_______________
Hari senin, dimana hari yang paling dibenci dan membuat malas seorang yang sedang bergelung dibawah selimut tebalnya,
"Farel bangun sayang, nanti telat kamu kesekolah"
Namanya farel , Farel Aqselino Wirdinata anak bungsu keluarga Wirdinata
"Eengghh, iya bun Farel bangun"
"Apaan bangun, itu mata masih nutup, bangun ga kamu", Yang ini bundanya Farel bunda Marianti, Marianti Adelino Wirdinata nama lengkapnya,istri dari Abraham Wirdinata, sang pengusaha sukses dibidang pertambangan batu bara. Bunda Marianti menarik tangan anaknya agar cepat bangun dari bobo gantengnya.
"Iya-iya ini Farel bangun bund , ga perlu ditarik pusing ni kepala Farel", gimana ga pusing nyawa belum terkumpul sempurna tiba-tiba ditarik buat bangun
"Ya makanya cepet bangun, telat nanti loh Sekolahnya" , Tanpa menjawab sang ibunda, Farel langsung beranjak kekamar mandi.
Bunda Marianti yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala akan tingkah sang anak yang susah sekali dibangunkan apa lagi jika hari senin seperti saat ini, harus butuh ekstra sabar. Setelah melihat Farel benar-benar masuk kamar mandi, bunda Marianti merapikan tempat tidur itu, setelah selesai ia beranjak menyiapkan perlengkapan sekolah Farel, seperti baju seragam dan lain-lainnya.
"SETELAH SIAP-SIAP TURUN SARAPAN JANGAN LAMA-LAMA NTAR TELAT KAMU!!" Teriak bunda Marianti, lalu turun untuk menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya.
Setelah mandi selama 20 menit, Farel memakai baju seragam sekolahnya dan bercermin di depan cermin besar yang ada di kamarnya dengan berpose gaya yang agak sedikit sok cool
"Ck, udah keren seperti biasa"
Setelah dirasa semua sudah siap Farel turun ke bawah untuk sarapan, saat sampai dibawah ternyata ayah, bunda dan abangnya sudah ada disana menunggunya untuk sarapan bersama. Farel duduk disamping abangnya Wira,
Wira Shakuel Wirdinata anak pertama keluarga Wirdinata dan abang satu-satunya Farel. Saat semuanya sudah berkumpul mereka pun sarapan tanpa adanya pembicaraan, hanya suara dentingan sendok bertemu piring keramik yang terdengar.
Uhuk...
Uhuk...
Uhuk...
Farel yang agak sedikit terburu-buru dalam sarapan tersedak nasi, Wira yang yang berada disamping Farel langsung memberikan adiknya air sambil menepuk-nepuk punggungnya pelan
"Makanya kalo makan ga usah buru-buru, gada yang mau ambil nasi lu kok"
"Uhuk! Diem deh bang, bukan itu masalahnya, nanti gua telat kalo makan terlalu lama bang" Ucapnya masih sambil sedikit batuk-batuk,
"Salah sendiri, siapa suruh bangun telat, dibangunin ga bangun-bangun, dassar kebo"
"Udah-udah ga usah berantem masih pagi udah cekcok aja, pamali tau" , setelah mendengar perkataan sang kepala keluarga Farel, Wira sama-sama diam, menghabiskan sarapan mereka dan memutuskan untuk segera berangkat sekolah.
"Bang, Farel nebeng yak, ban motor Farel bocor lupa kemarin bawa ke bengkel",Ucapnya sambil memegang lengan kekar abangnya dengan sedikit menggoyangkannya , persis seperti anak yang meminta ingin dibelikan permen oleh ayahnya
"Ya udah buruan, bunda ayah Wira sama Farel berangkat sekolah dulu", pamit Wira sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya, diikuti Farel dibelakangnya sambil menyengir lebar dan ikut apa yang dilakukan abangnya.
Wira mengeluarkan mobil miliknya dari garasi dan memanaskan sebentar sambil menunggu Farel yang sedang menggunakan sepatu di depan teras rumah. Setelah siap, Farel beranjak ke mobil Wira, dimana sudah ada Wira yang menunggunya didalam mobil.
BRAK!
"Yok bang berangkat", Tanpa menjawab sang adik, Wira melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah meraka yang bisa dibilang mewah itu.
Setelah berkendara selama 20 menit lebih akhirnya mereka sampai disekolah, SMA 1 SANJAYA,
Sekolah menengah atas dimana sekolah tersebut sekolah ELIT, para muridnya rata-rata anak konglomerat dan berprestasi.
Kalo ditanya apa yang ada dipikiran kamu soal tentang sekolah elit?
Pembullyan?
Kasta?
Uang?
Pemikiran-pemikiran seperti itu memang tak salah,dan wajar-wajar saja walaupun termasuk sekolah elit tetap tak menutup kemungkinan terjadinya kasus pembullyan bukan?
Kasta? Jelas ada perbedaan kasta terlebih bagi yang mendapat beasiswa,umumnya siswa yang mendapatkan bantuan seperti beasiswa dari kalangan bawah atau tidak mampu secara finansial menjadi sasaran empuk bagi para pembully
Uang? Sudah menjadi hukum alam sepertinya, BAGI YANG BERDUIT AKAN SELALU BERADA DIATAS AWAN DAN BERKUASA, dan sama seperti point kedua uang adalah salah satu faktor dan menjadi cara pandang orang-orang kepada orang lain.
Apakah pihak sekolah menindaklanjuti kasus seperti ini?
Ada sebagian yang menindaklanjuti ada juga yang entah lah mereka seolah menutup mata akan mereka yang menjadi korban, miris memang tapi inilah dunia, seolah hanya uang lah yang berbicara menjadikan dasar cara memperlakukan dan memandang makhluk di dunia ini
Okay lanjut back to story,
Sampai di parkiran kedua bersaudara itu keluar dari mobil menuju kelas masing-masing, Farel menuju kelasnya dilantai 1 tepatnya kelas X MIPA 3 sementara Wira ke lantai paling atas, lantai 3 kelas XII MIPA 1
___________
Pendek aja dulu yak, kalo banyak yang vote okaay bakal saya lanjutin
Hargai penulis yah kawan, bayar rasa lelah mereka dengan menekan tombol bintang dibawah dan komen, okay🤗🔥
YOU ARE READING
Farel
Teen Fiction"Eh rel tu cowok ganteng bangettt yak, liat tuh punggungnya tegap definisi peluk able banget, cocok deh sama lu keknya", ucap Mela sambil tersenyum aneh kearah Farel dan menatap cowok yang lagi bermain volly di lapangan sekolah bersama teman sekelas...
