Bab 1. Menantu Pilihan Mamah Sarah

7.4K 286 19
                                    

"Mamah suka Kif" seru buk Sarah pada anak semata wayangnya, yang baru saja turun dari lantai atas hendak ke meja makan.

"Suka apa mah?" tanya Trakif bingung sembari mengistirahatkan pantat nya ke atas kursi kayu di hadapan sang ibu.

"Calon mantu pilihan mamah"

Trakif membuang nafas jengah dengan pelan, tak mau menyinggung ibunya yang terlihat bersemangat hingga wajahnya berseri-seri.

"Tentu mamah suka, kan mamah yang pilih" sembari ia mengolesi selai pada sepotong roti.

"Ish kamu ini, mamah kan memilih juga untuk kamu nak"

"Iya mah aku percaya pada pilihan mamah,. Tapi mamah juga tahukan anak mamah ini pilih-pilih"

Lagi balasan Trakif membuat sang ibu menatap marah anaknya yang tak sadar umur. Untung-untung anak pak Farid dan buk Reta mau jika mengetahui perbedaan usia mereka melebihi jari-jemari tangan.

"Ini pilihan terbaik mamah pokoknya"

Trakif hanya manggut-manggut menatap roti yang kini tertutup selai kacang coklat, lalu buk Sarah memajukan sedikit duduknya.

"Sempat kan libur yah nak untuk bertemu dengan calon istri mu" usul beliau yang sarat akan permintaan membuat anaknya tak tega untuk menolak, tapi juga tak memiliki waktu untuk hal tersebut.

"Aku ikut saja pilihan mamah, aku percaya sama mamah,. Ngomong-ngomong usianya berapa mah?"

"Ah kamu tidak usah tahu, itu akan jadi kejutan kamu nanti hehe,. Yang pasti dia jauh lebih muda dari mu, melebihi semua jari jemari tangan mu"

Seketika Trakif tergemap mendengar perbedaan usia dengan seseorang yang hendak di jodohkan dengan nya melebihi jari jemari tangan. Ia terdiam berpikir seolah menimbang-nimbang,. Perbedaan kategori di antara mereka saja paruh baya dan dewasa itu sudah terlihat jelas akan berpengaruh pada sudut pandang juga sikap mereka nantinya, tapi di satu sisi pikiran lain membuat nya menyeringai kecil.

Mengingat usia wanita yang ingin di jodohkan dengan nya berbeda jauh dari nya, ia merasa memenangkan banyak hal. Yang pasti beberapa teman-temannya yang selalu meledek mengatai nya perjaka tua pasti akan iri,. Juga pikiran mesum nya menyambar kian besar.

"Wanita lebih muda pasti stamina nya tahan lama di atas tempat tidur" batinnya makin menarik senyum pada sudut bibirnya, lalu ia tertawa terbahak-bahak akan pikirannya sendiri, lupa jika ada sang ibu yang sedari tadi memperhatikan gelagat nya.

"Kamu kenapa Kif?"

Pertanyaan ibunya membuat nya tersadar, segera ia menggeleng kembali menikmati dua tumpuk roti yang telah ia olesi selai.

"Dia sama anak tunggal mah?"

Trakif mulai tertarik membahas calon istrinya.

"Tidak, anak pak Farid dan buk Reta ada dua, semuanya perempuan, yang sulung bernama Absani, usia nya 30 tahun. Dan yang bungsu bernama Amelia, usia nya 26 tahun"

Trakif menyandarkan tubuhnya lagi berpikir keras, pasti akan lebih menyenangkan lagi baginya jika calon istri nya lebih muda lagi, begitu pun staminanya,. Yah pikirkan pria itu hanya menjurus ke hal-hal berbau keintiman.

Bukan karena pria itu masih perjaka, oh tentu tidak. Meskipun ia masih lajang, tapi untuk hal seperti itu mungkin bisa di katakan ia sudah biasa pada mantan-mantan nya, tentunya dengan imbalan. Dan hal itu salah satu menjadi alasan penolakan besar sang ibu.

"Apa yang bungsu mah? Pasti lebih cantik dan aduhai dari kakak nya kan?" tanya nya pada wanita yang bertaruh nyawa melahirkannya, seketika garpu dan carving knife sang ibu letakkan dengan cukup keras ke permukaan piring membuat ia tergelak takut ucapannya barusan menyinggung.

Abstrak WeddingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang