Prolog

13 6 1
                                        

Assalamu'alaikum, all. Welcome.

****

Recently, penjualan cerita yang diadaptasi menjadi novel dengan alur berbeda melonjak. Banyak buku keluaran baru yang diproduksi oleh perusahaan percetakan. Dari mulai menggaet cerita lewat direct massage wattpad, twitter, atau platform menulis lainnya.

Anak bangsa semakin kreatif dalam menulis alur cerita yang unik.

Orang-orang berlomba-lomba untuk menulis cerita, dengan genre yang sedang trendi, juga alur yang unik-supaya mereka menjadi penulis yang bisa menarik perhatian penerbitan.

Azeyya Amaiza, salah satu gadis dari sekian ribu juta manusia yang hobi membaca.

Gadis desa yang dikenal murah senyum dan penyayang.

Kembang desa kesayangan warga.

Keluarga Azeyya paling kaya diantara warga desa, namun sifatnya rendah hati, lagi sederhana.

Keseharian gadis mungil ini hanya terisi beramal, taat, berbakti kepada kedua orang tuanya, dan menjadi manusia bermanfaat bagi orang lain di sekelilingnya.

Di sinilah gadis itu sekarang, tengah rebahan sambil miring ke kanan. Di tangannya terdapat novel yang akhir-akhir ini selalu direkomendasikan temannya.

Novel itu berjudul 'GALARA'. Novel percintaan remaja SMA dengan segala konflik hubungannya.

Jam dinding menunjukkan pukul delapan lebih dua puluh dua menit. Menit demi menit Zeyya habiskan untuk membaca setiap kalimat. Tidak kenal waktu, terus membaca walaupun matanya sudah berair.

Segala emosi tercetak jelas diwajahnya, seiring alur novel yang ia baca berjalan.

Beberapa menit kemudian, Zeyya terjatuh ke alam mimpi. Bukunya terjatuh begitu saja di kasur. Zeyya belum membaca ending-nya, padahal tinggal 3 lembar lagi.

Satu yang Zeyya lupakan, padahal sebelumnya tidak pernah ia lewatkan. Yaitu membaca doa sebelum tidur.

***

Di pedalaman lain, pagi baru saja tiba. Kicauan burung terdengar merdu di pendengaran orang yang mendengarnya. Matahari tampak malu-malu memunculkan wujudnya, begitu pula dengan langit yang masih berwarna abu-abu.

"Eungh." seorang gadis dengan pakaian pasien rumah sakit, selang yang menutup mulut dan hidungnya, juga infus yang membalut tangan, melenguh seperti orang yang baru saja bangun dari tidur.

"Ya Allah, kok badan Zeyya sakit semua?" batin gadis itu merasakan kepalanya nyut-nyutan dan badannya terasa pegal juga kaku.

Kepalanya bahkan tidak bisa digerakkan untuk melihat sekitar, hanya bola matanya yang bisa bergerak.

"Apa yang terjadi?" batin Zeyya lagi. Bingung dengan situasi terkini. Seingat Zeyya-

"Aduh, Ya Allah, ini kenapa kepala Zeyya sakit pakek banget?" rintih Zeyya dalam hati.

Terakhir kali yang Zeyya ingat, dia tertidur selepas membaca novel, tanpa membaca doa. Lalu tiba-tiba saja berada di ruangan putih, yang Zeyya tebak rumah sakit.

"Apa Zeyya pas tidur, jatuh, kebentur, terus jadi kayak gini?" tebak Zeyya menatap langit-langit kamar rumah sakit.

"Tapi kok kamar rumah sakitnya macem rumah gini? Besar banget. Ada AC, TV, lemari, kasur tidur. Furniture-nya juga kelihatan mahal banget. Masa iya abah bawa Zeyya di kamar VVIP?"

"Tapi ini kelewat mewah. Ranjang yang Zeyya tempati ini pasti harganya nggak kaleng-kaleng. Abah emang kaya, sih, tapi nggak kayak gini juga."

Ceklek.

Zeyya reflek menoleh ke asal suara, namun dirinya malah meringis ngilu. Merasakan kepalanya yang tidak bisa bergerak, justru yang Zeyya dapat adalah kepalanya sedang nyut-nyutan. Alhasil, hanya bola matanya yang menoleh ke asal suara.

Sejauh mata pandangan Zeyya, yang baru saja membuka pintu adalah seorang suster berpakaian putih, rambut di gelung, ditambah dengan wajah cantik. Saking cantiknya, membuat Zeyya reflek memuji Allah.

"Ma syaa Allah."

Suster bernama Sandra, yang baru saja ingin mengecek kondisi pasiennya, seketika membelalak terkejut melihat pasiennya sadar. Segera ia menghampiri pasiennya yang tak lain adalah Zeyya.

"Nona, anda bisa mendengar saya?" tanya suster Sandra sambil menekan tombol yang menghubungkan dengan dokter pribadi keluarga pasiennya.

"Bisa," jawab Zeyya membatin.

"Jika anda mendengar saya, tolong kedipkan mata."

Zeyya pun mengedipkan matanya tiga kali.

Suster Sandra langsung tersenyum lebar, penuh kelegaan. "Puji syukur. Akhirnya nona sadar dari koma selama sebulan, lebih dua hari."

Dalam hati, Zeyya terkejut penuh heran.

"Koma sebulan lebih dua hari?!" batin Zeyya shock.

"Apa yang terjadi sama Zeyya sampai bisa koma selama itu?" lanjutnya membatin.

"Apa anda merasakan kepala anda sakit, nona? Mengerjap bila iya, lihat kanan kiri apabila tidak."

Zeyya mengerjap.

"Dokter Vero akan segera ke sini. Sakit dikepala anda adalah hal wajar. Mengingat anda kecelakaan karena tertabrak mobil dengan kencang dan kepala anda terbentur aspal. Sangat bersyukur karena anda masih bisa diselamatkan."

Kali ini Zeyya lebih shock. Matanya bahkan melotot. "Kecalakaan?"

"Sejak kapan!"

"Perasaan, terakhir kali yang Zeyya inget, Zeyya itu tidur. Kok bisa kecalakaan?"

"Lalu siapa itu dokter Vero?"

"Nah, itu dokter Vero." Ucapan suster cantik itu membuyarkan lamunan Zeyya. Bola matanya reflek melirik ke pintu.

"Lho? Wajahnya mirip dokter Zean. Tapi kok namanya Vero? Nama panjangnya ada Veronya kali, ya?"

Segera dokter Vero langsung mengecek keadaan Zeyya.

Senyum langsung terbit dalam bibirnya.

"Akhirnya anda bangun dari koma. Baiklah nona Aleyya, saya akan menghubungi keluarga anda setelah ini."

"Weh-weh, wait-wait! Nama aku Zeyya woy! Bukan Aleyya! Dokter Zean amnesia, ya? Aku kan Azeyya. Ah, mungkin aja typo."

"Menghubungi keluarga? Tumben. Padahal abah sama umi kalau aku lagi sakit, nempel mulu kayak lem. Kok sekarang aku malah nggak ditemenin?"

"Sus, ini resep obat nona Aleyya Faraquinsha Azeyya. Tolong urus, dan jadwalkan terapi jalan untuk nona."

"EH?! WOY? Kok nama panjangku jadi beda?"

*****

Lanjut?

LullabyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang