Rumah Baru

18 1 0
                                        

Pagi kali ini sedikit membuat Andra tak bersemangat, dia yang sudah lengkap dengan setelan baju dan rok berwarna putih itu tengah duduk sambil memangku kaki di dekat koper biru miliknya.
" Eh, mbak, kok mukanya begitu?" Tanya Chelsea, adiknya yang berumur 15 tahun mereka hanya berbeda umur dua tahun.
" Nggak papa kok!" Singkat Andra seperti tak punya niat untuk berbicara.
" Harusnya kan senang, kali ini pindahan, tapi untuk menetap, dirumah nenek lagi!" Jelas Chelsea sedikit menekan.
" Oh ya?" Singkat Andra.
Chelsea menatap malas ke arah Andra kemudian memutar bola matanya, rasanya dia menyesal mengajak bicara kakaknya yang sedang super badmood itu.

Pagi itu adalah pagi dimana Andra dan keluarganya harus berpindah tempat karena pekerjaan Hardy papanya yang dimutasi ke bandung, beruntungnya pindahan kali ini mereka akan menetap dan sudah tidak berpindah pindah lagi seperti yang lalu lalu, Di bandung mereka akan tinggal di rumah peninggalan nenek mereka yang sudah lama tidak ditempati, tapi masih bagus dan terawat karena ada yang mengelola dan rajin untuk memperhatikan rumah itu.

" Oke, kita siap berangkat nih, yuk ke mobil!" Ajak hardy yang baru keluar sambil memboyong beberapa koper bersama dengan maudy istrinya.
Andra tak menjawab dan hanya diam saja, rasanya dia benar benar ingin tinggal saja sendirian disini, sudah muak dengan perpindahan ini.

" Kok gitu sih mukanya kak?" Tanya Hardy ketika ajakannya dibalas tak enak oleh wajah sang putri sulung.
" Bukan baru kok pah, itu kan drama Andra kalau tiap mau pindahan!" Jawab Maudy yang tengah mengunci pintu sembari tersenyum ke arah Suami dan putrinya bergantian.
Hardy pun tertawa kecil ke arah Andra. " Cuman makan waktu 2 jam kok, Ndra!!" Ujar Hardy.
Andra hanya tersenyum kecut.

***

" Andra, soal sekolah kamu itu udah ada teman papa yang ngurusin, jadi kamu bisa istirahat dirumah palingan dua hari gitu, baru deh masuk sekolah!" Ujar Hardy membuka percakapan.
" Jauh nggak sih, pah?" Tanya Andra.
" Nggak terlalu sayang, bisa naik angkot, tapi nanti papa bakal anterin kalian berdua yah!"
" Kalau chelsea biar sama angkot aja, pah!" Sambung chelsea bersemangat.
" Tapi awal masuk itu dianter dulu, biar hafal jalan yah!" Tambah Maudy.

Memakan waktu 3 jam lebih untuk mereka bisa sampai di tempat tujuan, disana sudah ada mang Dian dan istrinya yang dipercayakan untuk mengurus rumah itu ketika tidak ditempati, jadinya mereka sudah seperti keluarga.
Mang Dian dan istrinya yang disapa Mbok Nur itu sudah lama mengabdi di keluarga mereka sejak kakek dan nenek, orang tua dari Hardy masih hidup.
Walaupun berstatus sebagai pembantu dan tukang kebun di rumah itu, Hardy dan Maudy tetap memperlakukan mereka berdua layaknya keluarga, bahkan sudah sejak dulu pun ketika makan di meja bersama, Mang Dian dan Mbok Nur turut serta dalam jamuan kasih keluarga itu.

Andra menarik kopernya sendiri dan masuk ke dalam rumah yang masih elok dan benar benar tidak ada perubahan apapun, padahal kedatangan terakhirnya di rumah itu adalah saat neneknya meninggal dan dia baru berusia 8 tahun sedangkan chelsea 6 tahun. Benar benar rumah itu masih sama dan tak berubah sedikitpun.
Andra pun menaiki tangga dan masuk ke dalam salah satu kamar yang ada di lantai atas, ketika masuk dia tersenyum dan langsung menghampiri letak meja yang ditaruh langsung di depan jendela menghadap langsung ke arah taman belakang milik neneknya yang masih sangat terjaga kesejukan dan keelokannya, walaupun jendela kamar itu berhadapan langsung dengan jendela rumah tetangga sebelah yang tampak mewah dari bagian pembatas antara rumah mereka dan rumah neneknya, namun itu bukanlah problem bagi Andra, yang jelas mood nya sudah balik lagi karena letak meja belajar yang sama dengan letak meja belajarnya saat masih di jakarta.

" Papa sengaja nyuruh Mang Dian buat menata ulang kamar ini untuk kamu!" Suara Hardy tiba tiba terdengar dari arah pintu kamarnya.
Andra menoleh sambil tersenyum.
" Thanks ya, pah!" Ujarnya.
Hardy mengangguk dan tersenyum puas melihat putrinya yang kembali semangat.
" Kalau gitu, papa tinggal dulu ya, papa harus laporan ke kantor dan akan kembali nanti malam, sampai jumpa di makan malam nanti ya sayang!" Jelas Hardy sekaligus berpamitan untuk pergi.
" Emang harus sekarang banget ya, pah? Kan baru nyampe?" Tanya Andra dengan raut wajah agak sedih.
" Yah,,, mau gimana lagi, maafin papa yah sayang!" Tutur Hardy dengan raut wajah bersalah.
Andra mengangguk dan tersenyum.
" Nggak papa kok, pah!! Andra ngerti!"
" Kalau begitu papa pergi dulu, see you!"
" See you pah!"

