Kuhidu udara segar pagi hari yang melebur bersama kabut selagi duduk di ujung sebuah dermaga kecil berbentuk persegi panjang yang hanya bisa dilalui oleh dua orang dewasa. Aku bergumam mengikuti lantunan melodi Norwegian Wood (This Bird Has Flown) dari The Beatles yang mengalun ke dalam kepalaku melalui earphone seraya mengayun-ayunkan tungkaiku di atas air.
Desa Kencana, sebuah desa kecil yang berada di pulau Sumatera dengan sebuah danau raksasa seluas 125,9 km² membentang di ujungnya. Danau Biru namanya. Di seberangnya berdiri dengan gagah sebuah gunung berapi yang tak lagi bertaring, yang aku tak ingat namanya. Mungkin nanti akan kutanyakan ke Melani.
Desa yang menjadi tanah kelahiran ibuku ini adalah sebuah desa wisata yang boleh dibilang (maaf) kurang begitu diminati, namun bagiku justru itulah nilai plusnya karena tempat ini jadi tidak sumpek oleh turis. Ah, aku bisa bilang begitu mungkin karena aku datang ke sini tidak pada musim libur panjang.
Dalam lamunan, aku tersadar bahwa pagi berkabut yang syahdu di sini begitu padu dengan melodi melankolis dari Norwegian Wood, menstimulasi otakku untuk bersenandung.
Suasana tenang seperti inilah yang memang paling cocok untukku. Tak ada deru mesin-mesin kendaraan yang intens, tak ada polusi berlebih yang acapkali melukai kerongkongan, tak ada desing roda kereta yang membuat ngilu gigi, dan tak ada pula kemacetan yang membuat tensi darah naik. Semua ketenangan ini membuatku sejenak terlupa akan hiruk-pikuk ibukota.
Sudah dua bulan berlalu sejak aku memutuskan untuk pulang ke kampung halamanku, pergi meninggalkan ibukota setelah nyaris lima tahun menghabiskan waktu di sana hingga akhirnya aku merasa itu bukanlah 'tempatku' dan tak ada yang bisa kuharapkan di sana. Aku pun terlepas dari semua kejenuhan dan kesepian yang mengungkungku tahun demi tahun. Tak ada keluarga, tak ada (yang benar-benar bisa disebut) teman. Adapun yang selalu menemaniku bukanlah manusia, melainkan buku, musik, dan film.
Hari-hari kujalani seorang diri. Pergi ke kantor dengan hati yang seringnya terasa berat, lalu kembali ke kamar indekosku dengan helaan napas yang tak kalah berat pula. Pada akhir pekan atau malam panjang sebelum akhir pekan (operasional kantorku hanya berjalan dari senin sampai jumat), sesekali aku akan melanglang buana mencari udara segar.
Mengunjungi cafe-cafe yang aksesnya gampang dijangkau sampai yang berpredikat hidden gem, menonton film, membaca buku di Perpustakaan Nasional, atau mencari 'spot melamun' rekomendasi dari media sosial yang agak terisolir dari kebisingan kota untuk membaca buku atau menulis. Tentu saja semua itu kulakukan seorang diri.
Tolong jangan tanya kenapa aku tidak mencoba untuk bergaul dan mencari teman, karena aku sudah mencobanya beberapa kali. Namun, hasilnya nihil. Entah kenapa tak ada yang membuatku kerasan.
Mulai dari komunitas tulis menulis yang pernah kuhadiri perkumpulannya sebanyak dua kali karena kupikir mungkin saja bisa mengembangkan bakat dan minat menulisku setelah beberapa tahun vakum dari kegiatan tersebut. Ternyata... perkumpulan itu hanya dihadiri oleh orang-orang yang ingin adu pencapaiannya di bidang tersebut. Selama dua jam lebih aku hanya mendengarkan mereka mengoceh tentang tetek bengek mereka hingga bisa sampai pada posisi sekarang, alih-alih memberikan ilmu tentang cara menulis yang lebih baik, kosakata indah baru yang mungkin belum pernah ada dalam perbendaharaan kataku, atau tentang bagaimana cara untuk memulai karir sebagai novelis dari nol.
Jijik, setelahnya aku pun memutuskan untuk sekadar menjadi penyimak saja dalam grup media sosial dari komunitas itu. Tujuannya hanya untuk mengambil yang baik, dan membuang yang buruk. Barangkali nantinya akan ada ilmu baru soal kepenulisan yang bisa jadi bermanfaat untukku. 'Barangkali'.
Kemudian, aku iseng-iseng bergabung dengan komunitas membaca yang pertemuannya diadakan dua kali dalam sebulan. Kegiatannya sederhana dan cukup menyenangkan bagiku, yaitu duduk diam membaca lalu setelahnya masing-masing anggota akan disuruh untuk mengulas buku bacaannya secara bergiliran. Sesekali akan diadakan game sederhana seperti teka-teki silang yang bertema buku-buku atau para sastrawan terkenal.
YOU ARE READING
Her Blue Lake
RomanceSetelah melewati berbagai kemuraman di ibukota, aku berlibur ke Desa Kencana untuk menenangkan isi kepalaku yang sengkarut setelah sekian lama. Waktu demi waktu yang bergulir di sana menuntunku pada pertemuan dengan orang-orang yang mengajarkanku be...
