Cerita ini hasil pemikiran nyata dari penulis. Mohon maaf apabila ada kesamaan nama, latar, tempat, alur dan lain sebagainya.
selamat membaca, selamat menikmati dan semoga suka.
Terimakasih.
***
Di bawah pohon jambu yang rindang daunnya dan lebat buahnya, terdapat tiga pemuda yang sedang berkumpul. Mereka sedang berbaring dengan beralaskan tikar. Bisa dibilang tempat itu adalah salah satu markas tempat berkumpulnya mereka.
Sederhana memang, tapi bermakna bagi mereka karena tempat bukanlah tolak ukur pertemanan, melainkan solidaritas lah yang menjadi tolak ukurnya. Untuk apa berkumpul di tempat mewah jika hanya sibuk dengan handphone masing-masing, foto-foto, kemudian posting di sosial media. Setelah itu, pulang ke rumah tanpa ada cerita atau momen yang tercipta. Bukankah kalau berkumpul itu untuk mengobrol mulai dari yang serius hingga random yang membuat orang-orang di perkumpulan itu tertawa lepas.
Namun, hal itu tidak berlaku untuk tiga pemuda ini. Mereka hanya berkumpul di bawah pohon masing-masing yang ada di belakang rumah mereka. Tidak lupa juga dengan camilan yang menjadi pelengkap berkumpulnya mereka.
Tiga pemuda itu adalah Andre, Gani, dan Hafiz. Setiap rumah mereka memiliki pohon buah. Andre yang punya pohon jambu, Gani yang memiliki pohon mangga, dan Hafiz pohon rambutan. Teduh tempatnya dan hemat juga. Jika lapar tinggal panjat saja pohonnya lalu ambil buahnya.
Seperti sore ini, mereka sedang berkumpul di rumah Andre yang punya pohon jambu dan sedang berbuah lebat. Jadi, mereka berkumpullah di rumah Andre. Kini, mereka sedang rebahan sambil menikmati angin sepoi-sepoi.
Saat asyik rebahan, tiba-tiba Gani menyeletuk.
“Eh, Bro, kita bikin nama geng, yuk?” celetuk Gani yang membuat kedua temannya menatapnya.
Gani adalah seorang yang aneh tingkahnya dan pikirannya. Ada saja hal random yang diucapkannya setiap hari yang sungguh di luar nalar. Intinya Gani si paling random.
“Untungnya apa coba? Kek cewek aja pakai nama geng segala,” ketus Hafiz.
Ya, Hafiz memang judes orangnya dan pedas omongannya. FYI Hafiz ini selalu tahu berita terkini. Entah dari mana dia mengetahuinya. Hanya Hafiz dan Tuhan yang tahu.
“Gue setuju, Gan, sama lu. Biar kita keren gitu kaya orang-orang ada nama gengnya,” jawab Andre menyetujui usulan Gani.
Nah, kalau si Andre ini tipe cowok yang penurut, lemah lembut ,dan sedikit lemot. Akan tetapi, lemotnya Andre ini tidak berlaku untuk pelajaran di sekolah. Ia hanya lemot ketika diajak bertukar cerita dengan kedua temannya itu. Andre si paling pintar, tapi lemot, julukan spesial dari Gani dan Hafiz.
“Gue gak setuju,” tolak Hafiz.
“Kalau lu gak mau yaudah gak usah bespren kita kemusuhan aja,” sahut Andre kesal.
“Iya kita kemusuhan, lu sama gue aja. Tapi, gue sama Gani tetap bespren wleee,” sambung Hafiz yang menjulurkan lidahnya pada Andre.
“Ayang Gani, Hafiz jahat sama Andre,” adu Andre yang menirukan perempuan sedang mengadu kepada pacarnya sambil memegang tangan Gani.
Gani melepaskan gandengan tangan Andre. Ia merasa risi karena digandeng sesama lelaki. Jomblo sih jomblo, tapi tidak belok juga ‘kan?
Agak lain memang si Andre ini. Bisa-bisanya bicara begitu. Gandeng tangan Gani lagi.
“ih, jijik gue sama lu, Ndre,” ucap Gani melepaskan tangannya dari gandengan Andre.
“Merinding gue liatnya.”
“Kaya gue apa aja. Lebay banget lu pada. Gue Cuma bercanda woi. Jadi, gimana nih, nama geng kita apaan?” tanya Andre.
“Gue gak suka kita pakai nama geng segala,” tolak Hafiz yang tetap teguh dengan pendiriannya.
Mendengar ucapan Hafiz yang masih keras kepala, Gani pun dengan sabar menjelaskannya secara detail.
“Gini lho Hafiz yang ganteng katanya. Kita kan dah lama bespren. Kaya ada yang kurang aja gitu kalau gak ada nama geng nya. Cuma kita bertiga aja kok yang tau namanya. Orang-orang gak perlu tau kan yang bespren kita bertiga,” ucap Gani menjelaskan.
“Ho’oh betul itu. Setuju aja lah, Fiz, gak rugiin ekonomi keluarga lu juga. Mau, ya, ya?” bujuk Andre sambil memasang wajah imut yang ia miliki.