***

Sudah maghrib ketika Andra tersadar dari tidurnya.
Akibat kelelahan di perjalanan tadi, membuat Andra tertidur hingga lupa waktu, bahkan dia tadi pun tidak sempat mandi.

" Eh, Chelsea!" Panggil Maudy ketika Melihat putri bungsunya lewat sambil menggendong kucing yang dia temukan di belakang tadi.
" Ya mah?" Sahut gadis itu sembari menghampiri sang mama yang tengah sibuk menyiapkan makan malam bersama dengan mbok Nur.
" Bangunin mbak dulu!" Suruhnya.
Chelsea hanya mengangguk dan langsung beranjak.
" Eh chelsea, nak!" Panggil Maudy lagi saat langkah Chelsea hampir mencapai tangga.
Chelsea menoleh dengan tatapan bulat.
" Kucingnya!!" Ucap Maudy memperingati.
" Oh iya, sorry mah, chelsea lupa heheheh!!" Sambungnya saat tersadar kala dia sedang menggendong kucing dan Andra adalah salah satu manusia yang alergi dengan bulu hewan tersebut.
Chelsea menaruh kucing tersebut di bawah lantai dan langsung melangkah menuju kamar Andra.

Maudy melihat kucing itu dan hanya geleng geleng kepala sambil melangkah dan menggendong kucing itu untuk membawanya lagi keluar.

Chelsea memasuki kamar Andra yang ternyata kosong.
" Mbak, mbak Andra!!" Panggil chelsea mencari keberadaan sang kakak.
Gadis itu melangkah ke arah kamar mandi dan sedang terkunci dari dalam, oh rupanya Andra sedang mandi.
Chelsea pun menghampiri meja belajar milik Andra yang baru di tata oleh pemiliknya 40% menuju ke aesthetic- kan.

Sembari menunggu sang kakak yang sementara mandi, dia membuka buka malas lembaran salah satu novel yang ada di atas meja itu.
Sudah mulai gelap pula kala itu, nanar Chelsea tak sengaja mengarah pada bagunan megah yang berdiri langsung di depan jendela kamar itu karena memang hanya berbataskan taman dan tembok pagar milik neneknya.

" Ngapain?" Chelsea dikagetkan dengan suara Andra yang baru keluar dari kamar mandi.
" Mama suruh bagunin, makanya sekalian aja nungguin mbak!" Jelas chelsea yang kembali membolak balik buku novel tadi.
" Nih gue udah bangun!"
Chelsea mengangguk.
" Trus masih mau ngapain duduk disitu?"
" Suka aja!"
" Aneh!!"
" Udah ah, kamar mbak ngebosenin!"
" Dari pada kamar lo yang penuh bulu kucing itu, buat gue penyakitan terus!!"
" Oh jadi sengaja ngejauh dari kamar gue karena bayi bayi gue?"
" Iyalaah!!!"
" Nanti kalau udah selesai langsung turun! " Suruh chelsea lagi yang kini sudah beranjak pergi.

Ketika selesai dengan dunia perskincare-an, Andra masih menyempatkan waktu untuk menata sebagian buku yang belum sempat dia bereskan tadi siang.

Andra menepuk kedua telapak tangannya sambil tersenyum bangga ketika dirinya selesai menata buku buku itu yang kini sudah jadi meja belajar aesthetic sesuai dengan keinginannya.
Senyum itu tiba tiba hilang ketika dua bola mata Andra mengarah ke jendela seberang.
Seingatnya rumah itu dari tadi sangat gelap, tapi kini jendela dan horden terbuka juga lampu tengah menyala, rupanya jendela itu adalah kamar seseorang.

Andra langsung saja menutup jendela dan menarik hordennya sesegera mungkin.

***

Disela sela makan malam bersama, Andra menatap Hardy yang tengah asyik dengan makanan miliknya.
" Papa!" Suara Andra mampu menarik perhatian semua yang tengah makan.
" Iya? Kenapa?" Respon Hardy sembari menatap putri sulungnya.
" Eeh,,, rumah yang disebelah itu_"
Belum selesai dengan penuturannya Mang Dian pun langsung menyambung seakan tau maksud dari perkataan Andra.
" Itu ada penghuninya juga kok, non.... Orang belanda!!"
" Hee,,, suaminya yang orang belanda mas!!" Potong Mbok Nur.
" Tapi kok, sepi?" Sambung Andra.
" Iyah, mereka itu orang sibuk, Kami juga jarang jarang liat mereka itu!" Tutur mang dian.
Andra hanya mengangguk ngangguk dan kembali fokus pada makanannya.

Hallo semua, Beri vote dan komen yaah!!! 😇😇

Sosok SeberangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang