Biarkan Aku Berubah

23 5 0
                                        


"Namaku Seruni, aku cantik, beruntung, mandiri dan mendapatkan semua cinta yang aku inginkan."

Perlahan namun tegas kalimat itu terus meluncur dari bibir mungilnya, sementara kedua tangannya lincah mengenakan kerudung. Beberapa detik matanya menatap tajam bayangan yang terpantul dari cermin setinggi tubuhnya. Embusan nafasnya diatur perlahan, kemudian meletakkan kedua tangan bertangkup di dada.

"Run...Seruni..," suara Bagas membuyarkan konsentrasinya. Tanpa menyahut terlebih dahulu, tangannya menyambar tas sekolah, sebelum suara Bagas terdengar lagi tangannya sudah menarik gagang pintu.

Bagas yang berdiri tepat di depan pintu melongo bahkan sampai menarik kakinya satu langkah ke belakang. Dengan kasar mengucek kedua mata lalu kembali mengarahkan pandangannya.

"Sudah, jangan seperti orang linglung begitu. Bangun pagi, mandi, solat subuh bukan malah teriak-teriak di depan pintu kamar orang lain." Ucap Seruni sambil lalu. Bagas mengejarnya dengan penasaran memenuhi kepalanya. Ia hampir tidak bisa berpikir, bahkan kosakatanya lenyap bagai tersapu ganasnya tsunami.

Selangkah lagi kaki Seruni mencapai kursi makan, tangan Bagus berhasil menarik ujung belakang kerudung memaksanya mengehntikan semua gerakan kalau tidak hasil usahanya hamper tiga puluh menit akan sia-sia.

"Rusak, tanggung akibatnya." Seruni berkata tandas.

Bagas menahan tawa, lalu melepaskan tarikan tangannya. Memutar tubuh adiknya menghadap kearahnya.

"Nggak salah, dandan seperti ini?" tangan Bagas bergerak dari atas ke bawah diikuti sorot mata penuh tanya.

"Loh, bukannya anak gadis itu memang harusnya dandan seperti ini? Seruni balik bertanya. Sorot tajam matanya menglahkan tatapan Bagas.

"Waahh, " Kakek yang muncul tiba-tiba hendak berkomentar namun kepala Bagas yang menoleh cepat ke arahnya mengurungkan komentar Kakek. Dengan senyum mengembang disudut bibir lelaki paruh baya itu duduk, matanya kemudia memberi kode pada Seruni untuk segera duduk dan sarapan.

"Ne, boleh minta uang lebih, Runi mau beli kerudung satu lagi."

"Enak aja," serobot Bagas."Pake duit bekel kamu dong,"

Seruni kembali menatap wajah Bagas.

"Oke," jawabnya ringan.

Dahi Bagas kontan berlipat mendapat reaksi Seruni yang begitu santai. Biasanya, beuuh jauuuuhhhh banget, dengan satu kalimat seperti itu perang dipagi hari langsung dimulai dan terus akan berlangsung sampai beberapa hari sebelum ada yang mau mengalah kedamaian akan jauh panggang dari api.

"Kamu?"

"Kenapa? Aneh?" tatapan Seruni menantang sekaligus membuat hati Bagas melengos. Seolah ada getar lain yang membuatnya kehilangan selera untuk berdebat.

"Sudah, sarapannya keburu dingin," Nenek menengahi dengan meletakkan sepiring nasi goreng di depan mereka masing-masing.

"Mau tambahan berapa?" tanya Nenek lembut.

Kepala Seruni menggeleng.

"Nggak usah, Nek. Dari uang jajan Runi juga lebih dari cukup, kok."
Bagas yang mendengarnya hamper tersedak, dengan tangan kirinya dia menepuk-nepuk dadanya lalu meneguk air putih yang Seruni sodorkan.

"Makanya, kalau mau makan berdoa dulu, biar jadi daging." Seruni menahan tawa. Sepiring nasi goreng jatah dia sudah tandas. Setelah meneguk air putih hangat, dia kemudian membawa piring bekasnya ke tempat cuci piring lalu mencucinya.

Lagi-lagi tingkahnya membuat Bagas melotot kaget. Ia malah terlihat gusar dengan perubahan adiknya dalam semalam. Belum hilang dari ingatan, kejadian tadi malam. Dia dan Seruni hamper adu jotos kalau saja kakek telat masuk ke ruang tamu, padahal pemicunya hanya hal sepele, Seruni Cuma bertanya darimana Bagas jam sebelas malam baru datang. Meski tidak ada tanda-tanda habis meminum minuman yang memabukkan tapi tetap membuat Seruni tidak bisa menahan tanya.

