Bagian 1

12 2 0
                                        

"Gaise kumpul yuk...pada sibuk banget nyari duit,ngumpul ngapa ngumpul udah lama nih" Tiba-tiba saja notif di hpku berbunyi dan memunculkan chat grup yang diberinama "Kelana Bercerita".

Aku yang tengah asik menikmati makan siang bersama teman-teman kantorku seketika bersemangat membaca notif grup tersebut dan membalasnya cepat membiarkan makananku yang belum habis ku makan itu.

"Hayu mau kapan?" Tanyaku antusias membalas ajakan Hanum. Dan bertepatan dengan itu, satu balasan ikut muncul di beranda grup yang sama persis dengan kalimat yang ku ketik tadi.

"Cie...ibu negara sama bapak negara kok bisa barengan gitu ngetiknya? Sama persis lagi jawabannya" Balas Hanum lagi di kolom chat.

Seketika akupun terdiam menatap layar persegi panjang tersebut. Ingatanku berkelana pada masa-masa kuliah, waktu dimana aku mulai jatuh cinta pada seorang Bryan Khazeer Elrumi.
Seorang laki-laki yang pekerja keras dan senang membantu sesama.

Seorang laki-laki yang dingin namun menyimpan banyak perhatian dibalik sikap dinginnya.
Yaps, dulu aku menjatuhkan rasa sukaku kepadanya dan bodohnya hingga sekarang pun rasa itu masih sama tidak berubah sama sekali.

Ketika banyak orang yang mencocok-cocokkan kami dan mendoakan kami supaya berjodoh, namun hal itu sepertinya tak menarik bagi seorang Bryan tanggapi. Ia laki-laki mandiri yang sikapnya tak dapat ditebak dan tak dapat diketahui bagaimana isi pikirannya.

Aku tak tau apakah dia sama mencintaiku atau ternyata aku yang menyimpan rasa itu sendiri kepadanya?
Segala sikap manisnya kepadaku kadang membuatku merasa di istimewakan, namun di sisi lain kadang membuatku berpikir "mungkin dia melakukan hal yang sama kepada yang lain".

"Gue punya rekomendasi cafe yang bagus banget nih buat di jadiin tempat nongki" Ucap Aldi dalam kolom chat grup tersebut sembari membagikan lokasi tempatnya.

"Oh... Cafe History, gue sering banget kesana sama pacar gue dan emang nyaman buat nongkrong sih, yaudah yuk kita kumpul disana" Balas Aurora mendukung tempat yang direkomendasikan Aldi tersebut.

"Sombong banget sih ni nona satu mentang-mentang udah punya pacar" ejek Riska tak mau kalah.

"Yee...biarin, kamu juga sering post pacar kamu wkwkw" timpal Aurora yang malah membahas privasi mereka masing-masing di grup ini.

"Harus dong biar orang-orang tau kalau gue tuh punya pacar, jadi jangan ganggu-ganggu. Yang ga habis pikir tuh couple goalnya kita sih, @Aleisha @Bryan kok bisa-bisanya mereka masih adem ayem dengan privasinya padahal seluruh dunia heboh ngejodohin mereka berdua"

Aku yang dari tadi hanya menyimak percakapan mereka tiba-tiba merasa terpanggil karena namaku di tag oleh Riska.

"Gue ga denger" jawab Bryan singkat ketika aku masih mengetik untuk menyiapkan jawaban yang paling pas untuk Riska.

Membaca balasan Bryan tersebut, akhirnya aku urung membalas chat Riska. Aku hanya menyimak setiap celotehan demi celotehan di grup tersebut dengan mood yang berantakan.

Hampir 2 tahun tidak bertemu, dan sikapnya masih sama seperti dulu, dingin menyebalkan dan singkat.

"Sha kamu belum selesai makannya?" Ucap Kak Adhan tiba-tiba sembari menghampiri mejaku.

Aku yang tengah melamun, sedikit terkejut dengan pertanyaan dan kehadirannya.

"Eh, eumm...belum kak. Lagi ga nafsu makan. Bentar lagi masuk jam kantor ya kak?" Tanyaku asal karena bingung harus menjawab apa dengan kedatangan kak Adhan semendadak itu. Belum lagi sorot matanya selalu menatapku secara intens membuat aku kikuk di depannya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 03 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Alur KisahStories to obsess over. Discover now