"Woi, katanya bakalan ada murid baru!" seru seorang pemuda bertubuh pendek begitu membuka pintu kelas. Kelas yang tadinya berisik, sontak hening sejenak
"Cewek or cowok?" Salah satu menyahut.
"Cowok." Segera decakan tak puas datang dari para lelaki, sedangkan sorakan senang dari pihak lainnya.
"Kalau gitu, kita harus siapin sambutan buat murid baru itu." Pemuda yang duduk di atas meja guru, menyeringai lebar saat menyarankan. Wajahnya yang penuh lebam menunjukkan jika ia baru saja berkelahi.
Para murid laki-laki lain menyoraki dengan semangat. Sedangkan murid perempuan yang sedang bergerombol dan berdandan, berdecak.
"Dasar sekumpulan laki-laki bego. Bilang aja takut kalah saing dari murid baru," gumam perempuan dengan dandanan menor.
Temannya mengangguk setuju. "Gue udah ngga sabar, deh, liat wajah cowok baru itu. Moga aja ganteng kalo ga manis."
Bel sekolah berdering, menggema ke seluruh bagian sekolah. Walaupun bel masuk telah berdering, tapi tidak ada satupun yang menghentikan aktivitasnya, seolah bel tersebut tidak terdengar.
Pintu kelas terbuka. Kali ini bukanlah murid, tapi guru wanita bertubuh besar. Wajahnya yang gemuk dengan alis menukik tajam terlihat sangat menakutkan. Hanya sekali lihat bisa disimpulkan jika dia adalah guru killer.
Tiba-tiba, dia membanting buku tebal di tangannya dan berteriak keras, "Diam Kalian semua. Bel masuk udah bunyi daritadi. Kalian tuli, hah?!"
Keributan hanya hilang sebentar sebelum menjadi lebih parah daripada sebelumnya. Mereka benar-benar menganggap guru itu sebagai angin kecil yang menumpang lewat.
Wajah gemuk sang guru memerah menahan emosi. Namun, mengetahui jika dia tidak bisa melakukan apapun lagi untuk mengatur murid-muridnya, dia segera beralih ke topik utama.
"Hari ini ada murid baru yang bergabung ke kelas," kalimat guru itu menarik minat sebagian para murid, khususnya perempuan.
Pintu kelas perlahan terbuka saat guru gemuk itu mempersilhkan seseorang yang ada di luar untuk masuk. Kaki yang panjang terlihat pertama kali, diikuti dengan tubuh tegap berbalut seragam sekolah dan wajahnya yang mempesona.
Satu-persatu pekikan tertahan menyebar dari ujung ke ujung, memenuhi ruang kelas dengan suara cempreng.
Tidak bisa disalahkan jika reaksi para perempuan seperti itu. Wajah murid baru itu benar-benar mengesankan. Bukan hanya tampan ataupun manis. Tapi campuran keduanya.
Senyum tipis yang bersarang di bibir tebalnya terasa menggoda. Mata hitamnya yang tajam melirik ke barisan tempat duduk yang tersebar tak beraturan.
Begitu tiba di atas podium, guru gemuk yang tadinya memasang wajah galak, berganti menjadi senyum ramah. "Silahkan perkenalkan dirimu, Nak."
Murid baru itu mengangguk dan tersenyum ke seluruh murid, membuat matanya menyipit. "Salam kenal. Namaku Alricvier. Senang bertemu dengan Kalian."
Salah satu siswi berwajah bulat mengangkat tangannya tepat setelah murid itu memperkenalkan diri. "Tidak ada nama belakang?"
"Hanya Alricvier. Kalian bisa memanggilku apa saja."
"Dari sekolah mana? Kenapa pindah ke sini?
"Nomor Kamu berapa?"
"Kamu ganteng banget sih. Jadi pacarku, yuk."
Satu-persatu siswi lain mengikuti mengajukan pertanyaan secara berturut-turut, bahkan pertanyaannya semakin absurd.
Namun, sebelum pertanyaan bisa berlanjut lebih jauh, suara gebrakan meja datang dari guru killer. "Tidak ada lagi pertanyaan!" Kemudian dia berbalik dengan ekspresinya yang sangat lembut pada Alricvier, mengabaikan gerutuan muridnya. "Nah, Nak Alric, duduk saja di kursi kosong sesukamu."
"Baik bu. Terima kasih."
Alricvier berniat menuju meja kosong yang berada di paling pojok. Saat dia masuk ke lorong barisan, sebuah kaki panjang tiba-tiba menghalangi langkahnya, berniat menjegalnya.
Hanya saja, rencana jahat itu tidak berhasil. Karena Alricvier sudah terlebih dahulu meloncati kaki itu, bahkan sedikit menginjak.
"Brengsek Lo!" Tidak terima kakinya diinjak, siswa itu bangkit dari duduknya dan langsung mencengkram kerah belakang sang murid baru.
Namun, tentu saja dengan kehadiran sang guru, apa yang ingin dia lakukan tidak bisa terlaksana. "Elang, mau ngapain Kamu?!"
Cengkraman pada kerah belakang Alricvier sontak terlepas. Dengan berbisik dia mengancam, "Liat aja Lo entar. Siap-siap dapet sambutan dari gue."
Alricvier hanya melirik dan memberi senyum tanpa makna sebelum berjalan ke bangku yang dia incar. Suara bisikan dan cekikikan mengiringi langkahnya yang stabil.
Pelajaran sebenarnya dimulai. Hanya saja. Ketika guru menjelaskan, tidak ada satupun murid yang memedulikan. Mereka sibuk dengan urusannya sendiri, meredam suara penjelasan sang guru.
Ternyata, kegalakan guru killer pun tetap tidak berarti apapun di kelas ini. Ralat, bukan di kelas ini saja. Tapi seluruh kelas.
_______________
Ini cerita pertama aku😆. Jangan lupa kasi vote dan komen ya, guys!
Baibai😘
#goodluck
YOU ARE READING
Unexpected Person
Teen FictionPernahkah Kamu membayangkan tentang adanya sekolah elite yang diisi oleh para berandalan? Kalau tidak, maka Kamu mungkin perlu mengetahui SMA Galaksi. Sekolah elite yang berisikan para berandalan dari keluarga kaya. Bagi mereka, sekolah adalah temp...
