[Privatter] Chauffeur

6.1K 25 0
                                        

Local!JohnJae, mpreg!Jae, boypussy!Jae, hard birth, episiotomy, vulgar local language

∘ ∘ ∘

Dengan usia kandungan yang sudah menginjak usia sembilan bulan, Dirga sudah tidak lagi mengemban kewajiban untuk menjadi sopir bagi Aditya dan anggota keluarganya. Meski begitu, ia tetap bekerja dengan mengecek semua mobil yang dimiliki oleh pengusaha kaya raya itu untuk dibawa servis secara rutin. Namun, hari ini, perutnya terasa berat dan mulai turun sehingga ia memutuskan untuk menemui Aditya di ruang kerja pribadinya. “Permisi, Pak. Ini saya, Dirga. Boleh saya masuk?” tanyanya setelah mengetuk pintu ruangan tersebut sebanyak tiga kali sambil memegangi perut besarnya. Ia juga menjaga tutur bahasa sebab ia tidak mau hubungan rahasianya dengan sang majikan diketahui oleh orang lain.

Mendengar ketukan di pintu dan suara Dirga, Aditya menjawabnya singkat, “Masuk,” sebelum kemudian melanjutkan obrolan dengan salah seorang rekan bisnis yang sedang berada di ruangan tersebut. Begitu ia melihat Dirga membuka pintu perlahan dan masuk, ia langsung bertanya, tidak mau banyak berbasa-basi, “Ada apa?” Tatapan datar diarahkan pada lelaki hamil yang berusia sedikit lebih muda darinya itu.

Dirga melangkah masuk sembari memegang perutnya sendiri. Kemeja yang menjadi seragam kerjanya sudah begitu ketat membungkus perut buncit berisi janin buah cintanya dengan Aditya, majikannya sendiri. Karena menyadari ada rekan bisnis Aditya, ia bingung memberi tahu Aditya tentang keadaannya. “Saya ada laporan penting, ini mengenai salah satu mobil Bapak yang minggu lalu rusak,” jelasnya seraya mengusapi perut yang terasa sedikit nyeri.

Setelah mendengar penjelasan Dirga, Aditya mengangguk. “Langsung diurus. Saya nggak punya waktu untuk dengar keluhan soal mobil. Kalau rusak, langsung diurus saja,” tanggapnya tegas pada sang sopir. “Silahkan keluar dan kembali tutup pintunya.”

“Baik, Pak, maaf sudah mengganggu waktu Bapak.” Hanya anggukan kepala dan ucapan tersebut yang Dirga berikan sebagai balasan. Ia tahu, Aditya bersikap seperti itu hanya karena sedang ada orang lain di ruang kerjanya. Akan tetapi, tak dapat dimungkiri, ia juga berharap untuk tidak lagi menutupi hubungan yang terjalin antara dirinya dengan Aditya. Ia permisi dan keluar ruangan, berniat istirahat sejenak di ruang loker khusus para asisten dan sopir yang bekerja untuk keluarga Aditya. Sesampainya di sana, Dirga refleks merintih karena merasakan sakit di perut. Entah ia harus merasa beruntung atau tidak atas fakta bahwa hanya dirinya yang sedang berada di ruangan tersebut.

Karena nyeri di perut itu, Dirga langsung mengabari Aditya.

Usai mengirim pesan pada Aditya, Dirga duduk di atas karpet ruang loker untuk meluruskan kaki yang pegal, juga mengusap perut sendiri yang begitu besar dan bulat meski tidak mengandung anak kembar di dalamnya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Usai mengirim pesan pada Aditya, Dirga duduk di atas karpet ruang loker untuk meluruskan kaki yang pegal, juga mengusap perut sendiri yang begitu besar dan bulat meski tidak mengandung anak kembar di dalamnya.

Di tempat lain, Aditya melihat ponselnya bergetar di atas meja saat sedang mengobrol dengan rekan bisnisnya. Ia melirik sekilas pesan dari notifikasi yang masuk, lalu mengakhiri pertemuan bisnisnya begitu ia sadar akan keadaan Dirga. “Baik, menurut saya, itu yang bisa kita bahas dan sepakati untuk sekarang. Sisanya kita akan lanjutkan di monthly meeting lusa, ya. Sekalian saya juga perlu me- ngabari divisi-divisi yang berhubungan dengan perubahan rencana kita.” Ia berdiri dan tersenyum ramah, menjabat tangan sang rekan bisnis sebelum kemudian mengantarnya keluar dari lobi utama kediaman keluarganya yang juga berfungsi sebagai kantor tersebut.

Aditya menghubungi salah satu pesuruh yang menjaga vila pribadinya untuk menyiapkan peralatan bersalin. Meski kerap bersikap dingin pada Dirga, itu semata dilakukannya ketika ada orang lain. Mengetahui kekasihnya sudah mengalami kontraksi, ia tetap khawatir dan mau mengusahakan yang terbaik untuk Dirga.

 Mengetahui kekasihnya sudah mengalami kontraksi, ia tetap khawatir dan mau mengusahakan yang terbaik untuk Dirga

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

∘ ∘ ∘

“Baru sekarang ini aku hamil dan mau melahirkan, Mas. Sakit banget rasanya … boleh ganti posisi, ngga?” tanya Dirga. “Aku susah napas ini.”

Aditya mengangguk paham, mengelus pinggul pria hamil yang tak lama lagi akan melahirkan itu. “Mau posisinya gimana, sayang? Miring mau?”

“Boleh, Mas.” Dirga berbaring menyamping, mengangkat satu kakinya, membuat memeknya yang merah terpampang jelas. “MMHHH mau ngeden, Mas.” Ia dapat merasakan sentuhan tangan Aditya di memeknya dan mengelus bagian bawah tersebut. Nyeri yang luar biasa di perut, punggung, dan pinggul Dirga bercampur baur dengan hasrat seksual yang muncul akibat sentuhan Aditya di salah satu area paling sensitif tubuhnya.

∘ ∘ ∘

“OOOOWWHH MAAASS, memek aku sakit!”

Masih dalam posisi berbaring miring, satu tangan Aditya mengelus perut buncit Dirga, sedang satu tangannya yang lain memegangi memek laki-laki tampan yang tengah kesakitan itu. “Good, sayang,” bisiknya di telinga Dirga sambil mengelus memek sang pria, “kepalanya udah berusaha mau keluar.” Ia mengusap sisi dalam dari paha Dirga yang mengangkang. “Kuat, sayang.”

∘ ∘ ∘

Jumlah kata: 2.100+
Harga: 11k
Link pembelian: lynk.id/noughtees/k33kKLW

More StoriesStories to obsess over. Discover now