Hujan deras pagi hari yang mengguyur pedesaan kecil, seseorang yang duduk di gubuk menghitung tetesan air yang jatuh dari atap yang bocor. Satu....dua...tiga hujan semakin deras aku akan masak air memasak air panas, air telah matang dan dua gelas telah di siapkan di meja kayu, tunggu kenapa aku butuh dua gelas? Apa aku sedang berhalusinasi, aku tinggal sendiri disini. Air diseduh di kedua gelas meski sadar gelas yang satunya tidak ada yang meminumnya.
Hujan sudah reda meski masih ada gerimis lalu matahari sudah menampakkan wujudnya di atas langit. Kuharap hujan lebih lama tapi dampaknya bakal buruk juga terhadapku, mungkin aku juga perlu menikmati cerahnya matahari. Melangkah keluar dan menginjak tanah yang masih becek sembari membawa boneka jerami di tangan. Temani aku karena tidak ada yang menemani, gandeng tanganku karena lemahnya gerak ku. Setiap langkah membekas di belakangnya dan hembusan angin menerpa rambutnya, selama perjalan langkah mulai melemah dan tangan gemetar tak terkendali. Boneka jerami jatuh lalu ku ambil kembali dan menguatkan hatiku tuk terus melangkah namun jalan yang di tempuh terasa berat nan sulit untuk di lanjutkan. Ranting pohon yang terinjak terasa seperti hancurnya suatu perasaan, batu besar dengan noda tanah di bawahnya dan api unggun yang telah redup hangatnya.
Melangkah menuju pemukiman namun tak seorangpun berbicara, dengan beberapa koin untuk membeli sayur sang penjual hanya menunjuk ke wortel dan tomat yang tidak terlalu nampak segar, koin di lempar ke tanah dan mengambil sayur yang masih layak untuk di makan.
YOU ARE READING
Bunga Matahari Yang Layu Oleh Varian Energi
FantasyBerkisah tentang seorang yang hanya ingin mencari kebahagiaan namun sering gagal karena kecerobohan dia sendiri, namun dia ingin tetap mencari kebahagiaan tersebut meski berada di titik terendahnya.
