LAUT
Aku senang memanggilnya Laut. Lautan seperti bersinonim dengan namanya.
Kini kuperkenalkan dia sebagai Laut. Panggil dia Laut, maka dia akan datang.
Kata Laut, dia suka sekali pantai. Dia menawarkan pergi ke pantai tapi kubilang padanya "Laut, sejak awal kamu tahu aku tidak ingin pergi ke sana."
"Kenapa? kamu takut hitam?"
"Takut tempat itu jauh sekali yaa?" Laut menatap mataku.
"Tidak Laut, aku tidak takut hitam."
"Ya, aku lebih takut tempat itu jauh. Kamu tahu aku benci sekali berpergian ke tempat yang jauh." Kini aku menatap matanya. Bisa kulihat, matanya menyipit bagai bulan sabit. Ya, dia tersenyum mendengar jawabanku.
Tangan Laut sudah mengenggam tanganku, "Kirana, dengar. Sejauh apa pun tempat itu, selama kamu ada di sampingku, akan aku usahakan untuk sampai ke sana."
"Tapi Laut, aku tidak mau."
"Yasudah tidak papa, aku tidak akan memaksa kamu Kirana." tangannya mengusap kepalaku.
"Terima kasih, Laut."
"Kalau kamu ingin pergi ke suatu tempat, bilang saja Kirana. Aku bisa menemanimu. Aku selalu bisa kalau untuk kamu."
Aku mengangguk.
Laut selalu seperti itu. Aku selalu menolaknya pergi ke pantai. Aku tahu pantai adalah salah satu tempat favoritnya. Dia selalu menungguku menjawab ajakannya. Tapi aku tidak bisa, aku tidak mau. Bukan karena aku takut hitam, bukan karena tempat itu jauh. Kata orang, perjalanan jauh akan menyenangkan apabila ditempuh bersama orang yang tepat. Seseorang yang kita sayang. Seseorang yang juga menyayangi kita. Aku tahu Laut menyayangiku. Tapi, aku takut. Jauh di lubuk hatiku aku bertanya, "Apakah aku benar-benar menyayangi Laut?".
