Main di Sungai

8 1 0
                                        

Suara anak kecil berlarian, ceria sambil sesekali saling menyiram air bahkan salah satunya ada yang terjatuh ke air dan basah kuyup. Tapi tidak ada satupun diantara mereka yang menaruh dendam.

Mereka tertawa bahagia bermain sambil berenang di sungai. Ada yang berteriak ada yang tertawa tapi tak ada yang marah.

Akupun tak sadar dan ikut tertawa melihat tingkah mereka. Hahahahahah.... Mereka tertawa tanpa beban, tak terpikirkan beban yang harus ditanggung oleh orangtua mereka walaupun sekedar mencuci pakaian kotor, hahahaha kupikir itu bukan beban, bagiku itu lebih baik dari pada mereka harus mencaci, menghina tanpa suara, ya... Itu namanya penyakit, penyakit hati.

Aku tersenyum melihat tingkah mereka sambil melangkah pergi untuk pulang kerumah, ini rumahku yang terletak di kaki gunung jauh dari perkotaan tapi yakinlah kalau kampungku ini memiliki udara yang masih sejuk dan suasana yang sangat nyaman.

Sambil berjalan pulang aku melihat sekeliling betapa indahnya, pepohonan masih berbaris rapih dan lebat.

Walau jalan pulang ini terasa cukup menanjak, sehingga mengharuskan berhenti sejenak sekedar mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan, aku sangat menikmati perjalanan ini, pohon - pohon bambu yang meliuk - liuk karena terpaan angin seakan menyambutku meneduh memberikan keteduhan "Uuh segar banget..." ungkapku sendiri tersenyum sambil berjalan sedikit lari....

"Neng... mulih..." seseorang menyapa aku dengan bahasa sunda yang artinya menyapa bahwa aku akan pulang. Aku menjawab dengan anggukan yang dibarengi senyuman "Muhun, bade wangsul" jelasku kembali dengan bahasa sunda.

Selain memiliki udara yang sejuk di sini juga memiliki suasana yang nyaman, kenapa? Karena masyarakat yang ramah masih saling peduli tidak acuh tak acuh atau cuek peduli bebek.

Ya, hampir semua orang mengenalku karena aku penduduk asli dari sini. Jadi tidak heran kalau banyak orang mengenalku, kecuali pendatang atau warga baru.

Aku adalah Erika beberapa waktu lalu dan tepatnya beberapa tahun yang lalu aku adalah seorang anak kecil yang berlarian sama seperti mereka yang sedang main di sungai.

Aku menghabiskan masa kecilku di sini di Kabupaten kecil di Jawa Barat yang letaknya tak jauh dari Ibu Kota.

Di tengah-tengah perjalananku menuju rumah aku melihat seseorang. Penampilannya rapih terawat terlihat lebih fresh dibandingkan dengan yang lain, wajahnya pun " Hmm lumayan tampan.... Heheh" gumamku dalam hati sambil memperhatikan seorang pria yang sedang berdiri tak jauh dariku.

Dia terlihat sedang memperhatikan di sekitarnya, tapi aku tidak begitu mengerti dengan apa yang sedang ia perhatikan di sekitarnya hanya lahan kering dan di kelilingi pepohonan yang sangat rindang membuat suasana semakin sejuk.

Cukup lama aku terpaku memperhatikan pria itu, umurnya terlihat tidak jauh dariku ya mungkin bisa dibilang seumuran, Aku sekarang berumur 23 tahun dan belum menikah kalau dibandingkan dengan teman-teman sebayaku di kampung aku memang jauh ketinggalan. Teman-teman sebayaku sudah hampir semua menikah dan memiliki anak bahkan ada juga yang sudah janda. Ya mungkin mereka rata-rata bersekolah hanya sampai SMP karena sekolah terdekat kami ya cuma sampai SMP karena di sini jauh kalau harus melanjutkan dan harus pergi ke kota.

Tapi ada juga teman sekolahku yang melanjutkan sekolah di atas SMP tapi kebanyakan teman laki - laki kalau perempuan rata - rata sudah menikah dan punya anak.

Sedang asik - asiknya bengong, eh dia menoleh ke arahku dan tersenyum. "Hmmm, senyumnya manis banget" gumamku dalam hati sambil membalas senyumnya dan kemudian bergegas pergi "Duh malu ke gep kayak gitu...." Ungkapku dalam hati sambil pergi tergesa-gesa menelusuri jalan yang didominasi rumput, sedang tergesa- gesa begitu tiba-tiba "Bluuk....aaw.. aku tersandung rumput yang satu sama lain terikat, dan aku pun terjatuh tepat menimpa kubangan air yang tidak terlalu besar tapi penuh dengan tanah basah.... "Praak..." tanganku menimpa tepat di atas kubangan tanah basah itu dan menyiprat ke wajahku alhasil tangan dan wajahku penuh dengan tanah.... Uhhhh... aku terdiam sejenak bergegas berdiri tapi saat aku akan berjalan terasa ada yang aneh dengan kakiku hmm kaki kiri tak senyaman kaki kanan... dan ternyata setelah kulihat sandal jepitku putus... oohh tidak... rasanya ingin menangis....

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 24, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Ketika Hati Ini Kau PatahkanStories to obsess over. Discover now