Prolog

25 2 0
                                        

♪ Enchanted - Taylor Swift

Hoppla! Dieses Bild entspricht nicht unseren inhaltlichen Richtlinien. Um mit dem Veröffentlichen fortfahren zu können, entferne es bitte oder lade ein anderes Bild hoch.

♪ Enchanted - Taylor Swift

•°•°•°•

"MENG!"

"Adek, jangan jauh-jauh mainnya!"

Aku berhenti berlari mengejar adikku itu dan duduk di tepi trotoar komplek perumahan kami. Lantas hanya menghela nafas lelah sembari memandang bocah kecil yang sibuk dengan sepeda roda tiganya, mengejar kucing abu-abu milik tetangga depan rumah.

Aku meringis kala perih menjalar di area lututku yang sempat terjatuh akibat mengejar Leo, adik laki-lakiku yang kabur dari rumah saat disuruh mandi sore.

Dengan tertatih aku menghampiri pancuran di tengah komplek yang berada tepat di depanku saat ini dan mencari keran air untuk membasuh kotoran pasir di lututku yang lukanya masih mengeluarkan darah segar.

Aku meringis kala dinginnya air menjalar di daging kulitku yang robek. Bahkan celana yang aku gunakan pun robek lumayan besar di bagian lututnya. Tak layak digunakan lagi. Aku memang lebih suka menggunakan celana panjang saat berada di rumah.

"Kak," sebuah suara menginterupsi membuat aku mematikan keran air dan menoleh ke belakang. Ternyata sang pelakunya. Leo tersenyum tanpa dosa, kedua tangannya yang kecil itu menggendong kucing abu-abu yang terlihat memberontak. Aku meringis melihatnya, kasihan si Meng...

Oh, Leo memang menamai semua kucing yang dijumpainya dengan nama "Meng". Yang entah sejak kapan aku juga jadi ikut-ikutan menyebut semua kucing dengan panggilan Meng tanpa pandang bulu atau gendernya.

"Kenapa?"

Adikku menggeleng lalu tatapannya turun pada lututku yang masih mengeluarkan darah. Bocah umur dua tahun itu terlihat penasaran, dan dengan polosnya mengarahkan jari telunjuknya untuk menyentuh luka itu.

"Heh, jangan dipegang!" Dengan sigap aku menghindar sebelum anak itu mungkin saja akan menekan lututku karena rasa ingin tahunya yang sedang meletup-letup. Lagipula tak sadarkah dia kalau aku begini juga karena mengejar dia yang kabur dari rumah? Dasar bocah gendut!

Lagi, Leo hanya tersenyum tanpa dosa. Tapi kala melihat aku menghela nafas gusar dia langsung menarik-narik ujung bajuku.

"Maaf, Kakak," ucapnya merasa bersalah. Tampangnya itu membuat aku tak tega. Coba beritahu aku kenapa aku lemah sekali dengan anak kecil?

"Iya, nggak apa-apa. Tapi jangan diulangi lagi ya? Lain kali nggak boleh kabur-kabur kayak gitu."

Leo mengangguk patuh. Dia memang pengertian.

See YouWo Geschichten leben. Entdecke jetzt