Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Tasya, seorang wanita asal Jawa Tengah tepatnya dari Kota Jogja, kini sedang berada di Jakarta. Setelah 12 jam perjalanan dalam bus, akhirnya aku tiba di Jakarta. Dari dalam bus, aku melihat orang-orang di sini sangat sibuk dan terlihat terburu-buru. Apa memang begini kehidupan di Ibu Kota?
Aku merapikan barang-barangku dan bersiap turun dari bus. "Oke, semua barang aman. Sekarang tinggal cari tempat tinggal yang dekat dengan kampus." Untung saja aku punyNggak usah berteori kayak gini Gue bilang lu merespon aja pertanyaan gue Ngerti gue siha kenalan teman bernama Ikky, dia adalah temanku sewaktu SMP di Jogja.
Ponselku berdering, ternyata Ikky menelepon. "Halo..." jawabku. "Say, lu udah sampai belum? Kalau udah sampai share location, tar gue jemput," kata Ikky di telepon. "Udah, ini," jawabku. "Oke, nanti gue jemput ya. Paling satu jam lagi soalnya macet banget, biasalah Jakarta." "Oke," jawabku.
Sambil menunggu Ikky datang, aku melihat dari kejauhan sebuah kafe. Aku memutuskan untuk berjalan ke sana. Sesampainya di kafe, aku memilih untuk beristirahat sejenak.
"Selamat datang, Kak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya pelayan padaku. "Kak, aku mau pesan es teh manis dan mie," jawabku. "Oh... bisa, Kak. Baik, hanya itu saja?" tanya pelayan. "Iya, itu saja." "Baik, mohon ditunggu ya, Kak."
Sambil menunggu makanan datang, aku seperti biasa mengecek semua keperluan untuk kuliah. Makanan pun tiba 10 menit kemudian.
*1 jam berlalu...*
Tak lama kemudian, ponselku kembali berdering. Ternyata Ikky menelepon lagi.
"Lu di mana?" tanya Ikky. "Maaf, tadi aku lihat dari kejauhan ada kafe jadi aku ke sana. Sekalian cas HP dan cek barang-barang," jawabku. "Oh... oke, gue ke sana," kata Ikky.
Ikky pun sampai di kafe, lalu kami pergi dari sana dan naik motor yang dibawa Ikky. Sambil mengelilingi kota Jakarta, Ikky membantuku mencari kos khusus wanita yang dekat dengan kampusku.
Setelah lebih dari 3 jam mencari, akhirnya kami menemukan kos yang cocok. Meski jaraknya agak jauh dari kampus, tapi tidak apa-apa, karena ini yang paling murah dan cukup nyaman.
"Akhirnya nemu juga kos yang cocok buat lu," kata Ikky. "Maaf ya, jadi ngerepotin lu," jawabku. "Gak apa-apa. Eh, lu hati-hati ya di Jakarta. Pokoknya kalau ada apa-apa, lu telpon gue. Kalau lu kenapa-kenapa, gue bisa repot nanti, oke?" "Siap, boss!" "Oke, gue pamit dulu, masih banyak kerjaan gue." "Buset, bener-bener yah orang kota tuh ribet banget hidupnya, semua serba buru-buru." "Ya... namanya juga kerja sambil kuliah, biayanya sendiri. Dah, gue duluan." "Oke, bay-bay, hati-hati lu..."
Setelah Ikky pergi, aku langsung masuk ke kamar kos dan mulai menata barang-barangku.
*2 jam kemudian...*
Akhirnya beres juga. Baru 20 menit aku memejamkan mata, tiba-tiba pintu kamarku diketuk.
"Aduh... siapa lagi sih? Capek loh, aku mau tidur." Ternyata ibu kosku yang mengetuk pintu. "Neng, kalau ada apa-apa, bisa tanya ibu ya. Satu lagi, neng, kalau malam jangan terlalu berisik ya, soalnya tetangga sebelah suka ribet. Maaf ya neng, ibu ganggu istirahatnya. Ibu permisi dulu, ya." "Iya, Bu," jawabku.
*Hari pun berlalu...*
"Aduh! Jam berapa ini? Buset, jam 9? Ini telat aku! Aduh... hari pertama masa telat sih..." Aku buru-buru mandi dan siap-siap.
"Neng, gak makan dulu? Ibu ada masak nih," tawar ibu kos. "Maaf Bu, aku buru-buru. Nanti aja pas pulang aku makan." "Ya sudah, hati-hati neng, jangan lari, nanti jatuh. Itu tasnya kebuka." "Oh... iya, makasih Bu. Aku berangkat."
Akhirnya aku sampai di kampus tepat waktu, ya meski mepet, hanya 10 menit lagi sebelum jam masuk. Setelah mata pelajaran pertama selesai, saat jam istirahat, aku menyempatkan diri membeli makan di luar, karena di dalam kampus harganya mahal banget. Setelah jam istirahat dan pelajaran kedua selesai, aku pun memutuskan untuk pulang.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba hujan mulai turun perlahan dan semakin deras. Dari kejauhan, aku melihat sebuah kafe dengan papan bertuliskan "Café Memory." Aku berlari menuju kafe itu dengan badan yang basah kuyup.
"Permisi, maaf, boleh numpang berteduh sebentar saja?" tanyaku pada pemilik kafe.
Sang pemilik kafe menghampiriku sambil tersenyum.
"Boleh... tapi itu badan lu keringin dulu. Gue baru aja ngepel, jangan bikin kotor." "Baik Pak, maaf ya Pak bikin kotor," jawabku. "Buset, emang gue setua itu? Panggil gue Andre aja, gak usah pak-pak segala," jawab pemilik kafe. "Oh... maaf, maksudnya Bang Andre," jawabku dengan canggung. "Nah, gitu lebih enak." "Oh... udah kering belum badan lu?" "Udah, Bang." jawabku. "Ya udah, sini duduk di sana." "Iya, Bang. Makasih, Bang."
15 menit kemudian, Andre datang membawakanku semangkuk sup.
"Nih, makan biar lu gak drop. Lu kuliah kan?" "Iya Bang, aku baru aja masuk kuliah." "Oh... ngomong-ngomong, lu asal mana?" "Aku dari Jogja, baru aja pindah kemarin." "Oh... Jogja. Ngomong-ngomong, gimana? Enak gak supnya?" "Enak, Bang, hehe." "Jujur aja, itu resep baru. Jadi enak apa gak? Jangan bohong." "Sebenernya agak asin sih, Bang." "Oh... oke-oke, ntar gue perbaiki."
Setelah percakapan yang cukup lama, hujan pun reda.
"Bang, aku pamit dulu ya. Hujannya sudah reda." "Oh... iya, hati-hati ya. Kapan-kapan ke sini lagi, oke? Gue tunggu." "Oke, Bang."
Setelah berbincang-bincang dengan Andre, pemilik kafe yang baik, aku pun pamit pulang.
Sesampainya di kos, aku langsung membereskan barang-barang yang ada di tasku, lalu mandi dan beristirahat. Jujur, hari ini cukup melelahkan. Kehujanan dan hampir telat, tapi aku cukup bersyukur, karena di balik semua itu masih ada hal baik yang aku dapatkan. Aku bertemu Andre, pemilik kafe yang baik, dan ibu kos yang perhatian.