“Gue ganteng bukan katanya, tapi memang nyatanya,” sahut Hafiz tersenyum dengan bangganya.
“Iya dah si paling ganteng,” ucap Andre pasrah.
“Nyesel gue bilang lu ganteng,” kesal Gani.
“For your information, Pren, Andre juga ganteng, lho.”
“Ah sudahlah mending turu, “ ucap Hafiz cuek.
“Gak dengar kuping gue lagi ngambek,” sahut Gani asal.
“Jahat lu berdua sama gue, ya. Musuhan kita pokoknya. Gue mau nangkring aja di atas pohon. Gue ngambek sama kalian. Gue gak mau turun kalau kalian gak bujuk. Huh menyebalkan,” rajuk Andre panjang lebar.
Kini mereka bertiga pun terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hafiz yang masih tiduran, Andre yang tetap nangkring di atas pohon jambu sambil memakan jambunya, dan Gani yang tengkurap sambil memikirkan nama geng mereka.
Tiba-tiba Gani memanggil kedua temannya yang membuat Andre dan Hafiz menatapnya.
“Woi, Bro!” panggil Gani kepada kedua temannya.
Mendengar panggilan Gani, Hafiz pun langsung mengubah posisinya menjadi duduk dan Andre langsung melompat dari atas pohon. Tenang saja, dia tidak akan terkilir karena pohonnya tidak terlalu tinggi.
“Apa?” tanya Andre dan Hafiz bersamaan.
“Lu, lu tau, gak ?” tanya balik Gani dengan senyum yang mencurigakan.
Andre dan Hafiz saling tatap dan menggelengkan kepalanya.
“Gak.” jawab Hafiz dan Andre bersamaan lagi.
“Gue dah tau nama geng kita,” jelas Gani heboh.
“Apa namanya?” tanya Andre.
“Jangan aneh-aneh ya, Gan.” jawab Hafiz curiga. Pasalnya Gani ini sangat random orangnya.
Karena Gani ini adalah si paling random diantara Andre dan Hafiz. Ada saja tingkahnya yang diluar jangkauan dan prediksi BMKG.
“Nama geng kita adalah TRIGAN. Bagus ‘kan namannya? Gani gitu lho!” jawab Gani bangga.
Iya Gani bangga karena sudah menemukan nama gengnya.
“Apaan tuh TRIGAN?” tanya Andre.
“Jangan yang aneh dong, Gan namanya. Bukannya keren jatuhnya malah alay,“ ucap Hafiz.
“Ini itu namanya keren lho, Bro, gak ada pokoknya yang nyamain percaya deh sama gue.” jawab Gani meyakinkan kedua temannya itu.
“Iya deh iya, kita percaya sama lu. Emang TRIGAN itu apaan?”
“Trio Ganteng,” jelas Gani.
Andre dan Hafiz terdiam mencerna ucapan Gani tadi. Setelah itu, mereka berdua saling pandang.
“Gimana bagus bin keren ‘kan namanya?”
“Ekhem. Gue sih setuju namanya itu. Secara kan kita bertiga ganteng. Tapi, tetep gue sih yang paling ganteng, “ ucap Andre sambil menaikkan satu alisnya.
“Iya lu si paling ganteng kalau dilihat dari monas,” sinis Hafiz.
“Apaan sih lu, Fiz, sewot banget sama gue. Iri mah bilang aja.”
“Idih, gak level iri sama kembarannya buaya kaya lu.”
“Apa lu bilang!!” kesal Andre.
“Udah-udah gak usah adu mulut apalagi adu kegantengan intinya kita bertiga itu ganteng,” ucap Gani menengahi perdebatan dua temannya itu.
Andre dan Hafiz pun terdiam, tapi tidak dengan mulut mereka yang masih komat kamit.
“Gimana kalian setuju kan kalau nama geng kita TRIGAN?” tanya Gani.
“Kalau nama ini sih gue setuju banget, Gan. Dari dulu kek bikin nama geng kitanya,” jawab Hafiz yang akhirnya menyetujui juga.
“Ho’oh berasa naik drastis tingkat percaya diri gue,” ucap Andre dengan bangganya.
“Dulu mah mana kepikiran bikin nama geng. Yang ada dalam pikiran kita mah makan, main, sekolah, terus tidur. Gitu-gitu aja rutinitas kita,” jawab Gani.
“Betewe, kita bentar lagi lulus. Bisa gak ya kita kumpul-kumpul kaya gini. Cerita random lagi,” ucap Hafiz tiba-tiba mengganti topik.
Gani dan Andre mendadak jadi diam karena ucapan Hafiz.
“Walaupun baru aja kita punya nama geng, tapi kan kita udah lama besprennya. Banyak kenangan kita selama ini. Mulai yang memalukan sampai membanggakan. Gue anggap kalian tuh saudara. Walaupun, kita beda orang tua. Gak ada ikatan batin apalagi ikatan darah, hehe,” sambung Hafiz yang diakhiri kekehan.
