Prolog

15.4K 447 18
                                        

"Hahhh .... "

Panas.

Udara di dalam ruangan itu terasa begitu panas.

Bahkan pendingin ruangan masih tidak mampu menghentikan keringat bercucuran ditubuh dua pria diatas ranjang itu. Tak terhitung lagi berapa lama sudah keduanya bercumbu. Suara decapan bibir mereka mengaung jelas dalam ruangan itu.

Pakaian tergelatak asal di karpet hotel.

Barang-barang terlihat persis seonggok sampah yang dibiarkan kusut, terinjak-injak seolah tidak berharga. Ruangan itu sudah persis kapal pecah.

"Hahhh ... hahh ... "

Napas terengah-engah itu terdengar begitu ciuman erotis keduanya terhenti. Oksigen rasanya menipis.

Sang dominan menatap mata pemuda di bawahnya dalam diam. Tangan yang tengah terkalung di leher sang dominan membuat jarak mereka begitu dekat.

"Aku belum bertanya namamu."

Senyuman sinis tersungging dibibir pemuda manis itu. "Apa itu masih penting ? Kita sudah berciuman dari 30 menit yang lalu, tapi kau baru menanyakan siapa namaku sekarang ? Kenapa tiba-tiba sekali ?"

"Hanya ... penasaran."

"Apa ada yang berubah kalau kau tahu namaku ?"

Sang dominan terdiam. Netra hitam kecoklatan itu sudah berhasil memikatnya dari detik awal mereka bertemu. Ada sesuatu yang beda dalam tatapannya.

"Kenapa diam ? Kalau berubah pikiran, menyingkir dari atas sekarang juga. Aku tidak ingin membuang waktu dengan percuma," sarkas pemuda manis itu.

Dingin dan arogan.

Tapi sayangnya itu yang menarik. 

Apakah ini sejenis permainan tarik ulur ?

Sang dominan tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu, ia lebih suka sesuatu yang pasti. Ia benci ketika di minta harus berusaha menyenangkan hati orang lain. Namun untuk pemuda angkuh satu ini ? Beda.

"Paling tidak aku juga harus tahu dengan siapa aku bercinta kan ? Jadi apa salah kalau aku bertanya ?"

"Penasaran ... ?"

Belaian halus menyentuh pipi sang dominan.

"Well, it depends on how well you can satisfied me tonight," lirih pemuda itu dengan suara menggoda.

"Don't try me ... "

Suara desahan erotis terlepas dari bibir pemuda itu saat sang dominan mencumbu tengkuknya. Sensasi geli membuat seluruh tubuhnya bergelinjang hebat di bawah kungkungan lengan berotot pria asing itu.

"Choi San." Pria itu menggigit cupingnya gemas.

"Hmm ?"

"Namaku, San. Aku akan merasa sangat tersanjung kalau kau menyebutkan namaku disela desahanmu nanti. Pastikan kau mengingat namaku setelah ini."

Detik selanjutnya yang terdengar di dalam ruangan itu hanya decitan kaki ranjang dan pertemuan kulit dengan kulit yang erotis. Suara desahan menggema jelas. Pemuda itu mengalungkan tangannya dibahu pria bernama San. Kuku-kuku tajamnya menancap di punggung pria yang tengah menggagahinya agar bisa melampiaskan rasa sakit, dan juga nikmatnya.

Mata yang terpejam dengan bibir setengah terbuka membuat pemuda itu tidak sanggup mengeluarkan kalimat lain selain hanya mendesah dan mendesah.

Kecupan singkat mendarat di pipi pemuda itu.

Keduanya benar-benar di puncak napsu.

Dunia serasa hanya milik mereka.

"Aghhh hah ! ... P–pelan ... argh ... " racau pemuda itu saat San menghujaminya lebih cepat dan kasar.

Lenguhan panjang terdengar.

Keduanya mencapai puncak kenikmatan bersama.

San terjatuh memeluk pemuda dibawahnya sambil mengatur napas. Keringat membasahi tubuh. Rasa lelah membuat dada keduanya naik turun seirama.

"Menyingkir dari atasku sekarang juga, kau berat."

Suara lemah pemuda manis itu memerintah San.

Pria itu tertawa, lalu dengan patuh menggulingkan badan untuk terlentang di sisi ranjang yang kosong tanpa melepaskan pelukan di pinggang teman satu malamnya itu. Sungguh, San belum ingin berakhir.

Maksudnya, ia ingin menghabiskan malam mereka sedikit lebih lama hanya untuk sekedar mengobrol.

Pemuda itu membuat San penasaran.

"Boleh aku bertanya ?"

"Tidak."

"Ayolah." San terkekeh geli.

Pemuda itu berdecak, "Tsk, apa ?"

"Aku yakin ini bukan yang pertama untukmu. Jadi, aku ingin tahu apa kau selalu bersikap seperti ini ?"

"Seperti ini ? Maksudnya ?"

"Yah, seperti ini, ketus. Padahal kau baru memeluk dan mendesah di bawahku, tapi sekarang berbeda."

"Lalu ? Bukankah yang penting, kau dan aku sama-sama mendapatkan kepuasan ? Lalu masalahnya ?"

"Ya benar, tapi jujur ... kau menarik."

Pemuda itu tertawa sinis. "Menarik ?"

"Hmm, aku tertarik melakukannya lagi denganmu. Bagaimana kalau kita bertukar nomor ?" tawarnya.

Raut wajah pemuda itu berubah dalam sepersekian detik. Seperti marah ? Ia menyingkap selimut kesal dan turun ranjang memunguti pakaian-pakaiannya tanpa suara, si Choi sampai dibuat bingung sendiri.

"Mau kemana ?"

"Pulang."

"Pul—tunggu dulu ! Kau serius ?"

Pemuda itu hanya diam, mengabaikannya.

"Kenapa tidak tunggu sampai besok ? Lagipula aku sudah memesan kamarnya untuk satu malam ? Ini sudah sangat gelap diluar. Jangan bilang kalau kau takut aku melakukan sesuatu padamu ? Oh, ayolah. Aku bukan orang seperti itu, aku bersih, sungguh !"

"Aku ada urusan."

"Baiklah. Kalau begitu katakan dimana rumahmu ? Aku akan mengantarmu pulang, ini sudah malam."

Pemuda itu memasang tampang tak suka. "Terima kasih, tapi itu tidak perlu. Aku bukan perempuan !"

"Bukan begitu, maksu— "

"Dengar, Choi San-ssi. Sepertinya kau masih tidak mengerti bagaimana cara menjaga batasmu ketika melakukan one night stand. Apa aku terlihat ingin mengenalmu lebih jauh ? Tidak, tidak sama sekali."

San membisu. Tidak menyangka kalau pemuda itu bisa memberikan respon yang seketus ini padanya.

Tatapannya garang, mengartikan benci luar biasa.

"Terima kasih untuk hari ini. Sebagai gantinya biar aku yang bayar kamarnya." Pemuda itu meletakkan beberapa lembar uang di meja nakas. Ia melangkah menjauh begitu saja, namun sampai di penghujung ia kembali berbalik dengan seringaian di bibir. "Ah, aku hampir lupa ! Apa kau tahu ... your sex, sucks."

Selamat datang dicerita Woosan ☂️💙

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.

Selamat datang dicerita Woosan ☂️💙

Desire | WOOSAN [END]Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora