Hai hai... Cerita ini aku re-publish ya dengan sedikit perubahan..
Feel free to leave a comment..
Enjoy reading 🤗
***
"Hai... Selamat pagi.."
"Selamat pagi Mbak Viora, pesanan seperti biasa kan, mbak?"
"Iya kayak biasanya aja, makasih ya, Ta."
"Sama-sama mbak, silahkan ditunggu dulu ya, mbak."
Tidak ada yang istimewa hari ini, seperti biasa pagi ini Viora awali dengan memesan segelas coklat panas untuk menemani perjalanannya ke kantor.
Sembari menunggu pesanannya selesai, ia sempatkan mengecek email untuk memastikan lagi jadwal yang harus ia jalani hari ini.
"Mbak Vio, silahkan pesanannya, mbak," ucap seorang gadis berambut sebahu dengan senyum manisnya.
"Oh iya makasih ya, Ta.. Salam buat Dea ya, tolong bilangin nanti malem pulang kerja gue mampir ke sini lagi."
Dea adalah sahabat Viora sejak mereka duduk di kelas yang sama di bangku SMA.
Sebelas tahun bukan waktu yang sebentar untuk Viora dan Dea saling berbagi cerita. Sebagian besar peristiwa di hidup Viora, Dea ada di dalamnya, dan begitupun sebaliknya.
Jika Viora memutuskan untuk menjadi budak corporate, Dea lebih memilih untuk membuka usaha coffee shop miliknya ini.
Viora pun menjadi pelanggan tetapnya di coffee shop ini, meskipun ia bukan penggemar berat kopi.
Lambungnya memang tidak terbiasa dengan kopi. Viora merasa nyaman dengan segelas cokelat panas untuk menemaninya melewati kemacetan lalu lintas Jakarta setiap pagi.
~~~
Setelah memarkirkan mobil di basement, Viora menyempatkan diri menyapa Pak Beni, security yang bertugas jaga di lobby kantornya.
Kemudian ia beranjak menuju lift dan menekan tombol lantai 12.
"Hai, pagi guys."
Viora menyapa dua orang rekan kerjanya yang sudah ada di ruangan pagi ini.
"Pagi, Mbak Vio. Itu cokelat panas nggak pernah ketinggalan ya setiap pagi."
Celetuk wanita cantik berambut ikal yang duduk di sampingnya.
"Iya dong, ini tuh ritual pagi gue," jawabnya sambil tertawa kecil.
"Iya, Tam. Kalo Vio belum minum cokelat panas tuh, jangan harap dokumen yang seabrek itu bakal di acc sama dia."
Viora mengakui apa yang dikatakan Mas Tomy ada benarnya juga.
Kalau belum minum cokelat panas, rasanya gelisah dan mood-nya sedikit kacau.
Setumpuk dokumen di atas meja kerja sudah menyambutnya. Viora tidak akan bisa melepaskan diri dari dokumen-dokumen itu sebelum akhir tahun ini terlewati.
Empat tahun sudah ia jalani hari harinya dengan meneliti angka demi angka yang tertulis dalam dokumen-dokumen itu. Tapi anehnya, ia sangat menikmati waktu berkutat dengan angka-angka itu.
"Guys, jangan lupa nanti kita meeting jam 10 ya, jangan lupa bawa semua data-datanya," ucap Mas Tomy dari meja seberang.
"Pagi pagi tuh ngajakin sarapan dulu kali, mas. Masa udah ngomongin meeting aja."
Mas Tomy terkekeh menanggapi ucapan Tamara.
"Good morning, everyone. Pasti belum pada sarapan kan? Nih gue bawain nasi kuning buat sarapan bareng-bareng."
YOU ARE READING
Kembali
RomanceKepala Viora tak berhenti memutar kembali memori-memori 10 tahun silam. Memori yang sengaja ia letakkan jauh di dalam hatinya, berharap bisa melupakannya. Namun, ternyata hanya perlu waktu yang tepat untuknya kembali memenuhi otak Viora. Bertemu...
