a.

63 3 0
                                        

Lebih dari satu bulan aku menangisi sesuatu yang aku tahu tidak akan kembali dan tidak akan utuh seperti semula. Bahkan kaca tipis yang tak sengaja terinjak kakiku saat ini tidak bisa mengalahkan rasa sakit yang tak kunjung usai sejak 30 hari yang lalu. Aku lelah mengurung diri di kamar. Menghindari orang yang sudah kuanggap asing itu. Tetapi? Sekalinya aku keluar malah begini. Pun alasanku keluar kali ini tak jauh dari kata kabur.

"Usap dulu ingusnya," pria asing itu berdiri di depanku. Mengulurkan sapu tangan dengan wajah datarnya.

Aku malu tapi, wajahku tak begitu pantas dipandang. Sangat jelek.

Dia mengambil sesuatu dari tasnya. Kain persegi dengan motif beragam. Ia keluarkan dan membalut luka di telapak kakiku. Orang-orang di sekeliling menatap kami aneh. Mungkin? Aku sudah lama tidak berinteraksi dengan orang asing. Itu membuatku sedikit canggung.

Tangannya bergerak untuk menyentuh mata kakiku yang lebam. Dengan lembutnya dia mengusap-usap. Bukan rasa takut seperti 30 hari yang lalu. Baru pertama kali ini aku merasa nyaman ketika berinteraksi dengan orang asing. Meskipun dia tidak banyak bicara.

"Alas kakimu dimana?" ucapnya lembut. Begitu lembut ketika masuk ke gendang telingaku. Begitupun matanya yang menatapku dalam.

Sementara aku hanya menggeleng. Aku pergi dari rumah tanpa alas kaki. Itu pun baru kusadari ketika telapak kakiku sudah penuh dengan darah.

"Mas itu mbaknya kayanya ODGJ, bawa ke dinas sosial aja," bapak-bapak itu berbicara dengan dia. Aku pun tak tahu mengapa bapak itu bisa mengeluarkan pernyataan sejahat itu. Burukkah penampilanku saat ini?

Dia menghela nafas, menatap sekeliling sebentar dan kembali menatap ke arah kakiku yang sudah dibalutnya. Aku menggenggam sapu tangan miliknya dengan erat. Berharap dia tidak membawaku ke dinas sosial. Sejujurnya aku ingin sekali berbicara. Namun, kenapa ini sangat susah?

"Oke, kamu cukup menggeleng atau mengangguk saat aku beri pertanyaan," ujarnya menatapku lekat. Aku perlahan menganggukan kepala pelan.

"Kamu mau pulang kerumah? Kalau iya dimana rumahmu?" Pertanyaannya seakan menusuk telingaku. Mendengar kata rumah yang kutangkap dengan maksud lain. Pun rumah yang sesungguhnya aku tak yakin bisa menganggapnya rumah. Aku menggeleng cepat. Ketakutan mengingat memori buruk yang berputar dalam ingatanku.

"Bisa jalan?"

Aku mengangguk tak yakin.

Dia membawa tangan kananku untuk dia pegang. Memapah tubuhku untuk berjalan pelan ke suatu tempat yang tak jauh dari tempatku tadi.

Mobil berwarna hitam. Pintu depan kiri ia bukakan dan memberi tahuku untuk segera masuk. Dia berlari di depan mobil dan dalam sekejap sudah berada di kursi pengendara. Aku tidak tahu akan dibawa kemana. Bahkan jika aku dibawa ke dinas sosial jujur aku tak apa. Dibandingkan aku harus pulang ke rumah. Yang tiada artinya lagi.

Dia perlahan melajukan mobil ke arah yang berbeda dari area tempat tinggalku. Aku menatap ke arah perut. Menepuk pelan bagian perutku. Bukan karena lapar. Melainkan pakaian yang aku kenakan. Ternyata selusuh itu.

"Kamu lapar?" tanyanya lagi. Aku menjawab dengan gelengan. Tetapi tangannya terulur memberikanku lunch box yang masih terisi penuh.

Ketika aku menyentuh rambutku pelan. Mobil yang aku tumpangi berhenti di depan gedung yang tak terlalu besar tapi sangat megah bagiku. Dia pun turun tanpa memberi tahu aku. Belum lagi mobil ini ia kunci semuanya. Aku mencoba berpikir positif jika dia adalah orang baik. Mataku terarah di dashboard mobil. Aku menemukan satu kartu identitas dia. Arthur namanya. Pekerjaannya Seniman dan dia bukan berasal dari tempat ini. Hampir 5 menit aku menatap kartu identitas dia. Mencerna dan mengingat beberapa data yang tak asing di mataku. Mataku terarah ke arahnya yang sudah keluar dari gedung. Dengan satu paperbag.

Dengan cepat tubuhnya kembali di kursi sampingku lagi. Dan paperbag yang dia bawa ditaruh dibelakang. Tanganya dengan gesit memakai seatbelt tapi, terhenti melihat kartu identitas yang berada dalam tanganku.

"Ah, aku Arthur Agaskara. Panggil Asa aja," tanganya terulur kepadaku. Mengajak berkenalan. Dengan ragu tanganku bergerak mengarah menerima ulurannya. Mulutku terbuka. Mengucapkan satu kata dari namaku.

"Kei-na," aku sangat terbata bata dengan suara yang sangat pelan. Nyaris tak terdengar mungkin.

"Keina, nama yang bagus. Nice to meet you," genggamannya sangat erat. Dan senyumnya yang menimbulkan lesung pipi di kedua sisi.

Asumsiku, dia tersenyum begitu sebab aku berbicara untuk pertama kalinya. Mungkin dia lega karena berfikir aku tidak gila? 

Perjalanan menuju ke tempat yang tak aku ketahui ini ditemani dengan saluran radio yang membicarakan tentang musik di era 90-an yang tiada habisnya. Dari berbagai genre bahkan beberapa negara dari barat. Satu-dua lagu yang di mainkan pun tak asing dari telingaku. Bahkan Asa sesekali bersenandung.

Dia menempatkan mobil di basement yang aku yakini ini di apartemen. Sebelum keluar dia mengambil paperbag tadi dan menuju ke pintuku. Membukakan, bak putri yang ia sambut. Hah? Tuan putri?

Yang tak pernah aku sangka adalah dia menggendongku. Aku kira dia akan menuntun. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia tidak jijik denganku? Padahal aku sangat sangat mirip dengan orang gila. Belum lagi badan dan rambutku yang baunya melebihi air comberan.

Sampai di lift dia menekan tombol lantai dan beruntungnya sampai di kamar yang dituju tidak ada satu orang yang satu lift dengan kami. Jika iya? Sepertinya aku akan di usir dan dilaporkan. Lalu diperlakukan selayaknya orang gila,ditertawakan, ditendang, bahkan di—

"huf sampai," dia menurunkan aku di sofa. Dia bersimpuh di hadapanku. Melepas kain yang membalut lukaku tadi.

"kamu bisa mandi kan?" tanya dia dengan ragu dan pelan. Karena sejujurnya itu pertanyaan yang aneh. Tapi melihat keadaanku saat ini. Tak terlalu aneh. Aku mengangguk. Tangannya memberikan paperbag tadi kepadaku,

"Disini ada pakaian lengkap. Di dalam kamar mandi sudah ada handuk. Pakai yang warna biru. Kamu pakai, dan lukamu nanti aku perban oke?" dia menjelaskan begitu lembut.

Serene | AsahiStories to obsess over. Discover now