Prolog

3.4K 166 13
                                        

Jungkook tertatih saat menyusuri lorong hotel. Dia baru saja melacak keberadaan sang kekasih yang saat ini tengah berada di sebuah kamar hotel. Keadaannya tidak bisa dikatakan baik. Bagian kepala yang dibalut kain perban, wajah yang terdapat luka dan tangan yang terus memegang area perutnya. Sesekali dia berhenti dan menyingkap bajunya, seolah memastikan perban di perutnya tidak terbuka.

Jantung Jungkook berdetak kencang saat dia berhenti tepat di depan kamar dengan nomor 811. Titik merah pada ponselnya menunjukkan jika orang orang yang dia cari memang berada di dalam sana.

Perlahan Jungkook mengetuk pintu kamar itu. Jantungnya semakin berdebar, berharap yang membuka pintu adalah orang lain, bukan kekasihnya.

Namun, apa yang dia lihat sekarang?

Jantungnya seolah berhenti berdetak sejenak sebelum berdebar tak beraturan. Apa yang dia takutkan benar-benar terjadi. Seseorang yang membuka pintu dan kini berdiri di depannya adalah kekasihnya sendiri.

"Kim Taehyung."

Pemuda yang dia panggil dengan nama Kim Taehyung itu sejenak melotot melihat kehadiran Jungkook, namun sedetik kemudian dia menghela napas seolah sudah pasrah dengan keadaan itu.

"Apa yang kau lakukan di sini, hyung?" tanya Taehyung.

"Bukankah seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan di sini? Aku menunggumu di rumah sakit, berharap yang kulihat pertama kali saat aku membuka mata adalah dirimu. Tapi ternyata kau ada di sini."

"Siapa, Baby?" tanya seorang pria dari dalam kamar dan mendekat ke arah mereka. Dia langsung melingkarkan tangannya di pinggang ramping Taehyung.

Rahang Jungkook mengeras melihat hal itu. Kenapa pria itu memeluk pinggang kekasihnya? Dan apa-apaan yang dia lihat sekarang? Pria itu bertelanjang dada sementara Taehyung kini hanya memakai bathrobe yang Jungkook yakini dia tidak memakai apapun di dalam sana.

"Siapa kau berani menyentuh kekasihku? Lepaskan tangan kotormu darinya!" geram Jungkook.

"Kau yang siapa? Aku berhak menyentuhnya bagaimana pun aku mau. Aku sudah membayarnya."

Taehyung menghela napas dan menatap pria itu. "Kau bisa masuk ke dalam kamar saja? Aku mau bicara dengannya sebentar!"

"Baiklah. Karena kau yang meminta, aku akan menurut. Tapi jangan lama-lama, aku sudah tidak tahan."

Taehyung terkekeh dan mengecup lembut pipi pria itu. "Iya, aku tidak akan lama."

Kini tinggallah Taehyung dan Jungkook berdua setelah pria itu masuk ke dalam kamar, sementara keduanya masih berdiri di ambang pintu.

"Sekarang jelaskan apa yang baru saja kulihat, Kim Taehyung?"

"Tidakkah jelas apa yang dia katakan, hyung? Dia membayarku dan aku akan melayaninya."

"Aku? Kau bicara denganku menyebut dirimu sendiri dengan sebutan aku? Biasanya kau menyebut dirimu dengan namamu sendiri."

"Ah, aku muak melakukannya. Kau menggangguku, hyung. Aku sedang bersama seseorang dan kau membuatnya tidak nyaman."

"Tidak. Itu tidak benar. Kau bukan orang seperti itu."

"Hyung, aku tidak sepolos yang kau pikir. Sikap yang selama ini aku tunjukkan kepadamu hanyalah image yang aku bangun untuk dunia luar. Dan yang kau lihat sekarang ini adalah diriku yang sebenarnya. Hyung, hidup itu realistis. Aku sudah biasa melakukan hal ini. Melayani banyak orang demi uang."

"Aku tidak percaya. Bagaimana pun kau mengatakannya, aku tidak akan pernah percaya kalau kau adalah orang seperti ini. Kau baru 18 tahun, Kim Taehyung."

"Tidak ada batasan usia untuk hal seperti ini, hyung. Saat seseorang menyukaiku, menyukai tubuhku, disaat itu aku akan melayaninya. Ini semua demi uang, hyung. Bahkan aku bisa melayanimu jika kau mampu membayarku. Dan kau tau, bayaranku tinggi karena service yang aku berikan juga memuaskan. Aku...."






PLAK






Sebuah tamparan mendarat di pipi Taehyung. Jungkook pelakunya.

