Mentari pagi bersinar terang, menerpa pucuk pepohonan, membasuh sawah yang begitu indah dengan padinya yang mulai menguning, menyambut alam dengan cahayanya yang mempesona.
Jalanan mulai ramai di lewati orang-orang, bapak-bapak yang pergi ke sawah dengan membawa rantang di tangan untuk makan siang nanti, anak kecil berlarian bersama teman-temannya membuat ramai sekitar.
Aku duduk di halaman rumah, di temani secangkir kopi dan sepiring ubi rebus, menikmati hawa yang hangat—setelah tadi malam di guyur hujan. Ku seruput kopi buatan ibuku, rasanya tak ada yang bisa mengalahkan kopi buatan ibuku ini.
"Oi, kau tak pergi sekolah Ahmad," tanya pak Abas, tetangga sebelah rumah.
"Nggak pak, sudah selesai tesnya, hari ini insyaallah di umumkan Pak," jawabku.
"Oh baguslah kalau begitu, semoga di terima ya Ahmad," ujar Pak Abas sambil bergegas pergi ke sawah.
"Aamiin Pak," kataku sambil tertawa. "Semoga panen padinya melimpah ya Pak!"
Matahari sudah mulai beranjak naik. aku langsung bergegas mandi, karena hari ini adalah hari yang kutunggu—hari pengumuman beasiswa ke Taiwan. Selesai mandi aku langsung menyambungkan jaringan internetku ke laptop, sembari mencomot sepotong ubi rebus lagi, kubuka email dengan perasaan deg-degan.
Kulihat ada email masuk dari staf pengumuman beasiswa, kubuka email tersebut penuh dengan pengharapan. Dan mataku terbelalak, seperti tak percaya apa yang kulihat di layar laptopku.
"Ya Allah, aku diterima?" pekikku dalam hati.
Segera ku sampaikan kabar ini kepada ibuku. Ibuku langsung bersujud syukur—sebagai tanda terima kasih kepada Allah. "Nak potong lima ekor ayam, nanti sore kita syukuran," kata ibuku dengan air mata mengalir.
Ku panjatkan segala terima kasihku kepada Badri—temen seperjuanganku, dan temen-temenku yang dulu mengolok-olokku. karena tanpa mereka, aku tak mungkin bisa sampai saat ini.
Segera saja aku memotong lima ayam untuk syukuran nanti sore, dan langsung berlari ke rumah Badri untuk menyampaikan kabar gembira ini.
"oi Badri!, aku di terima!," teriakku sambil melihat Badri sedang membuat sapu lidi di halaman rumahnya—itulah sumber penghasilan keluarga Badri selain dari menanam padi. Badri rela bekerja membantu orang tuanya bekerja, demi menghidupi keluarga dan tiga adiknya.
"Kenapa pula kau teriak-teriak?," tanya Badri kebingungan melihatku berteriak seperti orang kesurupan.
"Aku di terima Badri, di terima beasiswa kuliah di Taiwan," jelasku.
"Alhamdulillah Mad," kata badri, "Teman-teman kau yang dulu, nggak bakal berani lagi ngejek kau anak kampung yang bodoh," tawa Badri.
"hahaha, bisa aja kau ini," tawaku sambil mengenang kejadian saat dulu aku bersekolah.
***
"oi, kau itu anak kampung, tak usah sok-sok an paling pinter, dan sok punya impian ke luar negeri," olok Haikal, sambil mendorongku ke dinding. "oh iya, hari ini jadwalku membersihkan kamar mandi, kau aja ya yang bersihkan," paksa Haikal.
Sebenarnya aku bisa melawan Haikal, tapi dia bersama gengnya. Kusapu pandanganku mencari cara agar bisa melawan mereka, "kalau aku lawan percuma, nggak bakalan menang," pikirku.
" Baiklah, aku gantiin kau beresin kamar mandi" kataku terpaksa.
"Naah gitu dong," tawa Haikal puas. "Oh iya, bersihin yang betul ya anak kampung" ledek Haikal sambil berlalu pergi.
YOU ARE READING
Aku dan Impian
Short StoryJanganlah marah kepada takdir yang buruk dan kejam, karena sebenarnya takdir tak pernah salah, hanya kita yang terlalu bodoh (atau terlalu dungu) untuk memahaminya. Peluklah semua takdirmu, jalanilah dengan baik, karena takdir-yang kamu pikir itu...