Niatnya baik, sebagai seorang adik tak ada salahnya bertanya dari mana dan habis apa hingga lupa waktu. Tapi Bagas tidak terima, dia malah marah-marah dan memaki Seruni ikut campur dengan kehidupannya. Karena keduanya emosi dan tidak terkendali, saat tinjunya melayang sedikit lagi mengenai kepala sang adik, Kakek muncul dengan suara menggelegar menghentikan ayunan tinjunya.

"Runi, tunggu." Bagas bangkit dari kursinya. Mendekat, meneliti wajah manis itu dengan seksama diakhiri dengan ulurkan tangan meraba dahi Seruni.

"Kamu beneran nggak sakit, kan? Nggak geger otak?"

Seruni mengibaskan tangan Bagas.

"Kamu yang sakit dan geger otak." Hidung Seruni mengernyit, setelah melirik jam tangan ia kemudian melangkah mendekati Nenek dan Kakeknya, cium tangan lalu melangkah meninggalkan ruang Tengah yang sekaligus ruang makan. Teriakan Bagas tidak dihiraukan, biarkan saja jika terus meladeninya maka ia akan terlambat masuk sekolah. Bahu Seruni bergidik.

Beatstreet hitam kesayang sudah berdiri tegak menunggunya di halaman. Sehabis subuh tadi Kakek bilang kalau motornya itu sudah harus diservis, duit lagi. Helaan nafas dalam mengiringi langkahnya menaiki si hitam yang elegan, dengan sekali stater langsung menyala.

Tak lupa mengucapkan Basmalah, Seruni langsung menarik gas. Semilir angin pagi yang menyegarkan, Seruni menghirup udara banyak-banyak memenuhi rongga dadanya. Hari baru, awal dari semuanya. Kalau bukan sekarang kapan lagi? Belum pernah mencobanya, bukan? Bagaimana akan tahu hasilnya kalau tidak pernah mencoba. Takut gagal seharusnya tidak ada dalam catatan anak muda abad sekarang, karena berani mencoba dalam kebaikan, percayalah akan membuat hati dan pikiran tetap tenang. Kalimat Panjang itu terus teriang di telinga, memenuhi kepala Seruni yang pada akhirnya membuat semangatnya semakin menyala.

Jarak sekolah dari rumah hanya sepuluh menit perjalanan, kadang bisa kurang kalau Seruni menarik gas lebih kencang dan suasan jalanan sangat mendukung, sesekali saat tidak mendukungpun ia suka lupa kalau jalanan bukan hanya miliknya. Ada banyak nyawa berkeliaran yang seharusnya dihargai juga. Itu dulu, sampai hari kemarin. Dari hari ini hingga ke depan tak akan ada lagi hal-hal seperti itu, kecuali dalam keadaan mendesak.

Seruni tiba digerbang sekolah. Dengan mengangguk hormat disertai senyum manis ia menyapa Pak Satpam.

"Pagi, Pak."

Senyuman Seruni melebar begitu menerima tatapan heran dari Satpam sekolah. Telunjuk lelaki berusia empat puluhan itu terangkat, sebelum komentar keluat dari bibirnya Seruni sudah menarik gas, melewati gerbang sekolah. Tempat parkir bawah masih kosong, Seruni tidak merubah kebiasaan, ia masih memilih memarkir motornya disana. Baginya masih terlalu tabu untuk ikut parkir dibagian atas karena akan menimbulkan banyak pertanyaan.

"Seruni?!" sebuah panggilan berbalut keheranan terdengar dari arah kanan."Beneran kamu, Runi?"

Seruni tolehkan kepala, tangannya spontan memberi hormat.

"Tepat bos," ucapnya santai."Dilarang komentar berlebihan juga dilarang berteriak kaget, apalagi cari perhatian dengan mengumumkannya melalui pengeras suara."

"Kesambet apa kamu?'

"Gugum Agung anak bapaknya satu-satunya, bersyukur dong, berarti ladang dosa kamu berkurang satu." Seruni menjentikkan jarinya. Sedangkan siswa yang ia panggil Gugum melangkah tergesa mendekat.

"Eitt...jangan coba merusak kerja kerasku," tangan Seruni menekap kerudungnya. Ia sudah menduga kalau Gugum akan menarik kerudungnya.

"Katanya panas pake kerudung, kenapa sekaramg berbelot?"

"Berbelot kearah yang lurus apa salah? Sudah, ah, terlambat nih. Ada PR kan dari Bu Dian, lupa." Seruni tertawa pelan kemudian berlari kecil menuju kelas. Gugum mengejar dibelakangnya sambil terus geleng-geleng berpikir kalau Seruni benar-benar sudah kesambet. Seruni juga lupa, akan banyak pertanyaan yang harus dia dengar berhubungan dengan perubahan yang mendadak.

Impian SeruniTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang