Di sini awal mula semua terjadi,
dibawah langit biru kami bermimpi,
diatas marcapada kami berdiri.
—
Rebah Marcapada.
-
Arista termenung dikamarnya, dia sedang dilanda galau yang menurut dirinya cukup serius. Bukan perkara cinta, ini semua perkara ketiga teman dekatnya yang tiba - tiba berjarak dan saling menjauh. Arista benci mengakuinya tapi dia sungguh tak tau apapun perkara ini, saat dia bertanya kepada Raya dan Berta mereka hanya mengatakan bahwa Ardhiona yang menjauhi mereka duluan. Arista tak mau mengambil kesimpulan langsung, bagaimanapun ia belum melihat sisi Ardhiona.
Arista semakin pening kala menyadari Ardhiona semakin menjauh dan seperti tak menyukainya, ia tak mau dijauhi begitu saja. Setidaknya Ardhiona harus mengatakan sesuatu padanya, Arista beberapa kali mencoba berkomunikasi melalui pesan online namun nihil, Ardhiona selalu mengelak.
Menginjak kelas 12 Arista menyadari bahwa people Come n go itu bisa terjadi terhadap siapapun dimanapun dan kapan pun, tanpa aba aba tanpa bisa diterka layaknya cuaca.
Kisah ini Arista mulai disaat hubungannya dengan ketiga teman dekatnya yang sekarang rumit, namun hal tersebut membawa sebuah hubungan baru dengan beberapa orang baru dengan kebahagiaan baru dan tak luput dari goresan luka baru.
Semua ini mulai terjadi tak kala Ardhiona menghubungi Arista, yang awalnya Arista kira untuk memperbaiki hubungan nyatanya Ardhiona hanya menanyakan perihal les mereka.
—
Pak Nirwa guru les mereka berkata pada Ardhiona bahwa ia tidak akan membuka kelas les untuk kelas 12, Ardhiona bertanya terhadap Arista apa dia juga dihubungi Pak Nirwa mengenai ini?
Baru ingin membalas, Pak Nirwa ternyata menghubungi dirinya dan sesuai perkataan Ardhiona bahwa ternyata beliau tidak membuka kelas les untuk kelas 12.
Arista langsung kelimpungan kalut dalam pikirannya, Ayah ibu nya pasti menyuruhnya mencari les di tempat lain. Arista pusing, tempat les baru berati dia harus beradaptasi lagi di tempat baru dan Arista tidak siap untuk itu.
Berita baiknya saat acara studycampus Ardhiona menghubunginya, ternyata ia tak melupakan dirinya begitu saja.
"Ta habis ini temuin gua belakang bis 5 ya, ada yang mau gua omongin," Ujar Ardhiona di seberang telepon, mengharap Arista mau menemui dirinya.
Tentu saja tanpa dipaksa Arista pasti langsung menemui Ardhiona, dia langsung bergegas turun dan berjalan terburu - buru demi menemui Ardhiona. Arista sangat senang karena setelah sekian lama Ardhiona mau berbincang dengan dirinya lagi.
Saat melihat keberadaan Ardhiona, Arista langsung berlari hingga terjatuh di depan sekumpulan pria kelasnya. Arista sangat malu, hingga dia langsung berdiri lagi dan berlari lagi untuk menemui Ardhiona. Ardhiona yang melihat Arista jatuh juga langsung beranjak dari tempat nya dan menghampiri kawannya itu, dia sempat reflek tersenyum melihat kecerobohan Arista yang jatuh di depan para anak kelas Mipa 5 dan disana juga ada pujaan hati Arista.
"Lo gapapa ta? Lagian Lo ngapain lari lari?" Tanya Ardhiona sambil membantu Arista membersihkan celana nya yang kotor akibat jatuh tadi.
"Hehehehehe, gapapa kok dhi," jawab Arista sambil tersenyum sumringah.
Sejujurnya senyum yang ditampilkan Arista sedikit menyakiti hati Ardhiona, bagaimana bisa Arista tetap santai dan tersenyum ke arahnya setelah dia bahkan tidak memperdulikan dirinya selama beberapa waktu belakangan ini? Sungguh bagi Ardhiona, Arista yang seperti itu membuatnya merasa sangat bersalah di satu waktu. Arista juga tidak menuntut jawaban darinya dan cenderung memberikan ruang bagi dirinya untuk berdamai dengan keadaan, walau tak dapat dipungkiri setiap hari Arista mengiriminya sebuah pesan singkat menanyakan kabar, atau pun perasaan nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
rebah marcapada
Teen Fictiondibawah langit biru kami bermimpi, diatas marcapada kami berdiri. ©ursunnysideup [fidysun]