"Beraninya kau menamparku, hyung." Taehyung menatap Jungkook dengan tajam. Jelas sekali dari matanya kalau dia sangat marah kepada Jungkook.

"Aku harus melakukan ini untuk menyadarkanmu. Sekarang ikut denganku pulang. Kau tidak boleh berada di tempat ini."

Jungkook berusaha menarik tangan Taehyung, namun Taehyung memberontak dan langsung mendorong Jungkook. Jungkook yang tersentak mundur karena dorongan Taehyung langsung memegang perutnya. Dia berharap luka di perutnya tidak semakin parah.

"Jangan pernah memaksaku untuk ikut denganmu, hyung. Aku tidak membutuhkanmu lagi. Aku berhubungan denganmu selama ini karena aku pikir kau menguntungkan bagiku. Aku pikir aku bisa memanfaatkanmu untuk membiayai kuliahku. Tapi ternyata aku salah. Kau hanyalah orang miskin yang tidak akan pernah bisa memberikan apapun yang aku inginkan."

"Jadi ini semua demi uang?"

"Aku sudah mengatakannya, kan? Aku menginginkan uang dan sampai kapan pun kau tidak akan pernah bisa memberikan itu kepadaku."

"Aku bisa memberikannya padamu."

"Dengan apa? Kau bahkan hanya seorang pengangguran. Ah, aku lupa. Kau baru saja bekerja di gudang penyimpanan barang sebagai tukang angkat. Kau pikir kau bisa membiayai semua kebutuhanku dengan gajimu yang tidak seberapa itu? Kau tau, hyung. Aku melakukan ini semua demi uang 200 juta. Kau tidak bisa memberikan itu kepadaku, kan? Meskipun kau bekerja seumur hidupmu, kau belum tentu bisa memberikan uang sebanyak itu kepadaku."

"Kita putus, Kim Taehyung. Mulai hari ini hubungan kita berakhir. Aku tidak akan pernah mau mengenalmu lagi sampai kapan pun. Tadinya aku masih mau memaafkanmu jikapun kau selingkuh. Tapi kau menjual tubuhmu kepada orang lain disaat kau sendiri dengan sok polosnya merasa malu-malu saat aku menciummu pertama kali. Hah, polos apanya? Kau jalang."

"Iya, aku tidak akan menyangkal itu."

"Baby, masih lama?" Tanya pria tadi dari dalam kamar.

"Sebentar lagi." Teriak Taehyung. "Kau sudah dengar kan, hyung? Dia menungguku. Aku sudah menerima banyak uang darinya dan aku tidak mau dia mengambilnya kembali hanya karena dia merasa tidak nyaman dengan kehadiranmu."

"Aku menyesal pernah mengenalmu, Kim Taehyung. Mulai hari ini aku akan membencimu. Aku akan menganggap kau adalah seorang penjahat dalam hidupku. Aku tidak ingin bertemu dan mengenalmu lagi. Mulai hari ini kau hanyalah orang asing bagiku. Jikapun suatu saat takdir mempertemukan kita kembali dan membuat kita sejalan, aku berharap itu adalah sebuah garis lurus. Meskipun kita sejalan, tapi kita adalah dua titik yang sampai kapanpun tidak akan pernah bersatu."

"Iya. Aku juga tidak membutuhkanmu lagi, jadi tidak masalah jika kita tidak bertemu lagi. Tapi... Aku akan memberikan satu kesempatan untukmu. Kau boleh menemuiku jika suatu saat kau mempunyai banyak uang dan mampu membiayai semua kebutuhanku. Aku akan menerimamu kembali jika hari itu tiba."

"Tidak ada lagi tempat untuk jalang sepertimu dalam hidupku."

"Ya sudah, kalau begitu kau bisa pergi dari hadapanku. Kau benar-benar menganggu."

Jungkook tidak beranjak dan itu membuat Taehyung jengah. Dia sedikit mendorong bahu Jungkook agar menjauh dari ambang pintu, lalu dia masuk ke dalam unit kamar dan menutupnya. Membiarkan Jungkook menatap pintu yang sudah tertutup itu dengan tatapan penuh luka.

"Aku meralat perkataanku, Kim Taehyung. Aku berharap suatu saat nanti kita akan bertemu. Dan disaat hari itu tiba, akan aku pastikan kau menyesal telah melakukan ini kepadaku. Aku bersumpah akan membuat hidupmu penuh dengan penderitaan. Dan aku pastikan kalau aku akan menjadi alasan untuk hidupmu hancur dan penuh derita."







HATE YOU [KOOKV]Where stories live. Discover now