Pampers

564 35 14
                                        

•sligh noren

...

"Beneran nih nggak papa?"

Jeno mengangguk yakin dengan senyuman yang membuat matanya melengkung juga. "Aman. Jie juga lagi tidur, sayang."

Renjun menatap suaminya dengan sedikit tak yakin. Pasalnya pernah ia meninggalkan anaknya bersama Jeno, malah suaminya tidur anaknya main sendiri. Renjun khawatir akan terjadi sesuatu.

"Aku janji nggak kaya waktu itu kok." Jeno mengajukan kelingkingnya. Renjun menghela nafas. Ia membalas menautkan jari kelingkingnya pada sang suami, memegang janjinya. Semoga benar apa yang diucapkan Jeno.

"Yaudah, aku siap-siap ya?"

Jeno tersenyum manis untuk meyakinkan pasangannya. "Iya Mamaa."

Beberapa menit setelahnya..

"Nanti kalau bangun langsung dimandiin ya. Makanannya udah aku taruh di kulkas, nanti tinggal di angetin. Buat kamu hari ini free, mau masak sendiri atau delivery boleh. Maaf belum sempet masakin."

"Iya kamu tenang aja. Hati-hati ya.." Renjun mengangguk. Jeno mencium pasangannya sebelum memasuki mobil yang akan dibawa pergi.

"Loh, ka Ren mau kemana?" pasusu itu menoleh pada remaja dewasa laki-laki yang baru saja datang setelah menutup kembali gerbang yang dibuka. Padahal memang itu sengaja dibuka untuk lewat mobil.

"Pernikahan temen, sekalian reunian kalo berangkatnya hari ini, Na." jawab Renjun.

"Ka Jen nggak ikut? Jie mana?" tanyanya beruntun.

"Enggak, Na. Jie juga masih tidur, mau dibangunin nggak tega. Jeno sih bilang, aku berangkat sendiri ngga papa, sekalian quality time sama temen temen."

Jaemin mengangguk. Mulutnya membentuk bulatan.

"Bawa apa, Na?" tanya Jeno setelah adiknya mengangguk mendengarkan penjelasan dari istrinya. Jaemin mengangkat totebage yang dibawa di tangannya.

"Makanan dari Bunda. Nih." Jeno menerima dengan senang hati, mengingat Renjun akan pergi jadi dirinya tak perlu masak untuk makan siang.

"Yaudah aku berangkat." Jaemin merapatkan diri di samping Jeno sebab tempatnya berdiri tadi berdempetan dengan mobil yang akan digunakan Renjun untuk pergi.

"Ya hati-hati!" sahut Jeno saat Renjun memberi klakson mobilnya. Tersisa Jeno dan Jaemin saja di teras rumah.

Jeno menatap adiknya. "Mau masuk ngga?" Jaemin mengangguk.

Sepasang kakak adik berbeda 7 tahun itu melangkahkan kakinya memasuki rumah Jeno dan Renjun yang dibangun bersama. Jaemin mendaratkan pantatnya di sofa ruang tengah. Tangannya aktif mengambil remot televisi dan menekan tombol on.

"Belum mandi ya, kamu?"

Jaemin lantas nyengir lima jari saat mendapati pertanyaan kakaknya. Jeno tengah melanjutkan membenahi rumah yang tadi sempat tertunda.

"Lain kali ganti celana dulu, baju sekalian. Keluar rumah pake celana yang nggak keliatan." Jeno menggeleng. Jaemin selalu mencebik saat dinasehati baik baik oleh kakaknya.

"Dibilangin juga. Untung kamu nya kesini, nggak ke warung. Bisa bisa di godain sama anaknya."

"Ih. kaka diem deh!" Jeno tertawa lebar melihat raut kesal adiknya setelah ia jahili. Lagian anaknya bandel, udah di bilangin beberapa kali nggak dilakuin. Cuman masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

Jaemin memang mengenakan kaos kedodoran dan celana pendek yang memancarkan paha mulusnya. Jeno, Renjun, bahkan Doyoung-Bunda mereka sekalipun sering menasehati. Namun yang namanya Jaemin, ia menyimpan banyak sekali alasan.

sweet coffeeWhere stories live. Discover now