Elisa berdiri di depan cermin, mengenakan jubah putihnya yang baru. Dia memandangi bayangannya, merasakan campuran kebanggaan dan kecemasan. Hari ini adalah hari sumpahnya, simbol dari segala kerja keras dan pengorbanan yang telah dilalui selama bertahun-tahun. Di luar ruangan, suara riuh teman-teman sekelasnya mengisi udara, namun pikirannya melayang jauh pada tawaran Professor Mustafah.
"Ladies and gentlemen, it is with great pleasure that we invite to the podium our distinguished student, Elisa Adiyakana, to deliver a few words. Elisaadyakana has demonstrated exceptional achievement and dedication throughout their studies, and we are honored to have them share their thoughts and experiences with us today."
Suara riuh teman-teman sekelasnya mengisi udara beramai ramai mengucap selamat.
Setelah upacara, saat seluruh mahasiswa berfoto bersama, seorang profesor menghampirinya. "Elisa, saya punya tawaran menarik untukmu," katanya, menyodorkan amplop. "Kami butuh dokter di Palestina. Ini adalah kesempatan untuk berkontribusi dalam membantu mereka yang membutuhkan."
Elisa tertegun. Palestina? Negara yang tidak pernah terpikirkan untuk menginjakkan kaki kesana. Meskipun hatinya berdebar, rasa tanggung jawabnya sebagai seorang dokter muncul. Setelah mengucapkan terima kasih, ia melangkah keluar, mencium aroma segar setelah hujan.
Saat berjalan pulang, teman sesama dokter berlimba mengucapkan selamat dan meminta mengabadikan momen ini, namun pikirannya melayang jauh pada tawaran Professor Mustafah Onur.
Di sisi lain, Edward duduk di dalam pangkalan militer, merasa gelisah. Dia baru saja kembali dari misi, dan meski dikelilingi oleh rekan-rekan, hatinya kosong. Sejak kecelakaan yang menyebabkan amnesia, kenangan akan masa kecilnya terhapus. Namun, ada sesuatu yang berbeda ketika ia mendengar nama Palestina. Sebuah rasa familiar muncul, namun menyakitkan. Ia meraih kepalanya, berusaha mengingat, tetapi hanya mendapatkan rasa sakit.Ketika Elisa tiba di Palestina, suasana di sekelilingnya mengingatkannya pada anak-anak yang bermain di taman. Dengan semangat untuk membantu, ia tidak menyangka bahwa pertemuannya dengan Edward akan menjadi titik balik dalam hidupnya. Dua jiwa yang terpisah oleh waktu dan pengalaman kini harus menghadapi kenyataan: masa lalu yang hilang, dan rasa sakit yang tak terelakkan saat mengenang.
Sementara di perbatasan gaza, Edward mulai merasakan kehadiran Elisa dalam setiap detik pelatihan dan tugasnya. Mungkin, hanya mungkin, dia akan menemukan kembali bagian dari dirinya yang hilang. Dan di antara kebisingan peluru dan harapan yang suram, s
YOU ARE READING
Nostalgic
RomanceNostalgia mengisahkan perjalanan hidup Elisa, Mahasiswi berprestasi lulusan kedokteran METU Turki. Di hari sumpahnya, Elisa menerima tawaran untuk bertugas di Palestina, sebuah keputusan yang mengguncang hidupnya. Di sana, ia bertemu kembali dengan...
