PROLOG

41 11 2
                                        

Langit sore mulai memudar ketika tiga remaja menapaki jalan setapak di hutan yang konon tak berpenghuni.
Aksa berjalan di depan, langkahnya mantap namun waspada. Di belakangnya, Sera dan Karin saling berbisik pelan, menatap sekeliling hutan yang dipenuhi kabut tipis dan pepohonan tua yang menjulang tinggi seperti penjaga purba.

Tak ada suara selain desir angin dan bunyi ranting patah di bawah kaki mereka — seolah seluruh alam menahan napas. Hingga tiba-tiba, Karin menghentikan langkahnya. Di hadapannya terbentang sebuah goa besar, gelap dan dingin, seolah menelan cahaya matahari terakhir sore itu.

"Menurut cerita para dewa," bisik Karin, "tempat ini... tidak seharusnya kita datangi."
Namun rasa ingin tahunya lebih kuat daripada ketakutannya. Ia melangkah maju, tanpa tahu bahwa satu langkah kecil itu akan mengubah takdir mereka selamanya.

Aksa, sang kakak tertua berusia lima belas tahun, adalah pewaris Kerajaan Merpati.
Darah petir mengalir di tubuhnya — kekuatan yang diwariskan oleh leluhurnya. Ia tegas, penurut, dan berbakat dalam segala hal. Namun di mata ayahnya, sang raja, Aksa masih dianggap bocah yang belum memahami kerasnya dunia luar.
Sejak kecil, ia dilatih untuk menjadi kuat, agar kelak mampu melindungi kedua adiknya dari bahaya yang tak terduga. Di usia empat belas tahun, ia telah dinobatkan sebagai pangeran muda, penjaga harapan bagi seluruh kerajaan.

Karin, anak angkat dalam keluarga kerajaan, tak kalah istimewa.
Gadis ceria bergaun kuning itu memiliki hati sehangat sinar mentari — dan kekuatan api yang belum sepenuhnya ia kuasai. Ia sebenarnya adalah putri dari Kaisar Api, penguasa Kerajaan Samurai, namun ditelantarkan di depan gerbang Kerajaan Merpati saat masih bayi. Api dalam dirinya sering bergejolak tanpa kendali, seolah menunggu saat untuk bangkit kembali.

Sementara Sera, si bungsu yang berjarak tiga tahun dari Aksa, adalah gadis kecil penuh imajinasi.
Ia gemar membaca kisah-kisah kuno tentang pangeran dan dewa, dan sering bermimpi menjadi bagian dari dunia itu.
Cerewet, manja, tapi berhati lembut — Sera adalah cahaya kecil yang membuat Aksa rela melawan siapa pun demi melindunginya.

Mereka bertiga tak pernah terpisahkan.
Petualangan adalah hal biasa bagi mereka, tapi hari itu... berbeda.
Hutan yang mereka masuki seakan hidup — bisikan samar terdengar dari balik pepohonan, dan udara bergetar seiring langkah mereka mendekati goa itu.

Tak ada yang tahu bahwa di balik kegelapan itu, sebuah dunia lain sedang menanti.
Dunia di mana sihir dan teknologi berjalan berdampingan.
Dunia di mana Aksa, Karin, dan Sera akan menemukan takdir mereka yang sebenarnya.

Dan semuanya...
berawal dari satu langkah di hutan terlarang itu.

____________________________________________

Di sinilah cerita Aksa di mulai.

Jangan lupa komen dan kritik atas saran nya ya!

Dan kalian Semoga terhibur oleh cerita kali ini ya~

Jangan lupa jaga kesehatan kalian , kalo kalian sakit , siapa yang baca cerita ini? huhu

See you guyss~

AKSAStories to obsess over. Discover now