Prolog

3 0 0
                                        

7 tahun lamanya Gaga menunggu hari ini tiba. Di mana ia akhirnya keluar dari jeruji besi yang menahannya atas tuduhan pembunuhan ketika ia duduk di bangku SMA dulu.

Jose Luis dinyatakan meninggal dunia dengan beberapa saksi yang menyatakan bahwa Sagara alias Gaga adalah pelakunya. Di meja hijau Gaga sempat tak terima ketika jaksa menunjukan bukti yang memperkuat pernyataan para saksi. Ia memberontak bak orang kesetanan.

Ketika sidang kedua di gelar, tidak ada yang bisa Gaga lakukan selain diam. Ia menyerah pada keadaan sebab memang tidak ada yang membelanya sama sekali hingga sang hakim mengetuk palu dan memvonis hukuman 7 tahun lamanya.

Kakinya yang kian memanjang selama di dalam bui membuat Gaga kelihatan lebih tinggi. Lelaki yang sekarang berumur 25 tahun tersebut menyelempangkan tasnya yang hanya berisi tiga kaos ganti dan baju seragam SMA-nya.

Terbebas dan kembali menghirup udah segar luar tahanan sebenarnya membuat Gaga bingung tentang apa yang harus ia lakukan sekarang. Rumah tidak punya, uang hanya ada seratus ribu. Cari kerja? Apa ada yang mau menerima pekerja mantan napi dan gak lulus SMA?

“Seandainya saat itu gue gak menjadi orang pertama yang nemuin Jose mungkin hidup gue gak akan berakhir kaya sekarang. Bajingannya lagi Jose malah mati gitu aja tanpa bela gue!”

Gaga berjalan tanpa arah yang jelas. Pikirannya penuh dengan beribu pertanyaan mengapa dirinya bisa berakhir dengan hidup yang se-menderita ini? Apa ini karma dari kehidupannya di masa lalu?

“WOI LO YANG PAKE BAJU ITEM!”

Sebelum merasa pede kalau memang dirinya yang dipanggil. Gaga lebih dulu menengok kanan dan kiri kemudian barulah ia menunjuk dirinya sendiri.

“Gue, bang?” tanyanya sambil pasang wajah melongo.

“Iya, Lo. Karena gak ada yang pakai kaos hitam di sini selain elo.”

Sepasang kaki Gaga melangkah mendekat ke arah pria yang barusan memanggilnya. Dengan taro yang menghiasi lengan serta dadanya yang terekspos karena baju singlet yang dikenakan. Gaga yakin 1000% kalau pria tersebut bukan orang biasa melainkan preman atau bahkan anggota gangster jalanan.

“Kenapa ya bang? Gue pernah punya masalah kah sama lo atau kita pernah ketemu sebelumnya?”

Pria itu menggeleng cepat, “Nggak ada. Gue cuma mau manggil lo karena mau nawarin sesuatu yang mungkin aja lo butuhin sekarang.”

Erland Anggara. Nama yang tertera atas di kertas berbentuk persegi itu Gaga terima. Di bawahnya ada tulisan terima jasa balas dendam.

Suara kekehan seketika keluar dari bilah bibir Gaga. Pemuda itu tentu saja tak mungkin langsung percaya dengan tawaran yang pria bernama Erland berikan padanya. Jasa balas dendam masih terdengar asing di telinga Gaga. Mungkin juga orang lain.

“Maaf bang. Gue gak bisa pesan jasa lo karena gue gak punya cukup uang buat bayar lo. Lagi pula gue udah terima segala nasib yang emang digariskan buat gue,” ucap Gaga final sebelum kemudian beranjak pergi dan mengembalikan kartu nama tersebut kepada pemiliknya.

“Lo yakin gak mau tau siapa yang udah bikin teman-teman lo kasih kesaksian palsu dan pelaku pembunuh Jose Luis yang sebenarnya? Jangan munafik Sagara Rafsanjani, gue tau kalau di dalam hati kecil lo masih ada rasa gak puas atas ketidakadilan yang lo terima selama ini. Tolong pikirin lagi tawaran gue, bukan sebagai penyewa jasa tapi jadi bagian dari kami.”

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 24, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

EvanescentWhere stories live. Discover now