinya dari hujan. Hanya aku sendiri yang memakai jas hujan, terserahlah, aku tak peduli. Aku tetap melanjutkan langkahku melewati halaman sekolah yang luas, berharap sampai dengan cepat ke kelas.
Tiba-tiba seseorang berjalan tepat di sampingku, dia mengarahkan payungnya padaku. Ibarat seperti sepayung berdua, aku mendongakkan kepala, melihat wajah sialan yang seharusnya tak aku lihat pagi ini.
"Reyna, kenapa tidak pakai payung? Nanti kamu sakit lho karena kena hujan."
"Matamu buta ya?!"
Sudah jelas aku mengenakan jas hujan! Jas ini sama saja dengan penangkal hujan! Aku mempercepat langkahku, namun dia tetap bisa mengejar langkahku. Dia tetap memayungiku, tentu aku kesal dan langsung menginjak salah satu kakinya, membuatnya meringis kesakitan, aku menggunakan kesempatan itu untuk berlari menjauh darinya.
Laki-laki remaja yang satu sekolah denganku ini memanggilku, namun aku berpura-pura tak mendengarnya dan terus berlari. Ya Tuhan, ini semester pertama di kelas 2 SMA. Seharusnya aku memulainya dengan bahagia, bukan dengan bertemu wajah sialan itu.
"Baru saja aku sampai disekolah, malah ketemu sama cowok menyebalkan itu!"
Tibalah aku di teras gedung sekolah, aku melepaskan jas hujan dan mengeringkannya di tempat yang tak terkena hujan. Langkahku memasuki gedung, melewati lorong yang dihiasi dengan loker para murid. Aku berhenti di depan lokerku dan membukanya, tatapanku tertuju pada sebuah surat putih yang dihiasi dengan stiker hati merah.
"Ah, ini pasti surat cinta."
Aku meraihnya dengan terpaksa, melihat nama yang tertulis di depan surat putih itu. Ingin aku remas kertas itu, namun aku menahannya. Aku mengamati sekeliling, melihat berbagai macam siswi melewati lorong ini. Tatapanku mendapati seseorang yang kukenal sebagai pengirim surat ini, karena kesal aku pun meneriakinya.
"Woi! Ajin!! Sini kau!"
Namanya Ajin, salah satu siswi yang tak berguna dan hanya sebagai figuran dalam cerita ini. Dia kukenal sebagai penggemar berat laki-laki sialan itu, dia dengan kesal mendatangiku, aku pun menatapnya tajam. Tanganku menyodorkan surat cinta itu, kedua matanya terbelalak kaget, dia langsung merampas kasar dari tanganku. Dia mengecek surat itu berkali-kali, memastikan isinya masih utuh.
"Kenapa suratku ada padamu?! Kamu mencurinya ya?!"
"Hei, bodoh! Kau pikir aku akan mengambil kertas sampah seperti itu?! Lagi pula ini salahmu karena kau meletakkan suratmu di loker yang salah!"
"Hah?! Salahku?! Kalau begitu suratku masuk ke lokermu?! Aaa! Loker milik ketua OSIS di mana?"
Dengan malas, aku menunjuk loker di sebelahku. Loker sang ketua OSIS sialan, loker itu dihiasi dengan berbagai macam stiker bentuk hati dan surat yang terlihat penuh hingga mencuat keluar dari loker.
Astaga, ini bukan pertama kalinya aku dituduh mencuri surat cinta orang lain. Mereka saja yang terkadang salah memasukkannya, bukan salahku. Para gadis genit yang dibutakan cinta adalah musuhku, mereka sangat membenciku hanya karena kesalahan yang mereka buat sendiri.
"Oh, maaf ya? Mungkin karena saking gugupnya aku untuk memberikan surat cintaku padanya, sampai-sampai aku salah loker, hihihi."
Aku menghela nafas, kedua tanganku terkepal kuat disisi tubuhku. Ingin rasanya aku menampar wajah menyebalkan itu. Dia menyelipkan suratnya ke dalam loker, terlihat senyuman puas di wajahnya. Aku hanya menggeleng, menahan kesal padanya. Pandanganku beralih ke dalam loker, mendapati ada sesuatu yang mengganggu di dalam sana.
"Kecoak?"
Aku mendapati kecoak mati di dalam lokerku, ini pasti ulah para gadis pemuja laki-laki sialan itu. Aku mengamati sekeliling, mendapati sekelompok gadis yang tertawa cekikikan. Aku hanya tersenyum masam, dengan cepat aku mengambil kecoak itu dan berlari ke arah mereka. Tanganku melemparkan kecoak itu tepat di salah satu kepala mereka, mereka pun berteriak histeris.
"Aaaa!? Ada kecoak dikepalamu! Iihhh!!"
Aku tertawa puas, lihatlah betapa takutnya mereka hanya karena kecoak. Para murid lainnya hanya terdiam, tentu tak berani tertawa karena sekelompok gadis itu cukup berpengaruh di sekolah ini. Mereka hanya terdiri dari beberapa murid kelas atas, orang kaya dan pintar. Namun itu tak bisa membuatku takut pada mereka, di mataku mereka hanya sekelompok murid yang tak punya tujuan hidup.
• • ~ • •
Hallo, saya Lathifarka. Penulis cerita novel online ini, semoga kalian menyukai cerita ini ya. Jangan lupa vote dan beri semangat kepada penulis novel ini ya. Sampai jumpa di chapter selanjutnya, jangan sampai ketinggalan info selanjutnya ya!
YOU ARE READING
Soft Bad Human Love [TAHAP REVISI]
RomanceKisah remaja yang jatuh cinta, Reyna sang gadis kasar yang dibenci oleh banyak orang, namun sangat di puja oleh seseorang bernama Ryan. Dia laki-laki yang sempurna, idaman para gadis di sekolah. Sayangnya Reyna tak menyukainya dan memilih menjauh ka...
![Soft Bad Human Love [TAHAP REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/375429502-64-k544651.jpg)