Tahun 1995, Jogja. Sari duduk di teras rumahnya, menatap langit senja yang berubah warna. Warna-warna merah muda, ungu, dan oranye berpadu, menciptakan lukisan alam yang memukau. Di sampingnya, Baskoro, ayahnya, duduk dengan mata terpejam, menikmati semilir angin sore yang membawa aroma tanah basah dan daun-daun yang gugur.
"Sudah selesai melukis, Nak?" tanya Baskoro, membuka matanya yang berwarna coklat tua, menatap Sari dengan tatapan hangat.
"Belum, Pak. Masih mencari inspirasi," jawab Sari, tersenyum pada ayahnya. Senyumnya penuh dengan cinta dan kehangatan, namun di balik itu, ada sedikit kesedihan yang tersembunyi.
Setelah Baskoro tertidur, Sari masuk ke dalam rumah. Dia memasuki kamar Baskoro, tempat dimana ayahnya biasa melukis dan menulis. Di sana, dia menemukan sekumpulan kertas yang tergeletak di lantai. Kertas-kertas itu berwarna kuning tua, dengan tulisan tangan yang rapi dan artistik.
Sari mengambil kertas-kertas tersebut dan mulai membacanya. Tulisan-tulisan tersebut adalah kenangan-kenangan Baskoro, tentang masa lalunya, tentang keluarganya, tentang cintanya, dan tentang Jogja yang ia cintai. Setiap kata, setiap kalimat, setiap paragraf, seolah-olah membawa Sari ke dalam dunia Baskoro, dunia yang penuh dengan warna, cinta, dan seni.
Saat fajar menyingsing, Sari menemukan sebuah tulisan yang berbeda. Tulisan itu adalah percakapan antara Baskoro dan guru seninya, Pak Raden.
"Baskoro, seni bukan hanya tentang melukis atau menulis. Seni adalah tentang merasakan, tentang memahami, dan tentang mencintai," kata Pak Raden dalam tulisan itu.
"Pak, saya tidak mengerti," jawab Baskoro.
"Kamu akan mengerti, Nak. Kamu hanya perlu membuka hatimu, merasakan dunia di sekitarmu, dan mencintai apa yang kamu lakukan," kata Pak Raden.
Sari merasa seolah-olah dia bisa melihat dan merasakan apa yang dirasakan Baskoro saat itu. Dia bisa melihat Baskoro yang muda, berdiri di tengah jalan berbatu Jogja, dengan mata yang berbinar-binar dan hati yang penuh semangat. Dia bisa merasakan kegembiraan Baskoro saat dia pertama kali memegang kuas dan cat, dan dia bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang guru seninya.
Sari terus membaca, terhanyut dalam kenangan-kenangan Baskoro. Dia membaca tentang pertama kali Baskoro memegang kuas dan cat, tentang pertama kali dia melukis, dan tentang bagaimana Pak Raden membimbingnya.
"Baskoro, lukisanmu bagus. Tapi, kamu perlu merasakan apa yang kamu lukis. Kamu perlu memahami apa yang kamu lukis. Dan yang paling penting, kamu perlu mencintai apa yang kamu lukis," kata Pak Raden dalam tulisan itu.
"Pak, saya mencoba. Tapi, saya merasa sulit," jawab Baskoro.
"Kamu akan bisa, Nak. Kamu hanya perlu terus berlatih dan tidak pernah menyerah," kata Pak Raden.
Sari menghabiskan hari-harinya dengan membaca tulisan-tulisan Baskoro dan mencoba memahami dunia yang pernah ia alami. Suatu hari, saat matahari mulai terbenam dan langit Jogja dipenuhi dengan warna merah muda dan oranye, Sari menemukan sebuah tulisan yang berbeda. Tulisan itu adalah percakapan antara Baskoro dan seorang wanita bernama Rina.
"Baskoro, kenapa kamu selalu melukis senja?" tanya Rina dalam tulisan itu.
"Karena senja adalah saat dimana hari berubah menjadi malam, saat dimana cahaya berubah menjadi gelap. Senja adalah saat dimana segalanya berubah, dan aku suka perubahan," jawab Baskoro.
"Kenapa kamu suka perubahan?" tanya Rina.
"Karena perubahan adalah bagian dari hidup. Tanpa perubahan, kita tidak akan bisa tumbuh dan berkembang," jawab Baskoro.
Sari tersenyum saat membaca percakapan itu. Dia bisa merasakan kehangatan dan kejujuran dalam kata-kata Baskoro. Dia bisa merasakan cinta dan rasa hormat Baskoro terhadap seni dan perubahan.
YOU ARE READING
Memoar Senja: Serpihan Kertas Dari Jogja
Historical FictionProlog: Tahun 1995, di sebuah sudut kota Jogja, hiduplah seorang seniman bernama Baskoro. Dia adalah seorang pelukis yang terkenal dengan karya-karyanya yang penuh emosi dan kehidupan. Namun, di balik karya-karyanya yang indah, Baskoro mengidap peny...
