Max tersenyum senang didalam mobilnya, Saat ini dirinya seperti seorang penguntit. Ya, sejak keluar dari restoran, ia tak langsung pulang. Tujuannya tentu saja menunggu mangsanya keluar dari tempat persembunyiannya. Max sangat menikmati wajah pucat pasi gadis incarannya itu Selangkah lagi maka kail yang ia pasang akan menjerat mangsanya.
Shanne berjalan keluar restoran, membuka gembok pengaman sepedanya kemudian berjalan menuntun sepedanya. Sama sekali tak berniat menaiki sepedanya. Bibirnya terus merapalkan sumpah serapah. Harinya yang indah hancur sudah. Keputusan Bibi Grace tak bisa diganggu gugat. Bahkan Sam tak berani turun tangan. Ini semua gara - gara pria gila itu. Kenapa dia harus muncul di restoran Bibi Grace. Mengganggu konsentrasinya dalam bekerja. Bukannya masih banyak restoran lain.
Bukannya restoran Bibi Grace juga tempat umum, tentu saja siapapun boleh makan restoran itu, termasuk pria gila itu.
Arrrrgggg........
Shanne mengerang pikirannya nyaris gila. Tangannya mengacak ngacak rambutnya Sehingga pegangannya pada sepeda terlepas membuat sepeda itu tersungkur di jalan beraspal.
"Ya Tuhan Ya Tuhan ... sepedaku", Shanne berjongkok hendak meraih sepedanya, sampai sebuah suara mengagetkannya refleks ia mendongak.
"Ternyata selain ceroboh, kau juga tak bisa menjaga barang," ucap Max dengan santainya.
"kau lagi rupanya, ini semua karenamu, kenapa kau muncul di retoran bibi Grace, bukankan masih banyak restoran lain, atau kau sengaja menguntitku," ucap Shanne, nafasnya memburu karena emosi.
"Jika aku tak salah restoran itu tempat umum nona, dan perlu kau tau aku bukan penguntit dan satu lagi, jangan terlalu percaya diri."
"Aku tak percaya kau pasti sengaja mengikutiku," Shanne masih tetap dengan pendapatnya sendiri. Tak takut dengan tatapan Max yang penuh intimidasi.
Max tak habis pikir dengan gadis di depannya sangat keras kepala, "ya aku mengikutimu nah... sekarang kau ada di hadapanku dan aku akan menculikmu. Kau gadis keras kepala, kau akan menerima balasannya karena berani melawanku."
Shanne bergidik ngeri melihat seringaian jahat dari pria gila di depannya. Dengan sekuat tenaga Shanne mengumpulkan kekuatan berniat kabur. Tak diperdulikan sepedanya yang teronggok ditanah. Yang terpenting dirinya bisa selamat dari pria gila tersebut. Baru selangkah, tangannya sudah di cekal oleh pria tadi, tubuhnya terhimpit antara badan pria itu dan mobil di belakanya. Shanne tak dapat melawan ketika pria gila itu menahan tangannya dikedua sisi kepalanya. Kemuadian tanpa aba-aba pria itu mencium bibirnya dengan rakus.
Shanne menangis, dirinya tak dapat berbuat apa-apa ketika pria didepannya menggigit bibirnya serta memasukkan lidahnya mengeksporasi seluruh isi mulutnya. Kakinya lemas, tak menyangka akan dilecehkan seperti ini.
Max masih menikmati pagutan yang diciptakannya. Bibir gadis ini begitu manis dan kenyal. Kepalanya bergerak kekanan dan kiri, menggigit bibir serta memasukan lidahnya hingga cairan asin terasa di indra pengecapnya. Barulah ia sadar dan melepaskan bibir itu.
Max memandang gadis itu, gadis yang sekarang tengah ketakutan akibat ulahnya. Tubuh gadis itu bergetar dan gadis iti menangis. Max merutuki kebodohannya mengulurkan tangannya berniat membangunkan gadis yang terduduk dijalan. Namun tangannya ditepisnya hingga nyaris terjungkal. Max merutuki dirinya yang terbawa suasana. Niat awalnya hanya menggertak gadis itu, namun kelembutan bibir gadis itu menghipnotisnya hingga dirinya lupa.
"Aku akan mengantarmu pulang," Max berjongkok, mengulurkan tangannya. Namun lagi-lagi gadis itu menepisnya.
Shanne tak menghiraukan uluran tangan pria gila di hadapannya. Hatinya terluka, namun sepertinya pria itu tak menyerah begitu saja, tubuh Shanne dipaksa berdiri dan menghadap pria itu. Shanne sungguh muak dengan wajah itu, dengan segala keberaniannya ia melayangkan tamparannya membuat pria itu terperangah.
Max mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Gadis itu cukup kuat ternyata. Max makin menyukainya. Dan berjanji akan mendapatkannya. Max memperhatikan gadisnya yang berlalu begitu saja. Sungguh ciumannya hanya dibalas dengan tamparan.
YOU ARE READING
SLAVE
RomanceShanne gadis tujuh belas tahun yang hampir jadi korban pembudakan oleh orang yang menagih hutang pada ayahnya.
