World Down

440 35 8
                                        

Hai,disetel ya mulmed nya karena mulmednya gambaran dari Rian ketemu Irish lohh. walau ga terlalu mirip. pokoknya disetel ajadehh hehe

•••••••

irish mengerjap-erjapkan matanyanya sembari menyesuaikan pencahayaan di ruangan itu. Irish mengusap wajahnya pelan. Bahkan ini sudah genap 2 minggu ia tinggal di Lembang tapi ia masih merasa berada di Manhattan.
Irish duduk ditempat tidur ,membiarkan kedua kakinya mengatung. Menatap pemandangan Lembang pagi hari lewat pintu kaca balkon kamarnya dengan gorden yang sudah terbuka dan tertiup-tiup angin sepoi.
Ia menoleh kebelakang dan mendapati Mia masih tertidur pulas.

Irish merasa ubun-ubunnya berdenyut. Itu artinya ia tidak cukup nyenyak dalam tidurnya semalam. Ia masih selalu sibuk berpikir. Dimana hatinya berada. Untuk siapa hatinya sekarang.
Dalam 2 minggu pun ia menonaktifkan ponselnya. Ia tidak ingin menerima panggilan-panggilan dan pesan dari Rasya ataupun Vall. Namun cara itu membuatnya malah semakin terpuruk.
ia rindu Rasya.
tapi lebih merindukan sosok Rian.

***

Irish pov

Aku menenggak segelas air putih kuat-kuat sambil memandang pemandangan Lembang pada pagi hari di balkon kamar . Betapa indahnya Indonesia. Pemandangan desa asri seperti ini tidak pernah aku rasakan di Manhattan. Yaiyalah, Manhattan merupakan kota sibuk sesibuk kota New York.

Alih-Alih merasa terganggu karena suara salakan anjing di pagi hari yang berada dibawah sana aku malah memperhatikan anjing yang sekarang tampak seperti menyalakiku.
Bagaimana seekor siberian husky bisa ada di tengah-tengah desa seperti ini?

Siberian husky berbola mata hitam pekat itu seperti menghipnotisku. Aku segera keluar kamar dengan berlari kecil. Menuruni tangga dan ketika sudah mencapai daun pintu--Bik Nahh--begitulah panggilan seorang pembantu yang bekerja disini, meneriaki namaku,

"Non Irish mau kemana?kok keliatannya buru-buru?" ujarnya dengan logat sunda yang khas. Sama seperti logat yang selalu dipakai Mia ketika berbicara--berbicara inggris sekalipun.

"uhm..., aaku ingin keluar sebentar Bik." jawabku masih dengan bahasa indonesia yang berantakan,kaku,dan aneh.

"Mau bibik bikinin sarapan apa non?"

"Its all up to you" ujarku berlalu dan berharap ia mengerti apa yang aku ucapkan.

Tidak tahu mengapa Siberian itu benar-benar membuatku tersihir untuk mendatanginya sekarang juga.

**

Siberian berbola mata hitam itu menatapku tajam. Aneh juga pikirku,karna rata-rata bola mata seekor siberian warna biru 'kan?
ia tampak menjilati mulutnya dan pergi. Lagi-lagi aku merasakan kalau siberian itu ingin menunjukan sesuatu.
Ayolah kemana akal sehatku sekarang?

Aku melewati setiap undakan-undakan tanah berumput basah dan ranting-ranting kecil.
Aku tinggal di Villa Mia yang berada hampir di puncak gunung dan terdapat hutan-hutan pinus serta kebun-kebun teh di bawah sana. Siberian itu terus berjalan, dan aku merasa kelelahan serta perih karena telapak kakiku tergores ranting pohon pinus. Kakiku hanya terbalut sandal jepit.
Tapi entah mengapa,tiba-tiba siberian itu berhenti berlari.Seakan-akan tahu bahwa aku tidak lagi mengikutinya. Ia menengok kebelakang dan menghampiriku. Lagi-lagi ia menatapku dengan tajam namun aku merasakan kelembutan. Tidak berapa lama ia menjilati telapak kakiku dan berbalik untuk mulai berlari lagi. Aku mengikutinya dengan napas yang sudah tersengal-sengal sampai ia berhenti berlari. ia berhenti total di sebuah batu besar yang dapat dipijak karena terimbun tanah dan batu itu langsung menghadap pemandangan perkebunan teh.

SNOWFLAKESDonde viven las historias. Descúbrelo ahora