Saran lagu untuk didengarkan sembari membaca
.
.
.
.
.
Tuhan, ujian apa lagi yang engkau berikan kali ini?
Aku muak, ingin berhenti di sini.
Apakah engkau akan mengabulkannya?
Atau membiarkan sang kunang-kunang padam sendirinya?
Entahlah, aku lelah.
Satu lagi bait puisi ku ukir di buku biru laut itu, menjadikannya penghuni ke 11 di dalamnya. Entah sudah berapa lama Aku terbaring di atas kasur ini.
Ruangan serba putih yang bersih, tanpa seberkas noda pun tampak di dalamnya. Tirai putih, kasur putih, meja putih, lantai putih, vas bunga putih, bunga putih, tangkai bunga putih, lalu kini juga ada mbak-mbak berbaju putih menatapku dari balik pintu yang putih.
…..
“ASTAGFIRULLAH YA ALLAH, APAAN TUH TADI!”
Reflek tanpa pikiran yang panjang disertai dengan ilmu agama yang juga cetek serta awam, Aku pun tergeak untuk membaca surah Yasin, walau bolong-bolong terus baca qur’annya (jangan ditiru ya adik – adik).
“A’udzubillahiminasyaitonirrojim, bismillahirahmaanirrahiim!”
Baru sempat membaca ta’wudz, mbak-mbak tersebut malah lebih cepat mendekat ketimbang ninjutsu. Dan yah,..tentu saja Aku mengeluarkan jurus andalanku.
“MAAAAAKKKKK SETAAAAAAAANNNN!!!" pekikku seraya menutup mata erat-erat.
Tak lupa Aku menarik selimut putih yang sedari tadi terlipat rapih, namun agak lecek karena sudah ternodai oleh kakiku yang tidak bisa diam tersebut.
Kalau dipikir-pikir, sungguh malang nasib sang selimut. Sudah tidak terpakai, eh malah ditendang – tending tanpa rasa bersalah sedikitpun. Mungkin kalau dia hidup, dia akan resign dari pekerjaannya sekarang, atau kemungkinan pindah ke kamar sebelah.
“HIIIIIYYYY, MANA SETAAAAANNN!”
“WUAAAAAA, SETANNYA BISA NGOMONG! ”
“AAAAAAAAA!!”
“AAAAAAAAAA!!!”
…..
Sebentar…, setan kok takut sama setan, sih? Batinku.
Kayaknya ada yang nggak beres, nih.
Dan benar saja, setelah mengumpulkan segenap tenaga dalamku yang tersisa karena habis akibat menjerit layaknya ksatria perkasa tadi, sesuatu yang aneh tapi nyata berada di depanku. Bukan, sih, lebih tepatnya di sebelah kasurku, tapi meringkup di atas lantai putih yang saking bersih dan kinclongnya membuat debu insecure untuk tampil di permukaannya, kasihan.
Yah, Kembali lagi ke kasus tadi, memang yang terlihat adalah mbak – mbak dengan baju putih, tapi ternyata kakinya menyentuh tanah. Jadi, dapat disimpulkan bahwa mbak – mbak tersebut bukanlah hantu.
“Ya gusti mbak…bikin saya jantungan saja. Untung enggak, alhamdulillah.”
“Ya habis kakaknya pakai jerit SETAAN segala, ya saya kan juga takut sama setan, kak.”
“Habisnya,..mbak ngapain coba berdiri di depan pintu kek tadi, terus malah liat ke sini sambil diam seperti patung. Siapa coba yang nggak takut dipehatikan seperti itu, mana sudah malam juga.”
YOU ARE READING
Ethereal
FantasyTugas Bahasa Indonesia :D Status : tahap hiatus karena orangnya lagi ujian, kemungkinan dilanjutkan kalau nggak lupa. "K...kenapa semua jadi begini?" Lirih Sierra dengan raut wajah yang kian pucat. Perasaannya tercampur aduk, lantaran segalanya hil...