“Sini kita teletubis dulu yuk, Bro. Biar gak sad banget ceritanya, “ ajak gani sambil merentangkan kedua tangannya.
Gani, Andre, dan Hafiz pun saling merangkul ya bukan berpelukan. Mereka saling menguatkan satu sama lain.
“Kalau diingat-ingat kita tuh awal mulanya gara-gara telat masuk sekolah. Mana Cuma kita aja lagi yang telat. Asli sih waktu itu malu banget gue,” ucap Andre.
“Setelah kejadian itu, kita dipertemukan lagi dengan kejadian yang sangat menyakitkan,” sambung Hafiz.
“Gue inget banget tuh pasti si cewe itu, ya kan? Ini sih definisi sakit, tapi gak ,” lanjut Gani.
“Bisa-bisanya dia pacaran sama kita bertiga. Selama satu bulan lagi kita baru sadarnya. Antara dia yang pinter atau kita nya aja yang kelewat gak pinter?” bingung Gani.
“Menurut gue, kita nya sih yang gak pinter” sahut Andre.
“Mulus bener alur permainan tuh cewe, ya. Gue acungin jari tengah deh saking terpukaunya,” sambung Hafiz kesal.
Pedas sekali kata-kata yang keluar dari mulut Hafiz.
“Tapi, kalau gak kenal tuh cewe mana mungkin kita bisa bespren sampai sekarang, ya kan?” ucap Gani.
“Dulu itu kita gak sekelas makanya kita agak lama sadarnya. Kalau sekelas kan kita tiap hari ketemu. Jadi, gak mungkin lah dia lakuin itu sama kita bertiga,” ucap Andre bijak.
“iya, ya, kita bertiga beda kelas dan dia kakak kelas kita lagi. Untung aja waktu itu kita main TOD yang truthnya itu sebut nama pacar kita yakan?” sambung Andre.
“Yaudahlah ya itu udah jadi masa lalu biarin aja berlalu. Walaupun, awal mula bespren kita karena terlambatnya kesekolah dan satu cewe yang bohongin kita bertiga. Tapi, itu awal mula yang bagus untuk kita menjadi bespren sampai sekarang,” ucap Gani sambil tersenyum.
“Betul sekali, gakpapa awalnya agak lain dari yang lain. Asalkan kita bespren,” sambung Hafiz juga ikut tersnyum.
“Bespren kita ini sampai selamanya walaupun tinggal nama. Jangan pada sombong lu lu pada ya nanti kalau dah pada kerja, kuliah, atau nikah. Ingat aib ada di dalam ingatan gue. Awas aja ya lu pada,” ucap Andre memperingati dua besprennya.
“Lu bertingkah, ambyar dah tuh aib kalian,” sambung Andre.
“Iya iya tenang aja santai, Bro, santai.”
“Yaelah tinggal gue jedotin aja kepala lu ke pohon jambu trus amnesia deh lu nya hahah,” ucap Gani sambil tertawa.
“Jahat lu ya sama gue. Awas lu makan pohon jambu gue lagi,” kesal Andre.
“Tenang, Bro, pohon jambu mah banyak. Kan punya nya Pak RT ada. Kalau mau mah tinggal bilang aja pasti dikasih,” sambung Hafiz.
“Oh iya ya baru ingat gue. Jambu Andre gak diberi, jambunya Pak RT pun jadi hahah.”
“Huh menyebalkan, kalian pulang gih lu pada. Ngambek gue sama lu berdua. Kemusuhan kita,” kesal Andre.
“Hahahaha,” tawa Hafiz dan Gani bersamaan.
Meledek si Andre yang baperan memang menyenangkan.
“Sebelum kita pulang kerumah masing-masing mari kita ucapkan nama geng kebanggaan kita ini,” ucap Gani.
“Siapa kita, Bro?” sambung Gani
“TRIGAN!” seru Andre dan Hafiz bersamaan.
“Apa tuh TRIGAN?” tanya Gani mengawalinya.
“Trio Ganteng!” teriak Andre,Gani dan Hafiz bersamaan.
“Berisik!” teriak salah satu tetangga rumah Andre.
“Yaudah deh gue sama Gani pulang dulu ya, Bro. Bilangin sama Emak lu ya?” pamit Hafiz.
“Siap, Bro,” ucap Andre.
Pertemanan itu akan bertahan lama kalau diisi dengan orang yang banyak perbedaannya, tapi sama dalam hal tingkahnya. Seperti TRIGAN ini. Mereka sangat berbeda dalam banyak hal, tapi tidak untuk humornya. Mereka sama-sama suka bercanda. Satu kesamaan itulah yang membuat pertemanan mereka bertahan sampai sekarang.
Nama : Fifi
Jumlah Kata : 1728
YOU ARE READING
Kumpulan Cerpen II
Short StoryLiterasi dan Sastra atau biasa yang disingkat Litersastra adalah grup literasi via messenger yang didirkan oleh Aray Literasi, pada tanggal 04 Juni 2021. Grup ini dibangun dengan tujuan belajar bersama, mencari teman, dan yang pasti adalah untuk mem...
