kandiva mengendarai motornya secara ugal ugalan seperti orang yang kesetanan, dia tidak peduli kepada pasang mata yang melihatnya dengan tajam di sepanjang jalan, tujuannya kali ini hanya satu yaitu bertemu dengan gadisnya yang sangat ia cintai.
ketika sampai Kandiva langsung memarkirkan motornya asal, ia segera berlari ke pintu utama dan mengetuk pintu.
alih alih di buka, rumah ber-cat putih ini seperti sudah tidak ada penghuninya karna lampu yang temaram dan sunyinya malam membuat bulu kuduk siapa saja seakan berdiri.
tok tok tok
wajar saja sangat sunyi di karenakan waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 di pastikan sang pemilik rumah sudah tertidur lelap, apalagi cuaca malam ini lumayan dingin dan sedikit mendung.
ketika Kandiva membalikkan badannya, pintu itu terbuka dan menampilkan seorang gadis cantik berambut panjang yang dibiarkan terurai begitu saja.
"raya, kakak lo?" tanya Kandiva.
ternyata gadis itu adalah Raya.
"itu orangnya" Raya menunjuk ke arah Reyna yang sedang menuruni anak tangga. "gw duluan yaa kak" Raya langsung berlari kecil ke arah kolam renang.
ketika jarak mereka semakin dekat, Kandiva tanpa sengaja melihat kedua pipi milik gadisnya itu basah, dia yakin pasti Reyna masih menangis sedari tadi.
kedua tangan Kandiva mengusap bekas air mata yang berada di kedua pipi milik Reyna.
"udah aku bilang jangan nangis, kenapa masih nangis hmm?" tanyanya dengan lembut.
Reyna tidak menjawab ucapan Kandiva, dia justru menundukkan kepalanya kebawah, ia tak berani berkontak mata dengan mantan kekasihnya itu.
"lihat aku sayang" Reyna langsung menatap mata teduh milik Kandiva.
"don't cry, it's okay" ucapnya lirih.
"aku-aku gak bermaksud ka-kayak gitu" ucapnya sambil mengusap air matanya yang tiba tiba mengalir begitu saja.
"udah yaa jangan nangis" Kandiva memeluk erat tubuh mungil milik Reyna, di peluknya dengan penuh kasih sayang, di elusnya juga puncak kepala Reyna agar gadis itu merasa sedikit nyaman.
sesaat Kandiva ingin melepaskan pelukannya, justru Reyna lah yang semakin mengeratkan pelukan itu di tubuh atletis milik Kandiva.
"jangan di lepas" ucap Reyna di tengah tengah tangisnya.
Kandiva mengangguk lemah, tetap di elusnya puncak kepala gadisnya itu dengan tulus.
"mau pelukan terus sampe pagi?" tanya Kandiva yang di berikan gelengan lemah dari mantan kekasihnya itu.
"a-ayo duduk disana dulu" pinta Reyna.
Reyna membawa Kandiva di sebuah kursi panjang yang cukup untuk di duduki dua orang.
lagi lagi Reyna menangis.
"sayang kenapa masih nangis?" Kandiva bersusah payah menghapus air mata yang terus mengalir dari pelupuk mata mantan kekasihnya.
"kamu pasti tersinggung yaa sama ketikan aku tadi?" ucapnya dengan gugup. "kalo kamu mau bentak aku gapapa kok" ucapnya lagi.
"hei dengerin aku, aku sama sekali ngga tersinggung sama ketikan kamu sayang, aku kesini juga bukan karena aku mau marah marahin kamu, aku kesini karna aku gamau gadisku ini nangis terus" tuturnya dengan sorot mata yang teduh.
Reyna menatap mata teduh milik Kandiva, mata yang penuh dengan ketulusan dan kelembutan terlihat sangat jelas di depan mata Reyna.
Kandiva dengan sengaja menatap mata gadisnya dengan sangat lama, pandangannya beralih pada bibir ranum milik Reyna, dilumatnya singkat, hingga membuat gadisnya itu terbelalak kaget melihat aksi sang mantan.
"Reyna so-sorry" ucapnya gugup
Reyna tak menjawab, justru ia langsung berlari pelan menghampiri Raya yang saat itu masih berada di tepi kolam renang, dia mengajak Raya untuk masuk kedalam rumah.
Kandiva menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia frustasi dengan apa yang telah dia perbuat, kejadian tadi tidak sengaja dirinya perbuat, itu hanya ketidak sengajaan yang teramat bodoh.
"bodoh gw bodoh, gimana coba kalo sampe Reyna ilfeel sama gw, gimana coba kalo Reyna marah sama gw, gimana coba kalo Reyna mau deket deket sama gw lagi?" Kandiva mengacak acak rambutnya frustasi.
di perjalanan pulang, ia masih saja terbayang bayang kejadian yang telah terjadi beberapa menit yang lalu, Kandiva merasa tidak enak hati dengan Reyna yang saat itu sudah tidak berstatus pacarnya lagi.
sesampainya di rumahnya Kandiva langsung menuju balkon yang berada di dekat kamarnya, ia baringkan tubuhnya di kursi santai yang terletak disana, dengan ragu Kandiva membuka room chatnya dengan Reyna, segera ia menge-chat sang mantan kekasih untuk meminta maaf perihal yang terjadi tadi.
