Aku di deportasi dari kota oleh Ayah karena tak sengaja membuat istrinya lumpuh.
Walau benci setengah mati, tapi aku harus mengambil hikmah dari setiap kejadian. Mungkin inilah saatnya bagiku untuk lebih mandiri.
Distrik 0 adalah tempat aku dibuang. Sejujurnya aku tidak tahu banyak tentang tempat ini, yang aku tahu hanyalah bahwa Distrik 0 amatlah miskin. Tidak seperti di kota ku.
Aku sudah menyembunyikan sebagian uang hasil curianku dari dompet Ayah ke dalaman baju, Distrik miskin artinya angka kejahatan lumayan tinggi.
Aku diantar oleh Ayah sendiri, sampai di rumah saudaraku yang baik hati. Namanya Migren, Single Mother di pertengahan 40-an.
Saat sudah sampai, aku masuk ke dalam tanpa berpamitan pada Ayah, kukira Ayah akan segera pergi, sampai pemandangan menjijikkan itu tersaji di hadapanku. Oh, astaga, kasihan sekali ibu tiriku.
Saat deru mobil Ayah sudah lumayan jauh, Bibi Migren mendatangi ku. "Nah, Lala. Pertama, abaikan yang kau lihat tadi—
"Namaku, Kala, bukan Lala. Dan abaikan apa Bibi Migren? Aku tidak melihat cukup banyak, hanya sampai kau dan Ayahku ciuman."
Bibi Migren menatapku tajam. "Yang itu. Tepat. Abaikan."
Aku mengangguk mafhum. "Pantas saja rumah dan tubuhmu besar, ternyata ada darah yang kau sedot terus-menerus."
"Jalang. Kau pikir siapa dirimu? Hanya anak yang dibuang. Tidak lebih." Bibi Migren menyerong koperku dengan kakinya. "Pergilah lihat kamar barumu, dan untuk seminggu kedepan, tak ada makanan untukmu."
***
Kamar yang kutempati ternyata adalah gudang penyimpanan lama Bibi Migren, bangunan yang terbuat dari kayu dan perlu banyak perbaikan ini akan kutempati untuk ... Entahlah, beberapa tahun ke depan mungkin, saat aku sudah memiliki hunian layak tinggal.
Aku meletakkan koperku di luar gudang dan mulai membersihkan tempat ini, meletakkan berbagai barang yang sudah tidak dapat dipakai ke tempat sampah,
