Replertime

62 6 0
                                        

         Pada saat itu‌, hari Rabu 16 Juni, aku kembali ke kampung halamanku untuk menghadiri pemakaman teman masa kecilku yang meninggal karena kecelakaan. Dia adalah Ueno, meninggal dalam keadaan tenggelam di laut untuk menyelamatkan seorang anak kecil yang terseret oleh derasnya ombak pantai. Anak kecil itu selamat, namun tidak dengan Ueno.

Setelah beberapa persiapan untuk pemakamannya, aku yang berdiri di bagian kanan jenazah Ueno sambil membayangkan hari-hari dimana aku bermain bersamanya.

"padahal kemarin dia masih bermain bersamaku" Ucapku dalam hati.

Tiba-tiba ada sekilas cahaya yang keluar bersama suara potretan kamera.

"siapa itu yang mengambil foto dengan kamera seperti itu, sangat tidak sopan!" ucap paman Alan, ayah dari Ueno.

Tak lama kemudian aku bertemu dengan kou, dia teman masa kecil ku juga. Aku berbincang-bincang dengan kou yang sudah lama tidak bertemu.

"Hey lihatlah anak kecil itu, dia adalah anak kecil yang di selamatkan olah Ueno, sejak kejadian itu dia seperti sangat syok sampai tidak bisa berbicara apa-apa" ucap kou dengan suara lirih di dekat telinga ku.

Aku hanya bisa terdiam. Setelah lama waktu yang berlalu untuk duka dan sedih. Pemakaman ueno telah selesai.

"Kakak, ayo kita pulang" panggil adik ku Mio.

"Iya, ayo kita pulang".

Di perjalanan pulang, Mio menceritakan suatu hal padaku.

"Apa kau tau tentang kisah anak kecil yang hilang di tengah hutan?" Tanya Mio.

"Ada apa dengan anak kecil itu?".

"Konon katanya, saat anak kecil itu sedang bermain di hutan bersama kedua temannya. ada seorang penduduk yang hendak mencari kayu bakar melihat anak kecil yang berlumuran darah di telapak tangan nya. Ketika dia menolehkan kepala nya ke kanan dan ke kiri untuk mencari tau apa yang terjadi di sana, saat pandangan kembali ke anak kecil itu sudah tidak ada siapa pun. Karena ketakutan, dia pun segera untuk keluar hutan dan kembali ke rumah nya. Selang waktu perjalanan pulang, dia melihat tetesan darah yang nampak menuju ke sungai. Karna dia sudah muak akan hal yang terjadi sebelumnya, dia pun bergegas untuk kembali ke rumahnya, dengan begitulah anak kecil itu di sebut Haine" Mio bercerita

"Seperti dongeng yang di buat-buat, mana ada anak kecil yang bermain-main dengan darah" respon ku terhadap ceritanya.

"Yah, namanya juga mitos" balas Mio dengan sedikit memalingkan wajah nya.

Sesampai nya di rumah, karena merasa lelah aku langsung menuju kamar dan merebahkan badan di atas kasur. Tanpa sadar aku terlelap dalam tidur hingga malam hari. Lalu ada seseorang yang memanggil dari balik pintu kamar sembari mengetuk pintu tiga kali dengan ketukan yang semakin mengeras.

Aku pun bangun dan hendak membukakan pintu. Ketika pintu ku buka.

"Eh, siapa yang memanggil ku barusan?" Ucap ku dengan kebingungan.

"Mungkin Mio yang memanggil ku, kemudian dia pergi terlebih dahulu" ucapku dalam hati.

Tiba-tiba mata kiri ku terasa sakit, entah apa yang terjadi pada mata kiri ku sehingga terasa nyeri. "Apa karena aku terlalu lama tidur?" tapi syukurlah tidak terasa lama. Mungkin aku terlalu lelah hari ini, Aku pun pergi mencuci muka, di saat menatap cermin. ada sesuatu yang aneh dengan mata kiri ku yang mana bola mata ku berubah berwarna biru muda terang, padahal bola mata kanan ku baik-baik saja. aku yang merasa heran sempat berfikir bahwa ini adalah mimpi. Aku mencoba melihat lebih teliti pada mata kiri ku yang seperti nya sudah kehilangan fungsi nya.

ReplertimeWhere stories live. Discover now