Di sudut area kolam renang, tampak seorang anak laki-laki tengah menyibukkan diri dengan memasukkan tanah dari sebuah tanaman hijau ke dalam mangkuk kecil. Sudut bibirnya tertarik keatas hingga memperlihatkan gigi kelinci nya. Tidak menyadari kehadiran gadis kecil dengan kaos pink yang warnanya terlihat memudar di beberapa bagian.
Senyuman gadis kecil itupun turut melebar kala mendapati anak laki-laki yang berbeda 1 tahun dengannya—bermain sendirian. Sembari membawa sekotak susu strawberry yang masing tersegel, gadis kecil itu melangkah lalu mendudukkan diri disamping sang teman. Senyumnya masih lebar walau tatapan tidak mengenakkan ia dapat dari anak disebelahnya.
"Leya punya susu strawberry, Asta mau nggak? Belum diminum kok sama Leya." Masih dengan senyum yang menampakkan lesung pipinya, Leya menyodorkan sekotak susu rasa strawberry—yang detik selanjutnya terlempar mengenaskan akibat hempasan dari tangan anak laki-laki itu.
"Ngapain kamu kesini?!" Hardik si anak laki-laki dengan alis menukik dan tatapan tajam. Senyuman yang tadi tertarik ke atas kini melengkung ke bawah.
"Leya mau main sama Asta." Mata coklatnya selalu berbinar ketika menatap anak laki-laki yang ia anggap sebagai temannya ini. Namun, Leya melupakan fakta bahwa anak laki-laki yang ia panggil Asta sudah berubah. Dia bukanlah Asta yang dulu selalu menolong Leya ketika Leya terjatuh dari sepeda, atau ketika Leya di ejek oleh anak tetangga mereka. Saat ini, dia adalah Asta yang tidak suka melihat Leya, dia adalah Asta yang selalu menatap Leya tajam. Bukan Asta yang akan tersenyum lebar kala netra hitamnya menangkap sosok Leya. Bukan Asta yang selalu memberikan Leya strawberry yang ia curi dari rumah sang Oma.
"Aku nggak mau main sama kamu Leya! Nanti kamu rebut mainan aku lagi!!"
Bukan. Leya tidak pernah merebut mainan Asta. Bukannya Asta yang dulu selalu memberikan Leya mainannya? Bahkan ketika itu adalah benda favorit nya. Mengapa Asta berkata bahwa Leya merebut mainannya?
"Leya nggak pernah rebut mainan Asta. Kan Asta yang kasih Leya mainannya. Robot robot itu, Leya nggak suka. Tapi karena Asta yang kasih, jadi Leya terima mainannya." Dengan raut polos Leya membalas ucapan anak laki-laki itu.
Wajah Asta memerah mendengar ucapan Leya. Dia berdiri dan menghentakkan kakinya kesal. Gadis kecil didepannya ini, sangat berani menjawab perkataannya. Dan Asta tidak suka.
"Aku benci sama kamu, Leya! Aku nggak suka liat kamu dirumah aku! Kamu itu berisik! Cempreng! Suka nangis! Aku nggak suka liat kamu nangis. Kenapa sih kamu selalu ganggu aku, hah?!" Asta kecil dengan penuh emosi menatap gadis kecil berwajah bulat didepannya dengan tajam. Kedua tangan mungilnya yang berlemak mengepal.
Air mata menggenang di mata Leya. Sedetik kemudian cairan kristal itu terjun bebas melewati pipi bulatnya yang sudah memerah. Melihat gadis kecil didepannya menangis, Asta bertambah kesal. Padahal dia sudah bilang kalau tidak suka melihat Leya menangis. Mengapa gadis itu malah menangis sekarang?
.
.
.
.
Hi guys... makasih ya udah mampir 🫶🏻
Semoga kalian suka sama ceritanya yaaa.. Dan semoga aku nggak kena writer block untuk kesekian kalinya 😭🙏🏻
Sampai jumpa di next chapter 💖
YOU ARE READING
Rewrite Our Destiny (OnGoing)
RomanceBerharap menemukan ide cerita baru di cafe, Nala justru melihat sosok yang telah menorehkan trauma masa kecilnya. Sosok itu masih bisa hidup dengan tenang, sedangkan dirinya hanya bisa memberi senyum penuh kepalsuan. Dia adalah sosok anak kecil yan...
